Parte Eleven

1215 Words
Casya baru saja pulang setelah pergi seharian dengan Rayhan. Hari ini benar-benar menyenangkan bagi Casya. Entah kenapa sedikit banyak perasaannya membaik. Dia mengakui bahwa masih merindukan saat bersama Sky dari pada sekarang tapi tidak seharusnya diam saja. Dia harus bangkit karena masih banyak yang sayang padanya. "Astaga, gue lupa jenguk Maudy hari ini. Ya udah, besok aja deh," katanya. Dering ponselnya mengalihkan perhatian, 'nenek sayang’. Ya begitulah dia selalu merubah nama nenek dalam panggilan kontaknya. "Halo, Nek, kenapa?" "Halo. Memangnya nenek ngga boleh nelpon cucu nenek? Sekarang harus ada informasinya dulu?" sarkas wanita di seberang sana. "Ya ngga harus, sih. Cuma biasa nenek kalau ada perlu baru nelpon Asya," ujarnya meringis. "Bukannya kamu kalau ada masalah pulang ke rumah nenek? Kalau ngga pasti di apartemen sendirian. Dasar durhaka kamu!" Nenek berbicara dengan sinis tapi tetap saja Casya tidak takut. Dia hanya merasa bukan orang baik yang sering sekali mengabaikan orang tua satu-satunya. "Maaf ya, Nek, Casya beberapa hari ini sibuk nih. Weekend deh ke tempat nenek, kita bakalan ngabisin waktu berdua aja. Janji!" ujarnya. "Oke, nanti nenek tagih. Liat aja entar kalau kamu lupa. Kamu ngga nenek anggep cucu lagi!" Ketika mendengar ancaman nenek, otomatis Casya panik. "Nek, ya iya, Casya ngga bakalan lupa deh. Nenek jangan ngambek ya," pintanya. Setelah berbicara lumayan lama dengan neneknya, dia pun bergegas membasuh tubuh karena merasa sudah lengket dan bau. *** "Sebenarnya kamu sama Casya kenapa, Mas?" tanya ibu tiri Casya. Ya, dialah Rani Agustina ibu tiri Casya, istri kedua papanya dan sekarang menjadi istri satu-satunya. Mereka menikah setelah sah menceraikan mamanya. Bahkan sudah lama mereka menikah siri tanpa mamanya tahu. Kisah rumit orang tuanya membuat dia enggan untuk berhubungan lebih, kecuali itu Sky. Tapi sekarang, rasanya dia ragu sekali lagi untuk melangkah lebih jauh. "Tidak ada. Kami tidak ada apa-apa," ujar ayahnya tenang. "Tapi kenapa kalian tidak pernah akur? Kamu tidak pernah menjelaskan padanya apa yang terjadi?" "Dia tidak akan mau mendengar. Sudahlah, dia sudah dewasa. Tidak perlu terlalu khawatir seperti itu." "Aku biasa saja. Kamu yang khawatir. Kamu tidak sadar kalau kamu memperhatikan dia dari jauh? Dan anakmu itu tidak sadar sama sekali bahwa ayahnya menyayanginya!!" teriaknya frustasi. "Sudahlah. Diamlah, Rani! Jangan pernah buat aku menyesal mengambil keputusan yang salah," geramnya. Setelah mengatakan itu, ayah Casya, Tuan Bramantyo, pergi dari hadapan istrinya. Rani hanya bisa terpekur akan kenyataan bahwa dia juga salah. Mencintai suami orang memang salah. Tapi, perasaannya dan ayah Casya saat itu sedang menggebu. Seandainya dia juga tidak berlaku terlalu curang mungkin semua tidak akan begini. Dia mengakui terlalu tamak dan egois. Tapi, terlalu banyak tapi dan seandainya dalam hidup ini tidak akan bisa mengembalikan apa pun. Tapi apalah daya, manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang mengatur. Akhirnya lagi-lagi dia kalah dan salah. Dia menghela napas dan menyerah membujuk suaminya yang keras kepala sama seperti Casya anak sambungnya. *** Bunyi notifikasi gawainya mengalihkan perhatiannya setelah keluar dari kamar mandi. Sky calling you… Sky? Buat apa dia menelpon, pikirnya. Seharian dia menghabiskan waktu dengan Rayhan berharap lupa dengan masalah yang ada. Kenapa? Ya kenapa si sumber masalah ini yang justru semakin mendekat? Pesan masuk Sky : Sya, kamu di mana? Besok kamu sibuk? Tidak menanggapi panggilan Sky, justru sebuah pesan kembali masuk berdenting memecah keheningan malam. "Aku sungguh suka kamu, benar suka kamu." Casya menyanyikan salah satu lagu penyanyi terkenal. "Ya kali gue suka tapi dianya enek. Yah, move on dong, Sya!" perintahnya pada diri sendiri. *** Pagi hari Casya sempat mampir ke restorannya sebelum ke kantor. Dia terkejut ketika seorang Sky menunggu di dalam ruangannya. "Harusnya kamu ganti desain dan warna interior ini." "Kenapa? Ini juga bagus kok." "Putih? Kamu ngga cocok dengan warna putih, Sya," ucap Sky "Why?" "Ya, ngga cocok aja." Sky mengedikkan bahu tanda terserah. "Lalu aku harus memakai warna pink seperti anak abege kebanyakan? Begitukah, Bapak Sky Blue yang terhormat?" "Kenapa terdengar sarkas ya?" kata Sky memicingkan matanya. "Perasaanmu aja deh." "Kemarin kamu ke mana? Dan bersama siapa?" "Semalam?" kata Casya mencoba mengingat. Ah ya, dia semalam pergi bersama Rayhan ke Bogor. Melihat sawah dan kebun lalu bermain di saung. Menyenangkan bermain bersama alam ternyata. "Oh ….itu…." Casya menjeda perkataannya. Dia mencoba mencerna mengapa Sky bertanya. Apakah dia khawatir? "Hei, hello!!! Masih kah Nyonya Casya di sini?" tanya Sky. "Ish, ya masih lah. Menurut kamu aku kemana emang?" sinisinya. "Mana kutau. Hanya tubuhnya di sini, pikirannya enggak." "Huh, bisa aja. Kenapa ke sini? Kalau cuma buat mengomentari kantorku, kayanya kamu terlalu enggak ada kerjaan deh. Karena tidak mungkin seorang Bapak Sky datang hanya untuk mengomentari orang lain apalagi kantor mereka. Kita lagi ngga ada kerja sama juga, ‘kan? Hanya untuk memberi saran? Sepertinya aku tidak yakin," ujarnya memicingkan mata mencoba mendalami isi pikiran Sky, terlebih pikirannya sendiri. Dia tidak yakin bisa kuat menghadapi lelaki ini terus menerus padahal dia tahu isi hati Casya. Bepura-pura bodoh untuk hal yang menyakitkan. Mereka sama. Sama-sama saling menyakiti untuk hal yang seharusnya mereka sendiri bisa menyelesaikannya. Tapi, namanya urusan hati, siapa yang tahu? "Hem… tidak ada. Hanya ingin bertanya saja," ujarnya membuka lembaran kertas di depan meja kebesaran Casya. "Aku hanya bertanya kemana kamu pergi semalam. Dan ingin mengajak makan siang, lalu setelahnya menjenguk Maudy karena dia akan kembali ke rumah dan menetap untuk beberapa lama di Bandung. "Jika aku tidak mau?" tantang Casya. "Sepertinya kamu tidak punya pilihan, sebab Maudy yang menyuruhku membawamu padanya," jelasnya. Casya mengerucutkan bibirnya tanda protes tapi tetap saja apa peduli mereka? Mereka bahkan tidak mengerti. Dasar pecundang. "Makan siang lalu menjenguk Maudy. Hanya itu. Janji?" Dia mengangkat jari kelingking berharap Sky menyambutnya. Sky tidak langsung menanggapi tapi dia hanya mengangkat sebelah alisnya. "Buat apa?" tanyanya bingung. "Ya, ngga ada. Mana tahu kamu bohong mau culik aku," katanya. "Aku kan ngga tahu lagi gimana perasaan dan hati kamu. Bisa aja aku kamu jual" Dia seolah berekspresi takut. Bukannya malah kasian atau apa, Sky justru menertawakannya. Menoyor kepalanya. "Ngawur kamu!" ujarnya. "Ouw, sakit tau!!" kesalnya. "Pikiran kamu aneh. Kamu lagi kumat ya?" "Heh, enak aja! Aku waras tahu!" ujarnya merajuk. "Aku jemput kamu nanti. Ngga usah datang duluan." "Kenapa?” "Apanya?" "Kenapa harus sama kamu? Apa aku ngga bisa ketemu Maudy lebih dulu?" ucapnya. "Boleh. Maksudnya makan siang. Nanti kita sama-sama." "Kalau aku ada janji dengan orang lain, bagaimana?” "Pria or wanita?" tanya Sky penasaran. "For what?" "Hanya bertanya, Casya. Hati-hati memilih teman, jangan sampai salah. Apalagi pria" Entah apa yang merasuki Sky sampai bicara panjang lebar dengannya. Biasanya dia malas menasehati Casya. "Maksud kamu dengan pria sepertimu?" Dia menunjuk Sky yang kebingungan dengan ucapannya. Casya meletakkan tasnya di kursi dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap Sky, bersandar di meja dengan tangan bersedekap. "Kenapa harus sarkas?" tanya Sky mengabaikan Casya mengambil sebuah pigura yang terletak di atas meja. "Harusnya orang yang dalam gambar ini bisa merangkai kisahnya masing-masing," Dia sengaja memulai cerita. Casya tahu siapa orang yang berada dalam frame tersebut pun memposisikan dirinya melihat Sky dan pigura itu secara bergantian. "Maksudnya?" "Ah, bukan apa-apa. Hanya bernostalgia dengan masa lalu dan setelah menyadari bahwa ternyata kita tidak harus terjebak dengan perasaan yang semu." "Fatamorgana maksudnya?" komen Casya. "Itu kan aku dan kamu. Bukankah kita sama? Menyukai orang yang tidak bisa digapai?” "Ah, sampai jumpa nanti, Sya." Sky pun pamit melanjutkan langkahnya. Casya hanya termenung dengan keadaan mereka. Tidak seharusnya mereka kalah dengan perasaan yang hanya sebuah fatamorgana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD