Pesan Buruk Untuk Kana

1137 Words
"Laki-laki monster itu benar-benar tidak waras menahanku di sini. Ayo dong Kana, pikirakan jalan keluarnya!" Gadis itu mondar mandir di depan tempat tidurnya. Dan karena lelah, akhirnya Kana beralih duduk di atas tempat tidurnya. Otak encernya mendadak beku karena memikirkan rencana pelarian dari kamar yang lebih tepatnya penjara itu. "Aha!" Kana menjentikkan tangan seakan otak encernyanya telah mendapatkan sebuah ide brilian, "Ternyata ada gunanya juga nonton film sinetron Indonesia yang sering aku lihat. Hehehe .... " Senyum smirk terumbar di wajahnya. Namun, tiba-tiba Kana melihat ke arah Cctv yang ada di setiap sudut kamarnya. Tatapannya sinis dan was-was seketika. Tak lama Kana berdehem lalu berkata, "Ah, aku rindu nonton sinetron. Aaa- aduh, perutku sakit!" Kana secepat mungkin berlari masuk ke dalam kamar mandi, di sanalah dia bisa bernapas lega. "Hais, kenapa juga aku sampai lupa kalau di kamar itu bayak mata dan telinga yang bisa mendengar rencanaku. Aku tadi sudah bilang rencanaku atau gak ya? Ah, kayaknya belum deh. Syukurlah ...." Mengelus dadanya yang masih belum sepenuhnya tenang. Kana menormalkan detak jantungnya dan keluar dari kamar mandi, berusaha setenang mungkin agar tak dicurigai. Ketika Kana akan duduk di tempat tidurnya, tiba-tiba telinga Kana yang sangat peka langsung mendapat radar berbahaya yang mendekat ke arahnya. Kana berlari ke arah pintu kamar dan menempelkan telinga di daun pintu. Kana mendengar bunyi kunci yang di putar lalu ganggang pintu yang di buka. "Aaw!" Pekikan itu terdengar ketika pintu yang tiba-tiba terbuka dan tak sengaja mengenai dahi Kana. "Eh, Kamu nggak apa-apa?" Suara seorang gadis berucap khawatir dan mendekati Kana dengan cepat kala menyadarinya. Kana mengusap dahinya dua kali lalu segera menyingkirkan tangannya dari sana, dan menggeleng cepat, "Aku oke, kok," jawabnya. Kana berjalan menuju tempat tidur dan duduk di bibir ranjang. Keadaan menjadi sunyi saat dua orang gadis itu tak ada yang berbicara. Kana melirik sekilas pada gadis yang terlihat muda darinya itu dengan was-was. Kini gadis itu telah ada di hadapannya. "Kenalin nama aku Naoni, Adik dari Kak Zaro." Mata Kana langsung melotot dan naik ke atas ranjang seraya mengambil bantal guling sebagai senjatanya bila nanti Naoni tiba-tiba menyerang dirinya, dia bisa menggunakan bantal itu untuk memukul. "Hei, tenanglah. Aku tidak akan berbuat jahat padamu. Ayo turun dari sana, kita duduk di sofa dan bicara baik-baik ya?" 'Aku harus waspada pada orang di sekitarku. Apalagi dia adalah adik dari Monter itu. Berarti gadis ini juga bisa mencelakai aku!' "Kamu pikir aku akan percaya? Kakakmu itu hampir saja membunuhku, bagaimana denganmu? Aku yakin kamu juga akan membunuhku, kan?" Ucap Kana. "Aku memang adiknya tapi, percayalah aku tidak seperti itu. Lagipula aku masih sekolah 3 SMA, tak ada catatan kelakuan buruk atau sampai membunuh di buku hitam guruku. Aku anak yang baik," ungkapnya menunjukan senyuman lebar hingga menampakkan giginya yang putih dan sehat. Kana diam sejenak mengamati Naoni dari atas sampai bawah, 'Dia memang terlihat seperti anak yang polos dan baik. Apa aku harus percaya, ya?' Pelan-pelan Kana mulai percaya. Kini dia turun dari ranjang setelah menaruh bantalnya kembali. Naomi masih menunjukkan senyumannya melihat perubahan sikap Kana, meski gadis itu masih terlihat takut dengannya. "Ayo, Kak," Naoni langsung menangkap tangan Kana dan membawanya menuju sofa. "Sebenarnya, aku ke sini karena mengetahui dari salah satu pelayan jika Kak Zaro mengurung seorang gadis di ruangan ini," Naoni menjeda ucapannya dan menatap wajah Kana, "Apa Kak Kana tau ruangan apa yang Kakak tinggali ini?" "Penjara?" Jawaban Kana yang cepat membuat Naoni menggaruk belakang kepalanya. "Yah, aku juga ingin bilang ini adalah kamar penjara. Hah, memangnya apa yang Kakak buat hingga Kak Zaro mengurung Kakak di sini?" "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya melihatnya menyakiti seseorang lalu aku memotretnya dan ingin melaporkannya ke polisi." Sontak mata Naoni membola dan dia berdiri dari duduknya. "Jadi ini alasannya!" Naoni mengubah tatapannya menjadi tajam, "Pantas saja Kak Zaro mengurung kamu di sini! Ternyata kamu yang membuat masalah!" Kening Tufa mengerut dalam mendengar Naoni yang menyalahkan dirinya. Gadis yang tadi berucap ramah itu berubah menjadi kasar dengan tatapan yang penuh kemarahan. "Aku tidak membuat masalah! Aku hanya melakukan apa yang benar. Kakak kamu adalah orang yang jahat yang pantas di penjara, kamu pikir menyakiti orang itu tindakan yang benar? Itu adalah kasus kriminalitas, Naoni!" Kata Kana dengan tegas. "Apa yang kamu mengerti dari Kakakku? Yang aku tau, dia selalu melakukan apa yang benar. Dan dia selalu mempunyai alasan kenapa dia menyakiti orang! Sekarang, inilah hukuman yang layak kamu terima atas niat jahatmu!" Naoni berjalan menuju pintu masuk, dan sebelum dia keluar gadis itu berbalik lagi untuk menatap Kana. "Selamat tinggal." Lalu pintu itu terkunci lagi. Kana mengusap wajahnya seiring dengan napas panjang yang keluar dari mulutnya, "Astagfirullah ... Aku hampir saja percaya dia gadis yang baik. Ternyata ... Tak ada bedanya dengan kakaknya." *** Beberapa hari berlalu dan tak terasa Kana telah tinggal di mansion itu selama satu minggu. Kalian tau kan betapa bosan dan frustasinya dia di kurung di tempat itu? Dan, dia juga memikirkan keadaan Neneknya, yang seharusnya seminggu lalu Kana telah berada di negara kelahirannya untuk bertemu dengan keluarga satu-satunya. Tapi, karena bernasib buruk, dia malah menjadi tahanan seorang mafia kejam. Tok ... Tok ... Tok .... Setalah pintu itu di ketuk, pintu pun terbuka dan menampakkan sosok Roand di ambang pintu. Laki-laki yang merupakan tangan kanan Zaro terlihat membawa kotak merah besar di tangannya. "Mau apa kamu ke sini!" Teriak Kana menatap Roand dengan tatapan mematikan. "Maaf, Nona. Saya ke sini untuk menyampaikan pesan penting untuk Nona," Ucap Roand dengan nada sopan. Dia bahkan menunduk pada Kana. 'Di mana sikap kasarnya waktu itu? Jika aku bisa, ingin sekali aku memukul kepalanya dengan wajan supaya ingatannya itu bisa kembali,' omel Kana dalam hati. "Pesan penting apa itu?" "Silahkan Nona buka kotak ini. Di dalamnya ada surat dan Nona bisa tau tentang pesan itu," kotak merah itu di berikan pada Kana, lalu gadis itu menerimanya setelah diam beberapa saat karena ragu. Kana menuju ranjang dan dia membuka kotak tersebut. Garis halus di keningnya nampak setelah melihat gaun merah ada di dalamnya bersama sebuah surat dalam amplop merah. Tak menunggu lama Kana membukanya dan membaca isi surat itu. "Apa maksudnya semua ini!" Teriak Kana melempar surat itu ke sembarang arah dan menatap tajam pada Roand. "Saya rasa pesan itu sudah sangat jelas, Nona. Besok saya akan menjemput Nona untuk makan malam bersama Tuan Zaro," jawab Roand. "Aku rasa Tuan mu itu gila! Aku tau, kalian pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk untukku, kan? Dasar Monster!" Jerit Kana. 'Jika bukan karena perintah Tuan Zaro, aku tidak akan segan-segan untuk menyiksamu gadis licik.' gumam Roand dalam hati. "Maaf, perlu saya ingatkan, Nona harus menjaga perkataan dan perilaku anda di sini. Karena jika saya kehilangan kesabaran, saya tidak akan menahan diri lagi untuk menjadi mimpi buruk Nona. Permisi ...." Kana mematung di tempat mendengar ucapan Roand. 'Dia masih orang yang sama kejamnya seperti waktu itu' -Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD