Restoran Melati di sore hari itu begitu lenggang. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring dari meja lain, samar-samar terdengar. Namun bagi Dira, suasana justru terasa menyesakkan. Bukan karena sepi, tapi karena sosok yang duduk tepat di hadapannya. Sejak awal, Dira memilih menundukkan kepala. Ia takut jika matanya bertemu dengan tatapan tajam milik Dominic—tatapan yang membuatnya mengingat kejadian penculikan dirinya tempo hari lalu. Jemarinya saling meremas di pangkuan, berusaha menyalurkan kegelisahan yang membuncah. “Aku sudah mendengarkan rekaman suara itu,” ucap Dominic akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi menekan udara di antara mereka. Suaranya datar, tanpa nada tinggi, tapi justru itu yang membuat Dira semakin gugup. Dira menelan ludah dan hanya mampu menganggu

