“Kamu nggak apa-apa kan?” suara Dominic terdengar parau, sarat dengan nada khawatir. Jantungnya masih berdegup kencang, seolah-olah tubuhnya belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan bahwa ia hampir terlambat melindungi Sani. Hanya membayangkan kemungkinan buruk yang bisa menimpa Sani—dan bayi mereka—sudah cukup membuat darahnya berdesir tak karuan. Sani menatapnya, sedikit tercengang dengan ekspresi Dominic yang begitu serius. Ia menarik napas perlahan lalu mengukir senyum tipis. “Aku nggak apa-apa,” ujarnya lembut, mencoba menenangkan pria itu. Dengan ragu, Sani mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas tangan Dominic. Sentuhan itu ringan, namun terasa begitu menenangkan. “Aku benar-benar nggak apa-apa, Dom,” bisiknya lagi, seolah ingin meyakinkan. Tatapan Dominic jatuh ke tangan

