Saat mereka tengah asyik menikmati makanan, tiba-tiba terdengar ketukan dari arah pintu kos Sani. Sani yang sedang duduk bersila di lantai langsung menghentikan gerakannya. Tanpa berkata apa-apa, ia bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah pintu. Sani membuka pintu kosnya perlahan. Namun, begitu melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya, matanya langsung terbelalak, nafasnya tercekat. “Putri?” gumam Sani nyaris tak bersuara. Ya, benar. Orang yang berdiri di depan pintu kos Sani sekarang adalah Putri. Putri berdiri tegak, wajahnya datar tanpa ekspresi. Rambutnya tertata rapi, dan pakaian yang dikenakannya tampak mewah dan berkelas, sangat kontras dengan penampilan Sani yang masih tampak lusuh. Putri tersenyum miring, “Hai, Sani. Udah lama ya kita nggak ketemu.” Nada bicara Putri t

