Laki-laki itu punya satu kamar khusus untuk dirinya. Dia biasa menggunakan untuk sekadar beristirahat, menginap jika malas pulang ke rumah, juga untuk menunjang kegiatan bercintanya bersama para wanita. Entah sudah berapa puluh wanita masuk ke sana. Puluhan? Atau mungkin ratusan?
Judas termasuk tipe pemilih. Tidak sembarang wanita dia ajak ke kamar dan b******a. Cantik, jelas merupakan sebuah keharusan. Selebihnya, harus smart, punya karakter yang kuat dan menonjol. Cantik tapi bodoh, hanya akan membuat gairah Judas kabur seketika.
Kamar luas berukuran sekitar seratus meter persegi itu menjadi saksi bisu panasnya kehidupan asmara Judas, sang pemburu. Dia berburu dengan cara yang teramat elegan. Bukan mengejar apalagi memaksa. Dia cukup memindai, mengintai, menunjukkan pesona serta pengaruhnya.
Wanita, rekan bisnis, peluang, semua akan datang dengan sendirinya. Kekuatan Judas dalam mengintimidasi situasi, seolah semesta pun ikut tunduk dan takluk pada kuasanya. Pengaruh laki-laki ini memang teramat dahsyat. Apa pun dan siapa pun yang dia inginkan, akan datang menyerahkan diri dengan sukarela.
Seperti malam ini, Judas membanting tubuh Brenda ke atas ranjang, menghempaskan dengan keras. Begitulah sikap laki-laki itu ketika gairah telah menggelegak. Kasar, agresif, arogan, walau sesekali dia lebih suka diam dan menikmati pelayanan para wanita pemujanya.
Entah kenapa, sikap kasar dan agresif itu justru menjadi daya tarik tersendiri dari seorang Judas Ellington. Sesuai zodiaknya, Leo. Dia cenderung menguasai dan memonopoli, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun percintaan.
“Kamu lagi pengen banget, kan? Buktikan!” tantang Judas, kemudian menindih tubuh sintal Brenda.
Laki-laki itu memburu bibir merah merekah Brenda dengan ganas. Sesekali menggigit bibir bawah wanita itu, membuat Brenda melenguh keras, mengerang sembari mengejang. Brenda membalas serbuan itu dengan tidak kalah ganasnya. Tangan kiri menjambak rambut Judas, sementara tangan kanan mencengkeram erat punggung laki-laki bertubuh tegap itu, membuat kemejanya kusut berantakan.
Permainan terus berlanjut dengan panas dan ganas hingga tak satu pun benang yang melekat di tubuh mereka berdua. Basah di mana-mana. Bukan hanya di sekujur tubuh, tetapi juga membasahi kain sprei yang hanya bisa pasrah, diobrak-abrik oleh dua manusia yang sedang gila b******a itu di atasnya.
“Aku mau sekarang, Jud. Please .... Do it now!” Brenda berujar dengan tatapan memohon setelah rahang mulai lelah memberikan pelayanan dari tadi. Tidak hanya di mulut Judas, tetapi juga di bagian rahasianya. Segumpal daging yang selalu jadi kebanggaan pria tersebut.
“Wait, aku ambil pengaman dulu, ya.” Judas beringsut ke kiri, meraih laci nakas, lalu menarik kenopnya.
“Sial. Sudah habis,” ujarnya lagi dengan wajah bersungut-sungut.
“Ya, sudah. Kita lakukan tanpa pengaman saja, Jud,” ujar Brenda kalem. Dia tidak akan keberatan melakukan itu, selagi gairah bisa terlampiaskan. Kalaupun pada akhirnya nanti dia hamil, kenapa tidak? Punya anak dari seorang putra mahkota kerajaan Monaghan yang tampan, kaya raya, juga sangat jantan di atas ranjang, siapa yang tidak mau? Banyak wanita yang selama ini memang terus merayu Judas untuk melakukan hubungan badan tanpa menggunakan pengaman. Tentu saja, tujuan mereka adalah bisa hamil anak Judas. Namun, Judas selalu berhati-hati. Setinggi apa pun gairah menguasai dirinya, tetap tidak bisa membuatnya lupa pada benda pengaman satu itu.
“No way! Aku nggak mau, Brenda. Tanpa pengaman, nggak bakal ada percintaan!” tegas Judas sambil melirik ke arah penunjuk waktu yang menempel di salah satu dinding kamar.
Pukul sebelas malam. Tidak mungkin ada mini market yang masih buka jam segini di sekitar sini. Dia lupa, beberapa hari lalu dia sudah menghabiskan stok pengaman karena b******a beberapa babak dalam satu malam dengan Donna, salah satu pelayan di kasino miliknya.
Nemville memang kota besar, tetapi di malam hari, hanya tempat hiburan, kasino, dan beberapa kafe saja yang masih buka. Kota ini menawarkan ketenangan bagi orang-orang yang tidak menyukai aktivitas malam. Semua golongan masih bisa hidup berdampingan dengan nyaman.
Mereka tidak saling ganggu. Semua bisa saling menghargai dan menjadikan Nemville sebagai kota yang tenang dan damai untuk dihuni oleh siapa pun dan dari kalangan mana pun. Yang jelas, harus berduit karena biaya hidup di kota ini tidaklah murah. Semua serba mahal. Ya, sebanding lurus dengan semua fasilitas serta kenyamanan yang ditawarkan. Jangan lupa, keamanan di sini juga sangat terjaga. Gaya hidup yang tinggi, tentu membutuhkan biaya yang tinggi pula, kan? Harga yang sepadan.
“Tapi, aku lagi pengen banget, Jud.” Brenda terus memelas.
“Tapi aku nggak akan pernah melakukannya tanpa pengaman, Brenda. Never!” Judas mendorong pelan tubuh Brenda yang sedang menindihnya. Dia bangkit dari ranjang, lalu memungut kemejanya.
“Wait, Jud. Aku ... hisap saja, ya?” Kalaupun tidak mendapatkan percintaan penuh, setidaknya Brenda masih bisa mencicipi cairan cinta dari pria tersebut.
“Kamu nggak keberatan?” tanya Judas setelah berpikir sejenak.
Brenda menggeleng. Dia beringsut mendekat, lalu melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda. Hampir tiga puluh menit berlalu hingga sebuah hentakan keras dibarengi erangan khas dari Judas mengakhiri semuanya. Laki-laki itu membenamkan wajah Brenda dalam-dalam ketika tiba di puncak kepuasan.
“Arrrggh ....”
Dengan napas terengah-engah, Judas melepaskan kepala Brenda begitu saja. Tepat setelah itu, telepon genggamnya berdering. Nada dering yang sudah sangat dia kenali. Itu dari Josh, sekretaris pribadinya.
Tidak biasanya Josh menelepon malam begini. Pasti ada sesuatu yang penting. Buru-buru Judas meraih telepon genggam yang tadi sempat dia letakkan di atas meja kamar, dekat televisi.
“Halo, Josh. Ada apa?”
“Selamat malam, Tuan. Maaf saya mengganggu. Pabrik makanan di Moresby terbakar. Sepertinya ada yang sengaja mencari gara-gara dengan kita.” Sebuah suara berat terdengar panik di seberang sana.
“Kita ketemu di sana, Josh. Aku bawa mobil sendiri dari kasino.” Judas buru-buru mengenakan pakaian.
Jarak dari Nemville ke Moresby sekitar dua jam perjalanan. Sudah larut malam, jalanan pasti sangat sepi sekarang ini. Ditambah lagi, kepiawaian Judas mengendari mobil sport tidak perlu diragukan lagi. Waktu tempuh dua jam normal, pasti bisa dia pangkas jadi sekitar 45 menit hingga satu jam saja.
“Brenda, I’m so sorry. Aku harus segera pergi. Kamu boleh menginap di sini kalau kamu mau.” Judas menatap ke arah Brenda yang sudah berpakaian lengkap lagi.
“Tidak perlu, Jud. Aku pulang saja. Pergilah, hati-hati di jalan. Aku boleh merapikan dandanan dulu di sini, kan?”
“Silakan. Aku pergi dulu, ya.” Judas mendekat, mengecup sekilas kening Brenda. “Bye.”
“Bye, Jud. Hati-hati di jalan!” teriak Brenda sambil menatap punggung itu menjauh. Punggung yang sangat dia inginkan dalam hidupnya. Namun sayang, laki-laki itu terlalu angkuh untuk mengenal cinta dan berdiam pada satu hati. Judas lebih suka berkelana dan menjajal wanita mana saja yang belum pernah dia coba.
Sempurna. Selamat tinggal, Judas tercinta. Brenda tersenyum sinis. Senyum kemenangan. Dia yakin bahwa rencananya malam ini pasti akan berhasil.