“Jadi begitu....... Ah, maafkan sikap anakku yang sudah menyusahkanmu, atau sikapku yang membuatmu takut tadi,” ujar Steve menyesal. Vaye telah menguntai kata yang tepat tanpa kebohongan untuk memberitahu semua orang kejadian yang sebenarnya, sementara Nave hanya bisa memilin bajunya gelisah karena nyatanya dia memang bersalah di sini. “Nave....” Saat Steve memanggil, tubuh anak itu sampai tersentak saking kagetnya. Matanya memandang Steve penuh rasa bersalah. Sungguh, Nave tidak pernah tahu bahwa kepergiannya bisa membuat Sang Papa sampai histeris begitu. Sekuat apa pun anak itu bertingkah, dia tetaplah anak berusia tiga tahun yang bahkan belum pernah bersekolah. Steve memerhatikan anaknya dengan baik, sedikit bersalah juga telah membuat anaknya ketakutan seperti sekarang. “Papamu...

