Mata itu perlahan terbuka setelah sekian lama. Mengerejap pelan saat sadar di kamar mana dia berada sekarang. Tentu saja Vaye sadar, apalagi jika si pemilik kamar tengah berdiri dengan rambut basah sehabis mandi ditambah hanya mengenakan bathrobe didepannya. Satu lagi, lelaki itu sedang memerhatikan wajah bangun tidurnya dengan lekat. “Sepertinya para pelayan berhasil menghilangkan bengkak di matamu. Apa kamu merasa tidak nyaman?” tanya Lussac perhatian. Vaye menggeleng pelan, masih sibuk menenangkan jantungnya yang berdetak gila. “Bibirmu pucat, apa kamu demam?” Lussac bertanya sambil menempelkan dahinya pada dahi Vaye, sukses membuat wajah pucat itu berubah menjadi semerah kepiting rebus. “Kamu sedikit panas. Aku akan memanggil-” “TUNGGU!” potong Vaye cepat. Dia tidak demam, sunggu

