“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“....... Steve? Kamu tahu kan Al itu benar-benar membutuhkanmu di rumah?”
Ucapan Lussac terdengar sarkas, memandang Steve dengan tatapan menusuk di acara mewah tersebut.
“Al yang memaksaku datang. Dia bahkan sampai menangis karena merasa dirinya lagi yang membuatku menjadi jarang berinteraksi dengan orang lain. Aku tidak memberitahunya, Al sendiri yang melihat acara ini di televisi dan tahu aku pasti diundang. Brit sedang bersamanya sekarang, menjaga Al dan juga anakku. Selama aku pergi, tidak ada yang boleh keluar atau masuk ke rumah dengan pengamanan tertinggi. Seluruh bodyguard sudah kutugaskan di sekeliling rumah. Kamu tahu bagaimana Al jika memaksa Lu, aku tidak suka melihatnya menangis. Dia istriku,” jelas Steve tenang.
“Brit telah kembali?” kini giliran July yang bertanya. Putrinya tidak pernah mengatakan apapun tentang kepulangannya, tipikal Brit sekali.
Steve mengangguk. “Al memaksa bahwa dia akan tidur cepat bersama Nave dan tidak akan menyusahkan Brit. Aku akan pulang cepat, yang terpenting Al tahu aku sempat datang ke acara ini.”
Wajah Gena berubah sedih, membuat Vaye bertanya-tanya siapakah Al yang mereka libatkan ini.
Lussac menghela nafas panjang. Vaye tahu, Alpha ini pasti sangat memperhatikan orang bernama Al tersebut.
Dan entah kenapa, ada sedikit perasaan kesal saat sadar Lussac masih memperhatikan orang lain selain dirinya.
Vaye masih diam mendengarkan perdebatan tersebut. Mereka berdebat, namun terlihat seperti obrolan kecil bagi orang lain. Mereka menjaga sikapnya dengan sangat baik, dan Vaye hanya bisa diam dan memperhatikan.
Dia tidak pernah terbiasa dengan kebiasaan seperti ini. Pengetahuannya sama dengan kalangan menengah kebawah walaupun warna matanya menunjukan bahwa Vaye seorang Omega kelas atas.
Lussac akhirnya sadar Vaye tengah menahal kesal yang dia pikir, karena Vaye menjadi patung hiasan sedari tadi. Lussac mengajak Vaye ketempat sepi, tidak terlalu sepi namun cukup nyaman bagi mereka untuk bicara.
“Kamu bosan?” tanya Lussac perhatian. Vaye menggeleng pelan, dia bahkan belum cukup puas mengagumi acara seperti ini.
“Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan tadi. Kamu....... Tampaknya sangat memperhatikan seseorang bernama Al tadi.”
Tanpa sadar, suara Vaye terdengar seperti merajuk di akhir kalimat. Entahlah, Vaye tidak sadar sepertinya.
“Kamu cemburu?” goda Lussac kecil. Kali ini dia tidak marah saat seseorang merajuk karena dia terlalu memperhatikan Al. Tidak, Lussac suka melihat Vaye tengah merajuk seperti ini.
Vaye segera menggeleng cepat, mengalihkan pandangannya sebisa mungkin ke arah lain.
Mana mungkin ia suka pada Alpha pemaksa seperti Lussac….
...... Kan?
“Baiklah. Al adalah adik bungsuku, Alkana Hydro Tritas, jika kamu ingin tahu nama panjangnya.”
Menyerah, Lussac memutuskan untuk tidak menggoda Vaye lebih jauh lagi.
Vaye ingat. Lussac merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saudara keduanya seorang Alpha, berarti Al itu.....
“Dia adikmu yang itu?” tanya Vaye memastikan. Suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya.
Lussac mengangguk. “Ya, dan Steve itu suaminya. Adikku memiliki anak berusia tiga tahun bernama Nave. Coklat yang waktu itu kubeli semua untuknya. Dia tidak bisa keluar rumah untuk suatu alasan, jadi aku yang membelikannya semua itu saat suaminya tidak bisa. Maaf aku menghabiskannya saat itu, aku tidak tahu banyak yang menginginkan coklat itu juga. Aku akan mengenalkannya padamu kapan-kapan.”
Mereka tidak bicara lebih jauh lagi, saat musik di dalam ruangan terdengar semakin meriah tanda acara telah dimulai sedari tadi.
“Mau masuk ke dalam? Kita akan duduk bersama dengan keluargaku.”
Vaye mengangguk singkat. Mereka kembali masuk, mencari tempat duduk yang telah disiapkan kru acara dan menikmati berbagai penampilan yang ada. Vaye tidak pernah menyangka, bisa duduk seruangan dengan orang-orang penting dan seniman-seniman hebat seperti sekarang. Itu sangat hebat, sampai mata Vaye tidak berhenti bersinar di sana.
Seorang MC naik ke panggung. Seorang Alpha tampan yang mengenakan pakaian menawan.
“Sebelumnya, kami cukup sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang membanjiri kru kami sebelum acara ini dimulai. Mereka penasaran mengenai satu hal disini, dan sejujurnya, bahkan saya juga penasaran dengan kabar burung ini. Tuan Lussac Garlos Tritas, tamu kehormatan acara ini datang dengan mesra bersama seorang pria tampan yang menggunakan cincin pasangan. Semua orang bertanya-tanya akan hal ini. Well, bisakah Tuan Lussac memberikan kita pemahaman yang benar mengenai kabar burung ini?”
Jantung Vaye rasanya akan copot saat itu juga ketika MC tersebut tiba-tiba mengangkat masalah ini. Vaye lupa, ajang awards ini juga senang menyorot kehidupan para pengusaha, yang berarti Lussac juga termasuk ke dalamnya.
Apalagi untuk Alpha elit sepertinya. Kenapa Vaye bisa lupa akan hal ini?!
“Bedirilah Sayang. Temani aku ke atas panggung,” bisik Lussac rendah didekat telinga Vaye. Anak itu patuh berdiri, walau kakinya terasa seperti jelly saat ini.
Beruntung Lussac mau memegangi pinggangnya, yang mengundang tatapan semakin penasaran bagi sebagian orang.
Suasana awards berubah sunyi. Lussac meraih mic yang terpasang di panggung dan mulai berbicara.
“Perkenalkan, dia tunanganku Vaye. Kami sudah resmi bertunangan sejak seminggu ya lalu, secara sederhana. Pemerintah telah menyusun data perjodohan kami dan ya, hanya dia yang akan menjadi mate sejatiku.”
Suara Lussac saat memegang mic terdengar jelas dan lugas. Vaye mengigit bibirnya resah, apa-apaan dengan semua keheningan ini?
Pok pok pok
Perlahan suara tepuk tangan mulai membahana. Beberapa orang terus meneriaki mereka dengan ucapan 'selamat atas pertunaganmu' atau 'akhirnya kau membuktikan kau bukan aseksual Lussac' atau tangisan kecil seperti 'sudah tidak ada lagi harapan bagiku'.
Tapi tidak ada yang menyinggungnya. Vaye benar-benar bersyukur akan hal itu. Beberapa tamu undangan masih sibuk memberinya ucapan selamat, sementara acara telah berganti ke acara bebas dimana beberapa orang berdansa diiringi musik walzt. Gena, Ryan, Rod, dan July juga ada di lantai dansa. Sementara Steve telah menghilang entah kemana di tengah acara tadi. Lussac tebak, lelaki itu benar-benar menepati janjinya dan segera pulang ke rumahnya.
“Bersedia untuk berdansa denganku?” tanya Lussac gentle. Dia telah beberapa kali mengajak perempuan atau Omega baik-baik untuk berdansa di acara seperti ini. Tapi kali ini spesial, yang dia ajak menari adalah orang yang belum lama ini selalu mengisi hatinya dan membuat darah Alphanya berteriak penuh gairah.
Vaye segera menggeleng kuat. Tidak, Vaye tidak bisa berdansa. Dia tidak mau mempermalukan Lussac di sini.
“Aku tidak bisa berdansa. Aku tidak mau mempermalukan siapa pun di sini,” tambah Vaye pelan. Namun nyatanya sebuah tangan tetap menggengam tangannya erat, menariknya menuju ke tengah lantai dansa. Well, Vaye harusnya ingat. Lelaki ini sama sekali tidak menerima penolakan.
Lussac membimbing Vaye pelan, bergerak kesana-kemari mengikuti arama melow musik yang ada. Setelah beberapa waktu, pikiran Vaye akhirnya tenang kembali. Sejauh ini, belum ada kesalahan besar yang dia perbuat.
Vaye mendongkak untuk melihat wajah lembut Lussac. Bagaimana bisa wajah ini waktu itu membuat muka dingin saat Vaye menyinggung masalah adiknya? Steve, lelaki itu juga tidak ada di lantai dansa sekarang.
Vaye sedikit penasaran dengan kehidupan Omega yang sempat memenuhi acara televisi pada saat hari pernikahannya. Vaye hanya bisa melihat wajahnya di lukisan waktu itu. Tapi setahu Vaye pernikahan mereka bahagia, lalu kenapa Lussac memasang wajah dingin saat membicarakan adiknya sendiri?
“Masih memikirkan adikku?” bisik Lussac pelan. Tanpa sadar Vaye mengangguk, sungguh tanpa sadar saat itu.
“Apa maksudmu dengan dia tidak bisa keluar rumah?” tanya Vaye polos. Lussac menghela nafas berat, sebelum mulai bercerita di sela-sela dansanya.
“Dia memiliki trauma.”
“Trauma?” ulang Vaye penasaran. Entah ke mana perginya rasa gengsi yang selalu ia banggakan dulu.
Lussac mengangguk.
“Saat menikah adikku memang baik-baik saja. Hubungan dengan suaminya sangat baik, saling mencintai sejak mereka kecil. Tentu saja, kalau tidak aku mungkin tidak akan merestui pernikahan mereka,” dengus Lussac di akhir kalimat.
“Namun seorang Alpha gila yang terobsesi pada adikku tiba-tiba menculiknya suatu hari. Memgurungnya begitu lama saat Al tengah mengandung anak pertamanya, di usia tujuh belas tahun. Dia masih sangat muda, dan si b******k itu menyiksa mental adikku setiap harinya dan dengan berani bahkan melecehkan Al. Dia-”
“Lu-lussac.” Vaye memanggilnya secara terbata saat Lussac mencengkram tangan Vaye erat. Mata biru terang itu berkilat dalam amarah, dan darah Omega dalam tubuh Vaye secara afirmatif takut merasakan aura tersebut.
Lussac segera tersadar, dan refleks memeluk pinggang Vaye lebih erat lagi.
“Maafkan aku....” lirih Lussac pelan. Vaye mengangguk, bukan salah Lussac jika dia terlalu emosi. Lagipula Vaye tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya diobsesikan oleh psikopat seperti itu? Apalagi di umur semuda itu.
Entah kenapa Vaye malah berduka untuk pria bernama Al ini.
“Jangan bersedih. Aku akan mengenalkannya padamu lain kali. Cobalah untuk menghiburnya nanti, Al tidak bisa bertemu orang asing sembarangan. Bisakah kamu menjadi temannya agar dia tidak kesepian?” pinta Lussac lembut sambil terus berdansa indah. Vaye mengangguk lemah. Bisa tidak ya ia berteman dengan Omega sesempurna Al?
“Tenang saja. Adikku tidak akan menolak jika kau memiliki hubungan dekat denganku,” ucap Lussac menenangkan.
To be continued