“Apa makanan favorite Bang Kai?”
“Ehm … bakso?”
“Salah!”
Coret.
“Apa nama kelas Bang Kai waktu kelas tiga SD?”
“Ehm … 3-A?”
“Salah!”
Coret.
“Apa motif k****t yang di pake Bang Kai waktu renang di curug Cibereum bulan Juni hari selasa tanggal 22 tahun 2009 jam 10.43?”
“Hah???” Kikan mengkerutkan keningnya, pertanyaan macam apa lagi ini? Sejujurnya Kikan sudah jengah dengan ketiga pria yang mengelilinginya.
“Udah cepet jawab aja! Jangan hah heh hoh mulu, lagi balap keong lo?”
Lagi, Kikan dibuat terkejut atas respon yang diberikan ketiga pria asing itu. Untuk mengakhiri permainan sesat ini, maka Kikan menjawab dengan asal, tidak masalah jika wajahnya harus di coret lagi dengan bedak bayi yang dibawa Keenan, toh itu cuma bedak kan? Yang penting Kikan bisa pergi, bebas dari jeratan tiga pria absurd yang berhasil membawanya ke sebuah kafe dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh seputar Kaisar.
“Woy jawab! Bengong aja, nahan poop lo?”
Kikan mendengus saat Satria menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan konyol yang mereka berikan pada Kikan.
“Motif spongebob!” jawab Kikan. Seketika ketiganya membelalakkan mata, lalu bertepuk tangan ala-ala mafia.
“Salut … salut! Yang kaya gini pacaran secara sehat? Hah, gak percaya gue!” ujar Satria.
“Bener, Kaisar ga pernah grepe-grepe darimana kalau pertanyaan kaya gini aja dia jawab dengan mudah!” imbuh Kurta.
Kikan mengkerutkan keningnya, tidak tahu isi pembicaraan para pria itu. Yang pasti ketiganya malah melemparkan tatapan merendahkan pada Kikan yang membuat Kikan geram. Sejurus kemudian Keenan mendekat dan berbicara dengan nada angkuh pada Kikan.
“Heh bocil, jujur aja deh, lo sama Kaisar udah maen jauh kan? Lo ga anggep Kaisar sugar daddy lo kan?”
Rasanya langsung mendidih darah Kikan mendengar ucapan Keenan yang sangat tidak sopan padanya. Kikan sudah cukup sabar saat ketiga pria itu menculiknya, ia juga juga cukup sabar saat diberi pertanyaan nyeleneh juga sangat sabar saat mereka dengan asyik memoleskan bedak pada wajah Kikan jika ia salah menjawab.
Tetapi, untuk pertanyaan Keenan kali ini rasanya Kikan tak mampu mentolerir atau pun bersabar cukup jauh lagi. Rasa-rasanya kesabaran Kikan sudah habis diuji oleh mereka bertiga. Jika Kikan memiliki tanduk, mungkin tanduk itu sudah keluar dan siap menyeruduk mereka. Tetapi, Kikan yang memiliki sikap keras kepala sudah cukup untuk melakukan itu.
Keenan yang berdiri dengan angkuh di depan Kikan, menjadi orang pertama yang mendapat serudukkan dari Kikan. Gadis itu menyeruduk perut berorot Keenan hingga pria itu terdesak ke dinding kafe. Suasana menjadi ricuh saat Keenan mulai berkata ampun, ia ingin menjauhkan kepala Kikan dari perutnya tetapi kepala itu menghantam perutnya berulang kali.
Lantas apa yang dilakukan Satria dan Kurta? Satria memilih menjaga jarak sambil melongo, sedangkan Kurta mencoba menghubungi pawang gadis itu, Kaisar.
“Aduh ampun! Maaf! Maafin gue! Gue tahu omongan gue salah! Berhenti, gue mual!” pinta Keenan dengan wajah yang mulai pucat.
“Ampun kata lo? Lemah banget jadi cowok! Rasain nih!” Kikan layaknya tak peduli dengan permohonan Keenan, jika saja pria itu tidak melorotkan tubuhnya ke lantai, maka Kikan tak akan berhenti.
Sejurus kemudian, Kikan melirik pada Kurta dan Satria yang masih utuh. Tatapan tajam Kikan seolah menjadi tatapan membunuh bagi Kurta dan Satria. Ingin rasanya mereka menghilang atau memutar waktu untuk tak mencari gara-gara dengan gadis seperti Kikan, tapi semuanya sudah terlambat. Penyesalan memang selalu datang di akhir saja.
***
Sebuah mobil brio putih parkir dengan tergesa. Kaisar keluar dari mobilnya dan terburu-buru masuk ke dalam kafe. Petugas keamanan mencoba menarik tubuh Kikan yang menyeruduk perut Satria, sementara Kurta dan Keenan sudah terkapar. Tentu saja ini adalah pemandangan yang paling mengejutkan yang pernah Kaisar lihat dalam hidupnya. Dengan tergesa Kaisar menghampiri security serta calon istrinya.
“Ya ampun Ki! Berhenti! Kamu ngapain sih?” Kaisar membantu sang security untuk menarik tubuh gadis itu.
“Kaisar …!” panggil Satria dengan lirih, matanya mulai berair seolah ia sudah tak sanggup menerima serudukan dari gadis bar-bar ini lagi. Kaisar tak bisa menghentikan Kikan jika ia hanya memanggilnya saja, maka Kaisar memutuskan untuk memanggul tubuh Kikan. Biarlah dia meronta yang penting Kikan berhenti membuat keributan di kafe orang.
“Gue amanin dia dulu ya?” ujar Kaisar berpamitan pada tiga sahabatnya yang sudah pasrah. Sedangkan Kikan memberikan salam jari tengah pada ketiga pria itu sebagai salam perpisahan.
Brukk.
Kaisar memasukkan Kikan ke dalam mobilnya lalu ikut masuk juga. Mereka ada di kursi belakang dan detik berikutnya Kaisar di buat terkejut dengan wajah Kikan yang di penuhi bedak.
“Ya ampun! Ini muka apa papan karambol? Kenapa ceremot gini kaya anak tuyul?”
Kikan menderlingkan matanya, dia mencoba menghembuskan napas berat agar kekesalannya tak melukai Kaisar.
“Temen-temen kamu tuh yang ngelakuin ini sama aku! Siapa suruh mereka culik aku? Aku lagi kerja malah dibawa ke sini, pake nanya-nanya yang enggak-enggak! Mereka pikir aku bahan mainan apa?”
“Jadi kamu kesel sama mereka, makanya kamu nyeruduk perut mereka?” tanya Kaisar melembutkan nada suaranya, sedangkan Kikan mendengus kesal.
“Wajar kan kalau aku ngelakuin pembelaan? Aku di bully sama tiga orang, cowok lagi! Mereka ga punya urat malu apa?”
Kaisar terkekeh mendengar ujaran Kikan yang penuh dengan kekesalan. Di lain sisi sebenarnya Kaisar kagum pada Kikan, karena sejauh ini hanya dialah satu-satunya wanita yang bisa membuat ketiga member geng kunchup K.O seperti tadi.
Dengan lembut Kaisar mengusap pipi Kikan, mencoba merapikan bedak yang belepotan di wajah Kikan. Tentu saja hal ini membuat Kikan membeku.
“Maafin temen-temen saya, ya? Mereka memang jahil tapi aslinya baik kok. Nanti kalau kamu udah gak emosi, saya akan kenalin kamu ke mereka. Biar kamu bisa kenal juga sama mereka. Setelah kita nikah, temen saya kan temen kamu juga. Jadi jangan bertengkar sama mereka, ya?”
Luluh hati Kikan mendengar penuturan dan permintaan lembut dari Kaisar, maka yang bisa di lakukan gadis itu hanya mengangguk perlahan untuk menanggapi.
***
Pada akhirnya seminggu kemudian dari kejadian itu, Kikan dan Kaisar tak pernah bertemu lagi. Tetapi hari ini mereka bertemu untuk mengubah status KTP masing-masing dari lajang menjadi menikah. Iya, hari ini adalah hari yang dinantikan dua keluarga besar, pernikahan Kikan dan Kaisar akan segera di selenggarakan. Janur kuning sudah terpasang, para pager ayu sudah menyambut dari pintu masuk gedung pernikahan. Hari ini, dengan hati berdebar Kaisar memulai harinya menuju sebuah tempat yang sudah di siapkan untuk mengambil alih tanggungjawab pak Atang atas putrinya yang kedua Kikan Ayu Rengganis.
Sebuah tangan menggandeng lembut lengan kanan Kaisar, Kaisar sudah hapal betul siapa yang melakukannya. “Kamu sudah siap, Kai?”
***