Prolog

1056 Words

“Arahkan ke kiri sedikit Cherise. Kamu seharusnya merekamku secara sembunyi-sembunyi,” Jason mendengkus kesal melihat istrinya yang tidak bisa mendengarkan arahannya, sedang Cherise terkekeh geli melihat suaminya yang super narsis, ia sengaja membuat lelaki itu tidak sabar dengan caranya mengambil gambar.

Jason berjalan keluar dengan wajah serius, mengambil burble yang berada di teras rumah mereka, lalu mulai mengangkat burble tersebut dan bergaya seperti orang yang sedang berolahraga. Sinar mentari membuat wajahnya terlihat lebih bersinar di mata Cherise. Pepohonan yang menjadi latar belakang pembuatan video itu sangat sesuai dengan tema video Jason ‘olahraga mudah di rumah’.

“Stop di sana, Sayang. Posisimu sudah bagus.” Jason tersenyum lebar, merasa puas dengan perkembangan istrinya dalam menjadi kameramen dadakan.

“Lihatlah suamiku yang narsis itu, dia sedang bergaya seakan-akan tengah berolahraga, dan ingin terlihat maskulin.” Cherise mengarahkan handycam  yang berada di genggaman  ke arah wajahnya. Ia terbahak.

“Sayang … cepat rekam aku secara sembunyi-sembunyi.” Jason menuangkan sedikit air ke wajah, berlagak ia terlalu lelah berolahraga hingga keringat bercucuran. Ia menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, lalu kembali mengangkat burble-nya, “Sekarang aku tampak seksi bukan, Sayang.” Jason melanjutkan perkataannya.

Cherise tergelak. “Keringat maskulin.. Kamu memang sangat tampan suamiku. Sudahlah hentikan video konyol ini,” ucapnya masih dengan tawa yang sama.

Suaminya itu memang selalu konyol dalam segala hal, tidak pernah ia melupakan bagaimana caranya tertawa saat bersama dengan suaminya. “Setidaknya, bagiku, kamu adalah lelaki paling tampan di dunia ini, jadi kamu nggak perlu membuat video konyol ini lagi, Sayangku.”

“Ini bukan video konyol, Sayang. Ini video yang akan selalu mengingatkanmu, betapa seksi dan tampannya suami mu ini.” Jason tersenyum lebar, sementara Cherise tertawa sembari menggeleng-geleng pelan.

Sedetik kemudian Jason berlari ke arah istrinya, memeluk erat tubuh Cherise, lalu mengangkat tubuh kecil istrinya dan memutarnya pelan ke udara. Tawa menghiasi wajah keduanya. Acara berputar-putar pun berakhir, Cherise melingkarkan kaki pada pinggang Jason, mengalungkan tangannya pada leher suami, dan mereka saling bertatapan dalam diam. Kemudian Cherise mempertipis jarak di antara wajah mereka, lalu melumat bibir suaminya dengan lembut, hatinya menghangat dan berharap semua ini tak ‘kan pernah berkahir.

***

Cherise mengetuk-ngetukkan jemarinya. Sesekali ia melirik Jason yang tampak tak bersalah dengan kesal dan menatap keluar jendela. Berdoa dalam hati jika taksi yang mereka tumpangi bisa segera tiba ke tempat tujuan. Beberapa menit kemudian ia bisa bernafas lega begitu melihat sign board yang menunjukkan jika mereka telah tiba di tempat tujuan. Ia segera membuka pintu taksi saat kendaraan itu sudah berhenti di lobby.

“Cepatlah Jason!” Cherise tidak sabar, “Kita terlambat karena video konyolmu itu,” Cherise menurunkan koper kecil dari bagasi taksi yang ditumpangi mereka dengan buru-buru.

“Akuilah sayang kalau kamu juga menikmatinya.” Jason tersenyum lebar

“Siapa yang akan menikmati kekonyolanmu itu Jason?” Cherise mendengkus kesal

“Kita hentikan perdebatan ini atau kita akan terlambat istriku sayang.” Jason menarik koper mereka dan segera melangkahkan kakinya ke pintu masuk bandara.

“Aku belum membayar taksi.” Cherise kembali, mengulurkan satu lembar uang lima puluh ribuan kepada supir taksi itu, lalu ia segera berlari kecil mengejar langkah suaminya.

“Mari kita masuk ke pesawat.” Jason mengedarkan pandangan ke sekeliling.

“Kita ke kanan atau ke kiri, Sayang? Kita belum check in” Cherise terlihat panik dan melihat kanan-kirinya. Seandainya pagi mereka tidak dimulai dengan semua kekonyolan mungkin saat ini mereka tidak akan tergesa-gesa seperti saat ini.

“Kita ke sini.” Jason melebarkan langkah, Cherise berlari kecil mengejar suaminya.

***

“Bulan madu kita terlalu sebentar, Jason. Kita hanya menghabiskan satu minggu di Phuket. Kapan kita ke sana lagi?” rengek Cherise sembari melingkarkan sebelah tangan pada pinggang suaminya, sementara tangannya yang lain memegang handycam. Ia suka merekam segala kegiatan mereka, termasuk perjalanan kali ini. Siapa yang tahu apa yang terjadi di hari esok, bukan? Hingga mendokumentasikan segala hal yang indah, mampu membuatnya mengingat semua perjalanan mereka.

“Kita akan ke sana lagi, Sayang. Tapi sekarang kita berdua harus kembali bekerja.”

“Baiklah, janji ya? Video ini sebagai saksi bahwa suamiku ini berjanji membawaku ke Phuket lagi.” Cherise mengarahkan handycam itu ke wajahnya sembari tersenyum lebar.

“Jason cium aku.”

“Mana bisa aku menciummu di motor seperti ini, Sayang.”

“Bisa, sebentar saja.” Cherise mendekatkan wajah dan menarik wajah Jason untuk mendekat ke arahnya, lalu mengarahkan handycam ke arah mereka. Bibir mereka saling bersentuhan singkat.

“Sekali lagi, Sayang.” Cherise menarik kembali wajah Jason, Jason mengecup bibir Cherise, lalu sedetik kemudian kejadian yang tak mereka duga terjadi.

“AArrrgghhh….” Mereka berteriak bersamaan saat motor yang mereka kendarai sudah sangat dekat dengan truk besar yang keluar dari persimpangan jalan. Keduanya tidak menyadari truk tersebut dan mereka tidak dapat menghindari kecelakaan naas itu.

***

Cherise mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba menyesuaikannya dengan cahaya di ruangan, lalu ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan memperhatikan beberapa orang yang berada di ruangan itu.

“Kak,” Cherise memanggil pelan. Seorang dokter segera menoleh dan berjalan ke arahnya, diikuiti oleh wanita yang tadi berdiri di samping dokter itu.

“Apa anda ingat nama anda siapa?” Dokter itu bertanya pada Cherise.

“Cherise Sedjapranoto.”

“Apa anda tahu di mana kita sekarang?”

“Di rumah sakit?” Cherise mengangkat sebelah alis. Dokter itu tersenyum lebar.

“Kak … mana Jason? Mana suamiku dan bagaimana keadaannya?” Cherise menghujani Anabelle, kakaknya dengan beruntun pertanyaan yang ada di benaknya.

“Kamu sendirian di sini, Jason nggak ikut denganmu.” Anabelle menatap heran adiknya.

“Nggak mungkin. Mana suamiku, Dok?” Cherise memandang sedih ke dokter itu. Apa hal buruk terjadi pada Jason hingga kakak kandungnya berbohong dan mengatakan jika ia sendirian di sini. Apa yang terjadi pada suaminya? Air mata mengalir begitu saja dan ketakutan membelenggu hatinya.

“Anda sendiri masuk ke rumah sakit ini, Bu.” Dokter itu tersenyum ramah

“Nggak mungkin.” Cherise menggeleng, “Mana Jason, Kak? Bukankah kami mengalami kecelakaan motor sepulang dari bulan madu ? Bagaimana bisa aku hanya sendiri di sini? Sesuatu telah terjadi padanya, ‘kan? Katakan padaku!” Cherise berkata terisak. Ia tidak bisa membayangkan kalau dia telah kehilangan sosok suami yang begitu di cintainya. Ia tidak akan sanggup jika harus melanjutkan hidup tanpa suaminya itu. Tanpa sadar, air mata mengalir dan membasahi pipinya.

“Cherise ... ada apa denganmu? Itu kejadian lima tahun lalu, itu hanya kecelakaan kecil, kalian berdua hanya mengalami sedikit luka pada bagian kaki dan tangan, nggak ada luka serius dalam kecelakaan itu.” Anabelle menaikan sebelah alisnya.

“Ini tahun 2009, bukan?” Cherise bertanya ragu.

“Ini tahun 2014 dan kamu udah koma selama satu bulan.” Anabelle menghela nafas panjang, lalu menatap dokter yang berdiri di hadapannya penuh tanya.

“Baiklah kalau begitu di mana Jason? Mengapa dia ngggak berada di sampingku saat ini? Kenapa dia nggak menemaniku di rumah sakit?” Cherise berkata lirih.

“Apa kau benar-benar lupa?” Anabelle menatap Cherise penuh tanya, namun wajah tidak tahu adiknya membuat Anabelle cemas, “Kalian sudah bercerai,” ucap Anabelle sembari menatap sedih ke arah adiknya.


Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd