“Geser sedikit Drey... ini sesak. Astaga,” keluh Elvrince disela rasa kantuk yang tidak tertahan. “Dingin El,,,” lirih Dreyhan dengan suara serak. “Dasar kerbau. Menyesal, telah mau tidur denganmu.” Desah Elvrince dengan memaki pria yang kini menempel padanya. Bagaimana ia tidak sesak jika lengan dan kaki Dreyhan yang kekar ditumpukan ke tubuhnya yang mungil, ditambah kepala Dreyhan yang mendusel dileher Elvrince. Ia bagaikan guling hidup. Berkali-kali ia terbangun karena pergerakan kepala Dreyhan karena bakal janggut yang kasar mengusap bagian kulitnya. Waktu sudah menjelang pagi, tapu ia tidak bisa tidur lagi. Elvrince menggerakkan tubuhnya kesamping. Kini posisinya menghadap Dreyhan, dengkuran halus dan wajah damainya terlihat sangat polos. Ia tak menyangka pria datar yang banyak o

