“Tidak usah baper,” Celetuk Dreyhan yang ternyata belum tidur. “Siapa yang baper.” sangkal Elvrince. “Jangan hanya karena cincin itu, kau melupakanku.” Ucap Dreyhan yang telah membuka kedua matanya sempurna. “Kenapa kau berubah seposessive ini. Tapi, jujur aku lebih mencintai cincin ini.” Ungkap Elvrince tanpa mengalihkan pandangannya dari cincin yang melingkar dijari. Sejak Dreyhan menyematkan cincin itu, Elvrince benar-benar mengabaikan dirinya. Semua beralih dan hanya cincin itu yang dipandang dengan cinta. Oh, sungguh malang sekali nasib cintanya. Sudah digantung, diabaikan pula. Rasanya ia ingin menjelma cincin itu agar dipeluk dan dipuja. Aishh. Otaknya juga ikut cemburu. “Begitukah?” tanya Dreyhan memastikan. “Ya.” Jawab Elvrince singkat. “Aku menyesal memberikannya sekarang

