MENGHAPUS LUKA

1472 Words
Tidak lama kemudian terdengar bunyi Tiing pertanda lift sudah sampai. Pintu lift terbuka dan Elvrince segera melangkah keluar. Tujuannya saat ini adalah kampus. Mengingat ia tidak akan pergi kampus selama dua bulan, maka dari itu ia akan mengambil semua buku yang tersimpan di loker. Di dalam ruangan Dreyhan berdiam diri, ia merutuki kebodohannya. Harusnya ia mengunci pintu. Aktifitas gilanya diketahui orang lain dan sialnya yang mengetahui gadis liar, satu-satunya gadis di muka bumi yang berani beradu argumen dengan dirinya. Ia meremah kepala frustasi. Ia pun beranjak dari tempat duduknya masuk ke dalam kamar pribadi yang ada diruangan miliknya. Memejamkan mata sejenak adalah hal yang terbaik. Bekerja malah akan merusak tatanan. Tiga puluh menit Elvrince menaiki bus untuk menjangkau kampus akhirnya sampai. Ia pun turun dan memasuki area kampus. Seperti biasa komplotan Preman kampus akan berada di tempatnya. apa lagi, kalau bukan membully Elvrince karena dirinya menyandang status miskin. Elvrince tidak pernah peduli tentang lontaran suara yang akan membuat dirinya stres. Dirinya juga sudah puas memiliki tingkat status sosial yang tinggi sampai sekarang. Jangan sampai rasa panas dalam hati memuncak dan berakhir membongkar siapa dirinya. Prok prok prok “Tidak ku sangka, gadis miskin yang kesehariannya hanya tukang laundry bisa menyetir mobil mewah” seru Brige dengan nada mengejek. Elvrince tak menghiraukan lontaran kata dari Brige. Langkahnya terhenti saat satu kata yang jelas membuatnya tergiur. “Aku menantangmu balapan. Jika kau menang,silahkan ambil mobilku. Tapi jika kau kalah, bersiaplah jadi kekasihku”. “Ku terima tantanganmu” jawab Elvrince tanpa membalik badannya. Ia tidak ingin bermasalah lagi. ‘’Sabtu malam kutunggu di street 65’’ seru Brige dari belakang dan hanya mendapat acungan jempol dari Elvrince pertanda ia setuju. ‘’Setelah sekian lama aku tidak berolah raga. Ya. Aku butuh pelampiasan’’ gumamnya pelan sambil terus melangkah menuju loker. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Elvrince segera pergi dari area kampus. Hari ini ia benar-benar lelah. Didalam Taksi ia memandang luar jendela, angan-angannya melayang ke kejadian kemarin. Semenjak bertemu dengan pria itu, setiap waktunya seperti mendapat musibah baru. Sekian lama dirinya bebas dan nyaman kini harus berurusan dengan pria yang semaunya sendiri. Sepanjang perjalanan Elvrince terus merenung, hingga ia tidak menyadari taksi yang ia tumpangi telah sampai didepan rumahnya. Sesampainya di rumah Elvrince bergegas mandi, berharap apa yang terjadi hari ini bisa sirna dari fikiran. Dibawah kucuran air, ia merenung entah berapa menit lamanya. Memikirkan hal yang sudah berlalu namun masih melekat dan menyakitkan. “Dia sudah mati bersama cintaku, pria brèngsèk seperti dia tidak pantas untuk dikenang meski secuil”. Gumamnya lirih. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore, Elvrince berjalan ke arah jendela melihat cuaca yang begitu cerah ia bergegas mengambil Skuter yang tersimpan di gudang. Sebelum hari besok yang sudah di pastikan akan membangkitkan setan di dalam tubuhnya, sebaiknya ia pergi ke pantai. Sekedar berkeliling di tepi pantai sambil makan es krim. Celana jeans biru yang longgar dengan atasan tank top berlapis kemeja kotak-kotak yang ia biarkan terbuka,hanya bagian ujung kemeja ia ikat asal agar saat ia menaiki skuter tidak terbang. Elvrince bergegas keluar tidak lupa ia mengunci pintu. Meski jarang dipakai skuter miliknya selalu ia rawat, satu minggu sekali tidak lupa ia cas dan jika saat di butuhkan seperti ini hanya tinggal pakai saja. Ia mulai menaiki dan berjalan keluar, teriakan beberapa tetangga yang menyerukan namanya adalah hal yang ia dapat setiap hari. Ia tidak pernah merasa jika ia sendirian. Lingkungan di sekitar begitu menyayanginya, terkadang ada yang memberinya kue, atau buah yang di panen dari kebun. Ia juga sering atau hampir setiap hari mendapat undangan makan malam dari tetangganya. Tidak butuh waktu lama, hanya 10 menit ia sampai di pesisir pantai. Ia memarkirkan skuternya di tempat yang memang dikususkan untuk skuter. Tidak lupa ia mengunci otomatis dan menggembok manual, meskipun di negara ini tidak akan ada yang mencuri tapi hanya untuk berjaga-jaga. Setelah memastikan skuter aman, ia berjalan mendekat ke tepi laut. Sambil menunggu matahari terbenam ia duduk di atas pasir sambil menikmati roti daging dan minuman kaleng yang ia beli di supermarket. Ia menikmati makanannya sambil memutar tangga lagu yang tersimpan di ponsel,sesekali ia ikut bersenandung menirukan lirik lagu. Meski belum bisa menghapus dukanya namun hal-hal yang ia lakukan selama di negeri ini cukup melupakan. Ia berdo’a agar dirinya tidak lagi terjun ke dasar cinta yang menyakitkan. Lama ia duduk menghadap laut lepas hingga kini tiba saatnya matahari mulai tenggelam, ia meraih ponselnya dan memotret keindahan alam itu. Dari gambar matahari tenggelam dan gambar selfi dirinya yang berpose konyol. Salah satu gambar konyol itu ia kirim ke sahabatnya. Tidak lama sebuah pesan masuk di sertai foto, begitu Elvrince buka ia tertawa sekuat mungkin. Nancy mengirim gambar tumpukan buku dan kertas yang bertulis berbagai rumus dan pengajaran tentang bisnis. Sejenak Elvrince bertukar pesan dengan Nancy, saling menanyakan kabar, sedikit melempar lelucon, meski jarak yang terpisah diantara mereka tapi jalinan persaudaraan itu tetap terjaga. Jika musim liburan tiba, Nancy yang akan datang mengunjungi Elvrince. Bukannya Elvrince tak mau mengunjungi Nancy, tapi kegiatan dan kesibukan belajar Nancy yang begitu padat menyulitkan Elvrince walau sekedar berkunjung. Hari semakin gelap,Elvrince beranjak dari tempat duduknya. Meski bercanda hanya lewat pesan, jika bersama Nancy ia selalu lupa waktu. Mengingat bahan persediaan dirumah habis, Elvrince akan pergi belanja ke supermarket. Ia menghampiri skuter dan siap meluncur ke supermarket. Hatinya kembali bahagia, ia yang menaiki skuter menuju supermarket tidak lupa memutar lagu sedikit keras sambil menyapa remaja seusia nya yang sama-sama bersekuter. Dua tahun ia berada di California dan menetap di kota yang ramai serta profesinya sebagai delivery laundry yang setiap harinya bercengkrama dengan sesama delivery, hanya berbeda bidang. Jadi tidak heran, setiap tikungan akan banyak yang mengenal dirinya. Elvrince pun sampai di supermarket, ia melangkah masuk dan mulai berkeliling dari rak ke rak. Tiga puluh menit kemudian, keranjangnya sudah penuh. Ia meneliti setiap barang yang di keranjang setelah semua ada, ia berjalan menghampiri kasir untuk membayar semua belanjaannya. Supermarket yang ramai akan pengunjung membuat antrian cukup panjang. Ia meletakkan keranjangnya di lantai sambil menunggu gilirannya tiba, ia merogoh ponsel yang ada dalam saku dan berselancar ke media sosial melihat kabar yang sedang trending atau melihat postingan idolanya. Karena terlalu asik dengan dunia sosial, tanpa ia sadari ada seorang pria yang memperhatikan dirinya sejak masuk supermarket. Dreyhan yang sedang bersantai sambil melihat ponsel harus tersentak dan bangkit saat teriakan sang ibu menggema memanggil namanya. Ia segera berlari mencari keberadaan sang ibu ke seluruh ruangan,dan begitu ia sampai di dapur ia terbengong melihat ibunya baik-baik saja. Ia yang panik mendekat sang ibu dan bertanya ada apa sampai berteriak kencang seperti tadi. ‘’Dre..bisakah kau belikan bahan-bahan ini?’’ pinta sang ibu. ‘’Tentu saja mommy. Berikan padaku daftarnya,’’ ucap Dreyhan. ‘’Jangan sampai ada yang tertinggal.’’ Peringat sang ibu sambil menyodorkan lembar kertas. ‘’kenapa banyak sekali mom?’’ ucap Dreyhan sambil menaikkan kedua alisnya ketika melihat daftar belanjang yang berderet ke bawah . ‘’Kau tidak pernah pulang, dan mommy tidak sempat belanja karena butik terlalu ramai pèlanggan.sekarang kau berkunjung ke rumah karena merindukan masakan mommy. Kapan kau membawa calon istri untuk mommy?’’ marah sang ibu ‘’Jika waktunya tiba, Drey akan bawakan menantu untuk mommy. Drey pergi dulu.’’ Jawab Dreyhan. ‘’ Dreyhan pun melajukan mobil untuk pergi ke supermarket terdekat. Ia yang mengemudi dengan kecepatan sedang, tidak sengaja melihat gadis yang sehari ini membuat Mood nya hancur sedang menaiki skuter bersama para delivery makanan. Ia memelankan kecepatan dan mengamati sejenak. Tawa lepas yang begitu indah, parasnya yang cantik alami tanpa polesan begitu menggemaskan, rambut coklat yang tergerai indah melambai-lambai diterpa angin. Ekspresi berbeda saat berhadapan dengannya. Seketika bibirnya tertarik keatas melihat si gadis masuk ke supermarket dimana dirinya akan datangi juga. Ia menyuruh pengawal ntuk mencari bahan yang dibutuhkan ibunya, sedangkan dirinya masih memperhatikan gadis liarnya dari jarak jauh. Tepat saat gadis liarnya mengantri dan sibuk dengan ponselnya. Ia mendekat perlahan dan Dengan gerakan cepat ia menyambar ponsel itu. ‘’Hei! Kembalikan ponselku!’’ teriak Elvrince yang terkejut karena tiba-tiba seseorang menyambar ponselnya. ‘’Diam! huusttt’’ ucap Dreyhan dengan menaruh telunjuknya di depan bibir. Dengan secepat mungkin Dreyhan mengetikkan nomor diponsel Elvrince lalu menyerahkan kembali pada Elvrince yang kini memasang wajah layaknya kucing yang siap mencakar dirinya. ‘’Dàsar, singa dingin kèpàrãť!’’ desis Elvrince sambil menyambar ponsel yang sempat Dreyhan rampas. Mendengar gadis liarnya yang sudah bertelinga merah membuat hiburan yang menurutnya menarik sekarang, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Elvrince. Elvrince yang menyadari Dreyhan mendekatkan wajah, nafasnya tercekat dan hatinya berdebar menanti hal gila apa lagi yang pria di depannya akan lakukan. ‘’jangan sampai telat besok.’’ Ucap Dreyhan tepat disamping telingan Elvrince dengan lembut dan menggoda. Setelah menggoda gadis liarnya yang kini terdiam terpaku tak berdaya,Dreyhan melangkah menjauh meninggal Elvrince yang masih terdiam seperti patung. Ia bersenandung dalam hati, entah kenapa meski gadis itu menjengkelkan tapi melihat tingkahnya yang unik membuat dirinya tertarik. Hanya sekedar hiburan dalam kesepiannya tidak lebih. Itulah yang ada di benak hati Dreyhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD