Hanya ada beberapa ruangan saja. Yaitu ruangan sang pemilik gedung, siapa lagi kalau bukan Arsenio. Ruangan Erwin dan satu ruang lagi yang entah milik siapa, Erwin juga tidak tahu dan tidak pernah memasukinya. Namun yang jelas ruangan itu masih kosong. Arsenio masuk ke dalam ruangannya. Tentu saja beserta Erwin yang akan terus bersama dirinya. Sesaat setelah pria itu duduk di singgasana kebesarannya, tiba seorang wanita dengan penampilan yang sangat menarik namun masih sopan. Membawakan secangkir kopi hitam untuk disuguhkan kepada bosnya. "Kopinya, silakan, tuan." Wanita itu dengan cekatan menaruh cangkir tepat di hadapan sang presiden direktur. "Erwin, kau suka kopi?" tanya Arsenio terdengar ambigu. Untuk pertama kalinya Presdir kaku ini menanyakan hal yang sangat langka. Yaitu menan

