Rencana

2673 Words

Fasha menghela nafas. Ia baru saja meninggalkan kantornya untuk pulang. Tapi bukannya kembali ke rumah, ia malah keliling-keliling Jakarta dengan tidak jelas. Jalanan macet dan tentu saja ia terjebak. Alih-alih mencari jalan lain untuk keluar dari pusaran kemacetan, ia malah membiarkan dirinya terus terjebak. Ya tak masalah, pikirnya. Toh ia juga sedang bingung. Kalaupun pulang, ia hanya akan berbaring dan melamun. Lebih baik menikmati hari saja. Berputar-putar tak tentu arah. Sampai akhirnya terdengar azan magrib, ia mencoba mengambil jalan lain untuk mencari masjid terdekat. Usai solat, ponselnya tentu saja berdering. Ada panggilan masuk dari ibunya yang selalu bertanya ia berada di mana jika belum sampai di rumah sebelum magrib. "Asha makan di luar, Buk." Ia hanya mengatakan itu. Kar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD