Akhirnya mau tidak mau Pandu harus pulang karena telah diusir oleh sang calon istri, seharusnya dia tidak terlalu terburu-buru menghampiri Aisyah. Jangan salahkan dirinya, salahkan saja Aisyah yang membuatnya rindu ingin segera bertemu dengan gadis itu. Ah iya dan jangan lupakan juga salahkan saja burung yang dengan seenaknya membuang kotoran diatas bahu serta kepalanya, seandainya saja burung itu tidak membuang kotorannya sembarangan mungkin saja dia masih bersama Aisyah saat ini. Memandangi wajahnya yang cantik juga melontarkan rayuan-rayuannya yang membuat gadis itu kesal, entah mengapa melihat wajah gadis itu yang kesal membuat Richard merasa bahagia. Wajahnya itu loh jadi terlihat cantik dan menggemaskan, maunya sih dia bawa pulang dan kurung didalam kamar untuk dia nikmati sendiri.
Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya dan memilih memasuki mobilnya, pria itu menyempatkan waktu untuk mencium bahunya sejenak. Hampir saja dia mengeluarkan isi perutnya didalam mobilnya ketika mencium bau busuk yang benar-benar menyengat, pantas saja Aisyah tadi langsung mengusirnya. Ternyata oh ternyata parfum alami yang tak sengaja dia kenakan itu baunya memang sangat luar biasa wangi... maksudnya wangi busuk. Lantas saja pria itu langsung memutuskan untuk menjalankan mobilnya menuju rumahnya, mungkin besok ah atau nanti sore saja dia kembali menuju toko kue itu lagi.
"Loh kamu sudah pulang Pandu?" tanya seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluhan keatas itu pada Pandu.
"Iyalah Kak, kalau belum pulang terus yang ada dihadapan Kakak ini siapa?" Wanita bernama Precillia Bramasta yang tak lain adalah Kakak kandung Pandu itu menggeleng mendengar candaan Adik semata wayangnya itu.
"Bau apa ini?" gumam Precil ketika mencium aroma-aroma tidak sedap ketika Pandu berjalan melewatinya.
"Eh Pandu, kamu kentut ya?" tanya Precil membuat Pandu mengernyit, masa orang ganteng seperti dirinya buang angin? Tidaklah ya.
"Enggak kok Kak, gue nggak buang angin. Kakak kali," balas Pandu namun seakan ingat dan paham aroma apa yang Kakaknya itu maksudkan dia terkekeh.
"Eh ini Kak, gue bawain dua kotak kue nih buat ponakan tersayang gue." Pandu menyerahkan dua kotak kue pada Precil dan memaksa agar Kakaknya itu menerimanya.
"Ini kamu beli kue lagi? Ditempat yang sama?" tanya Precil tak percaya, padahalkan kemarin mereka baru saja makan kue tapi si Adiknya yang suka narsis ini kembali membeli kue yang sama? Dalam rangka apa coba?
"Ah iya Kak, yang lo cium tadi itu aroma parfum gue tau. Gue dapat parfum itu gratis, namanya parfum alami dan dapat dari alam." Precil mengernyit, dia berjalan mendekati Adiknya sambil mengendus-endus aroma busuk itu. Kok seperti bau kotoran ya? Pikirnya.
"Kok bau parfum kamu mirip kotoran wanginya? Beli dimana kamu parfum itu? Buang-buang uang aja," ucap Precil sambil mengibaskan hidungnya menghalau bau busuk yang menyengat itu.
"Kan gue tadi bilang kalau dapatnya itu gratis Kakakku tersayang, mau tau enggak ini parfum apa? Ini namanya parfum alami bernama kotoran burung hahaha ...." Pandu tertawa kencang, apalagi ketika melihat wajah kesal Precil.
"Mami!! Pandu jorok ih!!" Pandu langsung menghindar ketika Precil akan melemparnya dengan sendal yang Kakaknya itu kenakan.
"Enggak kena wleee ... enak ya wangi parfum gue? Mau juga enggak Kak, mumpung gratis enggak dipungut biaya." Pandu langsung menaiki anak tangga ketika Precil akan mengejarnya.
Pandu memang begitu, dia suka sekali menjahili Kakaknya meskipun wanita itu sudah menikah dan memiliki anak yang lucu. Iya si keponakan Pandu, namanya Vita tapi Pandu suka memelesetkan namanya menjadi Pita rambut, habisnya anak dari Kakaknya itu selalu menggunakan pita dirambutnya ya jadilah Pandu menyebutnya demikian. Apa Kakak ipar Pandu tidak memprotes? Tentu saja tidak karena sifat mereka berdua itu sama, jadilah mereka sering sekali bekerjasama dalam menjahili Precil dan Vita. Untung saja ya Precil kuat menghadapi dua manusia yang sifatnya sangat menyebalkan itu, jika saja tidak mungkin wanita itu lebih memilih menenggelamkan keduanya didalam sungai sss.
"Selamat siang keluarga tersayang, Panduwinata Bramasta yang gantengnya ngalahin Justin Bieber datang nih untuk ikut nimbrung. Lagi makan apa? Oh kue yang tadi ya? Mau dong," ucap Pandu. Tangan pria itu akan meraih satu potong kue diatas meja tapi dengan sigap Vita si keponakan tersayangnya itu langsung merebutnya dan merengkuhnya dalam pelukannya.
"Om Pandu enggak boleh ambil kue Vita, ini kue Vita." Precil menertawakan Pandu yang memasang wajah nelangsanya.
"Rasain!" ucap Precil sambil tertawa.
"Pita cantik, tapi masih cantikan Mimi Perry. Om Pandu boleh minta ya kuenya? Dikit aja, kan yang bawain kue tadi itu Om Pandu. Masa Pita tega enggak ngasih dikit aja kue itu ke Om? Minta dikit ya?" Pandu berusaha membujuk si keponakan tersayang agar mau memberikannya sedikit saja kue itu, dia kan ingin merasakan kue yang disentuh oleh tangan cantik Aisyah si calon istrinya itu.
"Kata Mama kalau ada orang yang ngasih kue ke kita maka harus diterima, tapi kalau orang yang ngasih itu mau minta lagi barang yang dikasih jangan dikasih soalnya itu pamali Om." Ucapan polos dari Vita memunculkan gelak tawa semua orang kecuali Pandu yang kali ini memberengut kesal.
"Kak, tolong ya jangan ajarin ponakan gue yang aneh-aneh gini." Precil malah tertawa.
"Bagus anak kesayangan Mama, kamu pintar." Vita tersenyum lebar menampilkan giginya yang ompong satu didepan ketika merasakan usapan dikepalanya.
"Loh kan memang benar, kalau udah dikasih sama orang itu enggak boleh diambil lagi. Kamu kan tadi sudah memberikan kue itu ke Kakak dan Vita, jadi tidak boleh diminta lagi. Pamali tau?" ucap Precil membuat bibir Pandu maju beberapa sentimeter.
"Dih dia ngambek kayak anak kecil, udah tua juga. Gimana mau dapat jodoh kalau gitu? Kayaknya enggak ada yang akan mau nih sama ini anak, Mi ini anak kayaknya perlu dijodohin kalau enggak bisa-bisa jomblo seumur hidup." Sepertinya keluarga disini memang saling klop, tak hanya Pandu yang suka mengejek tapi Kakaknya itu juga sangat ahli dalam mengejeknya ya sebelas dua belas dengan dirinya.
"Kamu mau Mami kenalin sama anaknya teman Mami? Kebetulan dia baru saja lulus kuliah dari luar negeri, anaknya itu cantik loh. Pinter dandan lagi," ucap Erly–Mami Pandu.
Mendengar ucapan Maminya, Pandu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak mau dikenalkan lagi oleh anak teman Maminya, dia masih ingat sekali terakhir kali dia dikenalkan oleh seorang wanita berdandan seperti Ibu-ibu yang mau kondangan alias menor sekali. Tipenya saat ini kan sudah berbeda, tak hanya harus cantik dari luar tapi dari dalam juga sama halnya seperti Aisyah si gadis yang sudah dia gadang-gadang menjadi calon istrinya meskipun wanita itu selalu menolak. Dia yakin kok kalau suatu hari nanti gadis itu pasti akan menerimanya, lihat saja nanti.
"Enggak mau Mi, Pandu enggak mau. Pandu bisa kok cari jodoh Pandu sendiri," tolak Pandu membuat Mami Erly mendesah kecewa.
"Kamu kok gitu? Setiap kali Mami mau kenalin kamu ke anak teman Mami kenapa kamu selalu nolak? Kamu itu udah hampir 28 tahun sudah seharusnya menikah. Kamu enggak mau ngasih cucu ke Mami?" tanya Mami Erly dengan gaya yang mendramatisir.
"28 itu masih muda kali Mi, kalau Mami mau cucu ya minta dibuatin aja sama Kak Precil dan Kak Vito." Perkataannya itu disambut pelototan tajam dari Precil sedangkan Vito hanya terkekeh.
"Lo kan tau sendiri Du, kalau Precil itu enggak mau punya anak lagi. Dia takut karena katanya melahirkan itu sakit," ucap Vito santai mengabaikan delikan tajam dari Precil.
"Lebay lo Kak, itukan kodratnya cewek. Mami aja sanggup ngelahirin kita, masa lo enggak sanggup?" tanya Pandu membuat Precil kesal bukan main.
"Sana lo coba melahirkan, rasain gimana rasa sakitnya jadi cewek." Perkataan Precil disambut gelak tawa dari Pandu.
"Gue kan cowok, mana bisa melahirkan. Bisanya membuahi ya kan Kak?" tanya Pandu pada Vito, Mami Erly yang berada disamping Pandu pun langsung memberikan cubitan kencangnya.
"Disini masih ada anak kecil, jangan kamu kotori ya pikiran cucu Mami dengan perkataan mesummu itu." Pandu meringis kesakitan sambil mengusap lengannya yang dicubit oleh sang Mami.
"Aduh sakit tau Mi? Enggak ganteng lagi nih lengan Pandu, nih jadi merah. Pokoknya Mami harus membiayai operasi lengan Pandu yang memerah ini, Pandu enggak mau ya kalau sampai ada bekas lukanya. Berkurang dah kegantengan Pandu kalau begini caranya," ucap Pandu sambil menatap kesal Maminya.
"Lebay banget lo jadi cowok, pantesan enggak ada yang naksir." Mendengar hal itu tentu saja membuat Pandu memandang kearah Kakaknya kesal.
"Gue bukannya enggak ada yang naksir ya? Yang naksir gue itu banyak, berapa ya? Ehm kayaknya lebih dari seratus deh. Pembaca juga suka gue kan? Ya iyalah karena gue itu kan ganteng banget, cuma ya gitu sayang sekali gue enggak suka mereka." Ingin sekali Precil menimpuk kepala Pandu menggunakan sendal bulunya jika saja tidak ada Maminya disini, dia terlalu sebal dan jengkel mendengar ucapan pede Pandu yang setinggi langit itu.
"Percuma banyak yang naksir tapi masih tetap jomblo," celetuk Mami Erly yang dibalas tawa mengejek Precil dan Vito, sedangkan Vita sibuk memakan kuenya. Anak berusia empat tahun itu tidak mengerti arah pembicaraan orang dewasa itu, jadi dia lebih baik menikmati kudapan manis ini kan?
"Ih Mami, Pandu enggak jomblo ya? Pandu itu lagi mencari calon istri shalihah yang bisa menjadi permata dirumah ini. Harusnya Mami doain Pandu, bukannya malah mengejek Pandu." Pria itu merajuk seperti anak kecil yang telah diledek habis-habisan oleh teman-temannya karena sudah mengompol dicelana, kira-kira seperti itulah ekspresi Pandu saat ini.
"Pertanyaannya calon istri shalihah yang kamu maksud itu mana? Dimana tinggalnya? Kalau cuma dalam mimpi sama aja bohong dong," ucap Precil sambil terbahak.
"Udahlah, kamu terima aja kalau Mami jodohin kamu sama anak teman Mami. Dia itu cantik, pinter dandan, lulusan luar negeri lagi? Masa kamu enggak tertarik? Biasanya kan mantan pacar kamu itu rata-rata modelnya seperti itu." Iya itukan dulu, kalau sekarang setelah mengenal Aisyah selera gadis yang Pandu impikan sekarang sudah berbeda. Dia ingin gadis seperti, ah tidak lebih tepatnya dia ingin menjadikan Aisyah sebagai miliknya.
"Enggak mau Mi, Pandu masih ingat ya kalau dulu waktu Mami mengenalkan Pandu sama seorang wanita dandanannya menor abis. Kayak badut yang sering Pita lihat di taman, mau taruh dimana coba wajah Pandu kalau sampai punya istri seperti itu?" Pandu memprotes habis-habisan ketika Mami Erly berniat untuk menjodohkannya lagi dengan wanita seperti itu.
"Yang cocok sama kamu kan wanita seperti itu, klop banget sama kamu yang gesrek ini. Kalau wanitanya baik-baik, Kakak kasihan sama dia karena punya suami gesrek kayak kamu." Tuhkan masalah saling mengejek itu maka keluarganyalah yang menjadi pemenangnya, bukannya mendukung tentang kriteria calon istri idamannya Kakaknya itu malah berkata demikian.
"Sesama orang gesrek enggak boleh ngeledek ya? Lo juga sama tuh sama gue, makanya dapatnya suami semacam gue. Untung aja rumah tangga kalian enggak ikut pecah juga saat melempar barang," ucap Pandu terdengar pedas karena dia sudah kelewat kesal dengan Kakaknya. Memang benar sekali apa yang dia katakan, Kakak dan Kakak iparnya itu kalau bertengkar maka harus ada barang yang pecah kalau tidak maka pertengkaran itu tidak akan pernah berhenti, mau tau apa yang biasanya mereka permasalahkan? Hanya masalah kecil dan mereka ribut seperti ada yang selingkuh saja. Bagaimana jika ada yang selingkuh? Sudah dipastikan bahwa ada yang akan tewas nantinya.
"Mi, anaknya itu diajarin kalau ngomong. Kok suka bener sih?" Nah kan, padahal sudah menikah dan memiliki anak Kakaknya itu masih suka mengadu pada Mami Erly, enggak malu apa sama suaminya? Sepertinya tidak karena seluruh anggota keluarga ini tidak ada yang memiliki rasa malu.
Terkadang Pandu heran dengan Vito, kenapa pria itu mau-mau saja ya menikahi Kakaknya ini? Padahalkan Kakaknya itu terlalu manja dan tidak bisa apa-apa soal mengurus urusan dapur. Dia juga mengalah saat Precil meminta agar mereka tinggal bersama kedua orangtuanya, padahal Vito sudah memiliki rumah sendiri loh. Ah cinta itu memang benar-benar membutakan dan membuat seseorang menjadi bucin ya? Pandu jadi ngeri ih.
"Iya dong, Pandu gitu loh. Kalau ngomong itu memang harus benar, masa bohong? Hukumnya dosa loh. Iya kan ponakan Om yang mirip hewan berwarna pink yang suka main di lumpur itu?" tanya Pandu pada Vita yang hanya mengangguk.
"Woy Pandu, kenapa anakku kamu samain sama hewan itu? Kurang ajar ya kamu!!" Pandu hanya terkekeh dan memilih menciumi pipi gembil Vita.
"Ini nih pipinya mirip piggy, pink pink imut gimana gitu?" Pandu langsung menghindar ketika sebuah sendal berbulu akan melayang diwajahnya.
"Et enggak kena, coba lempar lagi." Pandu menyerahkan pipinya agar ditimpuk sendal oleh Precil.
"Enggak kena lagi, Mama kamu cemen Pit masa nimpuk Om Pandu aja enggak kena?" ucap Pandu pada Pita.
"Siniin sendal kamu," pinta Precil pada Vito.
"Untuk apa Yang?" tanyanya.
"Udah siniin aja, atau mau aku suruh tidur diluar?" ancamnya membuat Vito segera melepaskan seluruh sendalnya dan memberikannya pada sang istri.
"Awas ya kamu Adik nakal!!" teriak Precil sambil mengejar Pandu yang kini sudah berlari untuk menghindari kejaran Precil.
"Ayo Cil, lari lebih kencang lagi. Cepat timpuk pakai sendal tuh anak Mami," ucap Mami Erly menyemangati Precil untuk terus mengejar Pandu.
"Ayo Sayang, cepat kejar itu si Pandu. Kasih dia pelajaran." Vito ikut-ikutan berteriak memberikan semangat pada istrinya membuat Pandu langsung memprotes.
"Kok kalian malah dukung Kak Precil sih?" Tanpa sadar Pandu berhenti membuat Precil akhirnya bisa menimpuk kepala Pandu menggunakan dua sendal sekaligus.
"Rasain!! Enak kan?"
"Hahahaha..."
"Hebat kau Nak!!"
Pandu menatap kesal semua orang yang kompak menertawakannya, kenapa ya nasibnya begini amat? Memiliki keluarga lengkap tapi sayang pada gesrek semua sama seperti dirinya.