Part 9 - Senjata Makan Tuan

1629 Words
"Susah kalau sudah ke makan gengsi. Ayam dibesarin dapat telur, gengsi dibesarin dapetnya masalah." - Panca Nugraha - ©©© Aisa tersenyum riang saat duduk di atas sebuah sepeda motor. Tiga hari yang lalu, Kakeknya datang dengan hadiah motor untuk cucu kesayangannya itu. Setelah Aisa cerita mengenai ponselnya yang hilang, Ayahnya sempat menyuruh Aisa untuk berangkat ke kampus menggunakan sepeda motor miliknya namun gadis itu tidak mau. Motor milik Ayahnya biasa digunakan menuju ke pesantren untuk mengajar, Aisa tidak mau membuat Ayahnya susah. Alhasil dia menggunakan ponsel Ibunya untuk sementara. Namun ternyata dua hari kemudian Kakeknya datang membawakan sepeda motor baru untuk Aisa. "Udah, jangan dimainin terus motornya. Sarapan dulu sini loh, Nak. Katanya mau berangkat ke kampus." ujar Ibunya keluar dari dalam rumah. "Hehe, Aisa seneng banget Bu." "Iya, ayo sarapan dulu." "Iya, Bu." Baru saja Aisa turun dari motornya, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan rumahnya. Aisa dan Sang Ibu terdiam menunggu pemilik mobil itu keluar. Beberapa saat kemudian seorang wanita berhijab keluar dari dalam mobil tesebut. Aisa membulatkan matanya terkejut saat melihat siapa yang datang. "Karina?" panggil Aisa. "Assalamu'alaikum." ujar Karina sambil tersenyum. "Wa'alaikumsalam. Nak Karin, ada apa pagi-pagi kesini?" sapa Ibu dari Aisa ramah. "Iya, Bu. Maaf, Karin dateng pagi-pagi begini." "Gapapa, Nak. Ada perlu apa?" "Mau ketemu Mba Aisa, Bu." "Oh, yaudah ayo masuk dulu kalau gitu." "Gak usah, Karin di luar aja Bu. Cuma sebentar kok." "Yaudah, Aisa ini Karin mau ketemu kamu." Aisa yang sedari tadi masih berdiri tidak jauh dari motornya mendekat saat namanya dipanggil. Dia cukup terkejut dengan kehadiran Karin di rumahnya. Bukannya tidak suka Karin datang, tapi kehadiran gadis itu jadi mengingatkannya atas ucapan Panca seminggu yang lalu tentang lelaki itu yang tidak suka jika dia dekat dengan keluarganya. Sedangkan Karin adalah sepupu Panca, itu berarti termasuk ke dalam keluarga lelaki itu. Aisa bingung harus bagaimana menghadapi Karina sekarang. "Ibu ke dalam dulu yah?" "Iya, Bu." jawab Karina dan Aisa. "Hallo Mba Aisa?" sapa Karina ceria. "Iya hai, ada apa ke sini Karin?" "Mba Aisa gak suka yah, Karin ke sini?" "Gak kok, siapa yang bilang Mba gak suka?" "Itu mukanya kok datar gitu, gak ada senyumnya. Padahal kemarin terakhir ketemu, Mba Aisa selalu senyum ke Karin." "Maaf, ayo duduk dulu." ajak Aisa ke kursi depan rumahnya sambil tersenyum. "Gak usah Mba, aku cuma mampir doang kok sebentar. Mau nganterin ini." ujar Karin sambil mengangkat bingkisan di tangan kanannya. "Apa itu?" "Ini kue, Bunda yang buatin buat Mba Aisa." "Bunda? Ibu kamu?" tanya Aisa bingung. "Bukan, Bunda itu panggilan Karin buat Mamanya Kak Panca. Katanya, Bunda kangen banget sama Mba Aisa, pengin ketemu. Terus kemarin waktu bikin kue, dia keinget deh sama Mba Ais. Makanya aku disuruh anterin kuenya kesini." "Kok Tante Aira baik banget sih? Makasih. Maaf juga kemarin beberapa hari yang lalu, Mba gak jadi ke rumah. Mba ingkar janji sama Tante Aira." "Bunda udah jelasin juga ke Karin. Emang waktu itu Bunda sempat marah gitu ke Kak Panca. Katanya Kak Panca ngusir Mba Aisa yah?" "Kak Panca sama Tante Aira marahan? Dan itu karena Mba?" tanya Aisa terkejut. "Bukan gitu sih, cuma Kak Panca itu gak suka kalau Bunda katanya terlalu dekat sama Mba Aisa. Kak Panca gak mau kalau Bunda salah paham sama hubungan kalian. Makanya kemarin Bunda sama Kak Panca sedikit berdebat gitu." "Astagfirullah, ini salah Mba. Harusnya kemarin Mba hubungin Tante Aira biar gak sampai ribut sama Kak Panca." "Mba Aisa gak salah. Karina tau siapa yang harusnya disalahin disini!" Aisa menatap Karina yang tiba-tiba berekspresi kurang bersahabat. "Maksud Karin?" "Ini semua pasti ulahnya si Anestesi itu, Mba. Karin tuh sebel banget sama dia. Sok cantik, ganjen, terus kalau ngomong tuh ngeselin banget. Karin yakin, Kak Panca pasti udah dicuci otaknya sama perempuan itu." "Kok jadi ke Kak Anes? Apa hubungannya sama Mba, Karin?" tanya Aisa bingung. "Iih, Mba Ais belum tau gimana sifatnya si perempuan kobra itu. Dia tuh selalu aja sok cari muka di depan Kak Panca. Terus dia itu orangnya egosi, gak mau kalah, maunya menang sendiri. Udah gitu dia genit lagi! Sama temennya Kak Panca aja sok kecantikan senyum-senyum gak jelas. Karin tuh takutnya nanti Kak Panca disakitin sama dia." "Gak boleh su'udzon, Karina." "Karin gak su'udzon, Mba. Emang kenyataannya tuh gitu. Kak Panca orangnya itu baik, gak tegaan, udah gitu dia kalau sama perempuan tuh hormat banget. Dia gak pernah mau buat nyakitin cewek. Walaupun keliatannya diluar, Kak Panca tuh jail, nakal, sangar. Tapi hatinya lembut, baik, dan gak suka liat orang yang gak bersalah tertindas. Karin takutnya, perempuan kobra itu manfaatin Kak Panca untuk kepentingannya sendiri." "Karin gak boleh begitu, itu namanya udah su'udzon tau. Kita kan gak tau kebenarannya kayak gimana. Udah, gak perlu dipikirin Kak Anes-nya. Gini aja, bilangin sama Tante Aira kalau Mba minta maaf. Nanti kalau Mba ada waktu, insyaAllah mampir ke rumah." "Beneran, Mba? Emang Mba Ais gak takut diusir lagi sama Kak Panca?" "Mba kan kesana mau ketemu sama Tante Aira, bukan Kak Panca. Lagipula memutus tali silaturahmi juga gak baik. Kalau perlu nanti Mba bicara sama Kak Panca di kampus." "Beneran yah, Mba? Bunda pasti senang banget dengernya." "Iya, Karin." "Yaudah, Karin pamit dulu soalnya sekalian mau berangkat sekolah." "Iya, hati-hati di jalan Karina." "Assalamu'alaikum, Mba Aisa. Salam juga buat Ibu sama Bapaknya Mba Ais." ujar Karina saat mau masuk ke dalam mobilnya. "Wa'alaikumsalam, iya nanti disalamin. Dadah Karin!" "Dah Mba Ais..." Setelah melihat mobil Aisa pergi dari depan rumahnya, gadis itu menghela nafasnya sebentar lalu masuk untuk segera sarapan dan berangkat kuliah. ©©© Motor Aisa memasuki parkiran kampus. Dia tersenyum cerah saat mematikan mesin motornya. Sebenarnya sudah lama dia ingin mempunyai sepeda motor sendiri, tetapi dia tidak ingin merepotkan Ayahnya dengan permintaannya itu. Beruntung sekali Kakeknya memberi hadiah motor padanya. Kakek Aisa memang sangat menyayangi gadis itu karena dia adalah cucu paling bungsu di keluarga Ayahnya. "Aisa?" Panggilan itu membuat Aisa menoleh. Disisi kanannya sekitar satu meter berdiri seorang pria yang minggu lalu sempat membantu dirinya. "Kak Dirga?" "Lo naik motor sekarang?" "Assalamu'alaikum Kak." ujar Aisa tersenyum tanpa berniat menyindir, hanya mengingatkan. "Wa'alaikumsalam, maaf gue lupa." "Gapapa, makanya tadi Aisa yang ingetin." "Lo ngingetin gue sekalian nyindir. Ngena banget ke gue haha..." "Enggak kok. Oh iya jawab yang tadi, Aisa emang naik motor sekarang." "Pasti motor baru tuh, platnya belum dipasang. Masih kinclong." ujar Dirga tertawa. "Keliatan yah?" tanya Aisa cengengesan. "Banget lah, pantes aja muka lo keliatan lebih bersinar dari biasanya." "Ih sok tau, Kak Dirga. Kita aja terakhir ketemu minggu lalu udah lama. Tau dari mana muka Aisa teh lebih bersinar dari biasanya? Emang muka Aisa lampu taman bersinar."  Mendengar gerutuan Aisa, Dirga sontak tertawa keras. Dia tidak pernah menemui gadis sepolos Aisa sebelumnya. "Lo lucu banget sih, Ais. Gemes gue, gigit boleh gak nih?" "Enak aja gigit-gigit! Aisa bukan apel yah yang harus digigit gitu." kesal Aisa. "Abis lo sih, polos banget kaya p****t bayi." "Ih nyamainnya teh jelek pisan. Masa p****t disamain sama Aisa. Kak Dirga mah nyebelin." "Astaga, gemes...." Tangan kanan Dirga sudah terangkat hendak menyentuh pipi gembul Aisa, namun sebuah tangan lain lebih cepat menahannya. Dirga menoleh ke kiri melihat seseorang lelaki berdiri di sebelah Aisa agak jauh tengah menatapnya tajam. Lelaki itu melepaskan tangan Dirga dengan kasar. Bahkan Dirga sampai menaikkan satu alisnya melihat kelakuan lelaki itu yang tampak terusik karenanya. "Tangan lo dijaga, dia bukan mahram lo." "Sorry, gue gak tau. Gue minta maaf, Ais." ujar Dirga tanpa menghiraukan perkataan orang itu. "Iya, Aisa maafin Kak. Tadi juga gak tersentuh kok. Makasih juga, Kak Panca." "Lo ngapain sih berduaan sama dia disini? Liat dong sekeliling lo, sepi! Gak banyak orang di sekitar kalian. Udah jam masuk kelas juga ini. Katanya lo ngerti agama, berduaan sama lawan jenis itu nanti yang ketiganya setan. Gitu aja gak tau!" "Setannya lo dong, Pan. Orang ketiga." "Gue serius, Ga. Aisa bukan kayak cewe-cewe yang sering lo deketin, tiap ada tempat sepi paling semangat. Aisa bukan cewe begitu, gue harap lo bisa jaga sikap lo itu." "Kenapa lo jadi sewot banget begini? Lo Kakaknya Aisa? Perasaan cerewet banget kalau soal dia." "Gue cuma ngasih tau lo. Mendingan jauh-jauh deh lo dari Aisa! Dia terlalu polos buat berhadapan sama cowo kayak lo."  "Urusan gue dong! Kenapa lo jadi ikut campur apa yang mau gue lakuin?" sambar Dirga sinis. "Dengar yah, Ga. Kalau lo sampai macam-macam sama Aisa, gue yang bakal lo hadepin!" ujar Panca berbisik tepat di depan Dirga agar tidak terdengar Aisa. "Lo ngancam gue? Atau lo tantang gue?" "Coba aja sentuh dia, gue jamin tangan lo bakal patah setelahnya. Gue gak pernah bercanda. Lo bisa coba sekarang." ujar Panca dengan tatapan mengintimidasi. Disaat kedua lelaki itu tengah bersitegang, Aisa menggaruk tengkuknya yang terturup hijabnya. Dia menelengkan kepalanya bingung karena tidak bisa mendengar apa yang tengah dikatakan oleh Dirga dan juga Panca. Kenapa juga keduanya harus berbisik-bisik? Padahal Aisa juga ingin ikut nimbrung untuk mengobrol juga. "Kok ngomongnya pada bisik-bisik gitu sih? Aisa juga pengen diajam ngobrol." celetuk Aisa membuat kedua lelaki itu tersadar dan mundur beberapa langkah. "Kayaknya gue harus ke kelas sekarang, udah telat. Gue duluan Ais. Bye!" "Asaalamu'alaikum kak." "Oh iya, Asaalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." jawab Aisa bebarengan dengan Panca yang menjawab lirih. Panca melirik Aisa setelah kepergian Dirga, "Kita ngomong di tempat agak ramean, jangan disini." Panca sudah berbalik menuju ke dalam kampus, namun lelaki itu terhenti saat dirasakannya Aisa tidak mengikuti dirinya. Dia kembali berbalik dan benar saja. Aisa masih berdiri di tempat terakhir tadi. "Ais...." "Aisa gak mau Kak Panca marah lagi kayak kemarin. Janji dulu Kakak gak akan usir dan marahin Aisa lagi." ujar Aisa dari kejauhan. Mendengar keluhan Aisa, hati Panca menjadi tersentil. Dia jadi teringat kejadian satu minggu lalu yang sangat bukan dirinya. Dadanya kembali terasa nyeri saat mengingatnya. Perasaan bersalah jadi timbul lagi saat mendengar perkataan dari Aisa. "Gue janji gak akan begitu lagi. Maaf, Aisa." ©©© TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD