"Tidak ada yang bisa menyalahkan rasa yang hadir karena terbiasa"
- Panca Nugraha -
©©©
Dapur Rumah Panca saat ini menjadi lebih hidup dibanding sebelumnya. Jika biasanya yang memasak hanyalah Sang Ibu saja, maka kali ini berbeda. Sore ini yang seharusnya Panca pergi bersama anak-anak Saka Buana untuk kumpul-kumpul di cafe, lebih memilih untuk duduk di kursi pantry kecil yang langsung menghadap ke arah dapur.
Pemandangan dapur Rumahnya saat ini lebih menarik dibanding cafe menurut lelaki itu. Kenapa? Tentu saja karena gadis berjilbab abu-abu yang tengah memotong-motong kol tepat menghadap meja dimana Panca duduk. Siapa lagi gadis berjilbab yang bisa begitu akrab dengan Ibu kesayangan Panca selain Aisa.
Aneh memang, seharusnya yang saat ini Panca ajak ke Rumah bukanlah Aisa melainkan Anestia. Namun seperti biasanya, gadis itu sangat sulit untuk diajak bertemu dengan keluarganya. Saat Panca mengajaknya maka gadis itu akan memberikan banyak sekali alasan yang selalu tidak bisa Panca tolak.
"Kak Panca ngapain duduk ngeliatin disitu? Mendingan teh bantuin masak disini."
"Bantuin apa? Aisa perlu bantuan apa, hm? Sini-sini Kak Panca bantu." jawab Panca berdiri dari duduknya hendak menuju ke arah Aisa.
"Halah modus! Ibunya tiap hari masak aja gak pernah dibantuin." celetuk Aira melirik ke belakang menyindir Panca.
"Aduduh ada yang cemburu nih gak dibatuin sama Panca?"
"Siapa yang cemburu? Geer kamu!"
"Mama gimana sih? Katanya pengin cepet punya menantu, masa Panca baru begini aja udah cemburu sih?"
"Hadeuh, iya deh sana! Pepet aja terus, tapi inget yah? Jangan pegang-pegang, bukan mahramnya! Kecuali..."
"Kecuali apa, Tante?" tanya Aisa.
"Kecuali ijab qobul sudah berkumandang, baru boleh pegang-pegang. Bahkan lebih juga gapapa."
"Mama, apaan sih? Gak usah di dengerin, Ais! Tutup kuping lo, Mama kadang kalau ngomong suka gak disaring dulu."
"Ngapain tutup kuping? Udah denger juga tadi." jawab Aisa dengan wajah datarnya.
"Iya juga sih."
Aira hanya terkikik melihat anak lelakinya menggaruk tengkuknya seperti orang bodoh.
"Kakak beneran mau bantu gak?" tanya lagi Aisa.
"Iya, apa yang bisa dibantu emangnya?"
"Itu cabe, tomat, sama bawang putih bawang merah tolong dipotongin dong. Gak perlu tipis-tipis, agak gedean aja buat nanti dibikin sambal."
"Ngapain pake sambal? Dengerin Mama ngomong aja udah bikin pedes kok." ujar Panca menahan tawa, begitu juga Aisa saat mendengarnya.
"Terusin aja, Pan. Nanti Mama kutuk kamu jadi suaminya Aisa! Gapapa." sahut Aira balik menggoda putranya.
"Kok jadi suami Aisa? Emang ada kutukan kayak begitu?" tanya Panca heran.
"Ada, cuma Mama yang bisa ngelakuin itu."
"Tante Aira bisa aja, gak mungkin lah Kak Panca jadi suami Aisa." timbrung Aisa.
"Kok gak mungkin?" tanya Panca.
"Kalau Kak Panca jadi suami Aisa, yang jadi suami Kak Anes siapa? Kak Panca kan pacarnya Kak Anes."
Jawaban Aisa seperti menampar Panca dengan sangat keras. Dia jadi teringat kalau dirinya bukan lelaki single yang bisa mendekati Aisa dengan mudah. Dia sudah memiliki status dengan Anes yang bahkan sekarang Panca rasakan semakin tidak jelas. Entah karena Panca yang merasakan seperti itu atau karena memang hubungan mereka sudah benar-benar tidak jelas. Panca juga tidak tahu.
"Siapa itu Anes?" tanya Aira.
"Pacar Panca yang asli."
"Oh jadi kamu beneran punya pacar? Kirain bohong. Soalnya gak pernah dibawa ke Rumah sih."
"Udahlah Ma, gak usah dibahas."
"Siapa yang mau bahas? Daripada si Anes itu, mendingan kamu seriusin Aisa aja. Dia yang sekarang ada disini, kenal sama Mama, sama keluarga kamu. Kalau cewe itu? Boro-boro kenal, tunjukin batang hidungnya aja gak pernah."
"Maa..."
"Kak Panca itu cepetan cabenya dipotongin! Ini Aisa udah mau selesai bentar lagi mau bikin sambalnya." ujar Aisa mengerti situasi antara Panca dan Aira.
"Males, udah gak mood gue." jawab Panca lalu pergi meninggalkan dapur.
Aira menghela nafasnya, "Anak itu selalu begitu kalau dinasihati soal pacarnya. Tante tau dia gak suka nyakitin perempuan, tapi kalau dia yang disakiti disini. Tante yang gak terima, Ais."
"Tapi Tante gak boleh terus maksa Kak Panca kayak gitu. Aisa sama Kak Panca itu udah sepakat buat jadi teman. Kalau Tante begitu, nanti Kak Panca gak akan bisa jadi teman Ais lagi kayak sebelumnya itu. Tante mau Aisa gak lagi dateng ke sini?"
"Jadi, Tante yang salah?"
"Bukan maksud Ais mau nyalahin Tante, cuma kalau bisa, Tante jangan terlalu memaksa kehendak dari Kak Panca. Biarkan Kak Panca memilih jalannya sendiri asalkan tetap di jalan yang benar."
"Iya, mungkin Tante memang terlalu memaksa Panca. Terima kasih atas masukannya Aisa. Tante bisa minta tolong gak sekarang?"
"Apa, Tante?"
"Kamu susulin Panca yah? Mungkin dia ada di ruang tengah, tolong redain emosi Panca. Kamu tenang aja, ruang tengah itu ada dinding kaca yang tembus ke halaman samping rumah. Disana ada Mang Kirno lagi beberes kebun, jadi kalian ada yang ngawasin."
"Terus ini sambalnya gimana, Tan?"
"Tenang aja, Tante bisa urus kok."
"Yaudah, kalau gitu Aisa pergi dulu."
"Iya, makasih yah Aisa."
"Iya, Tante."
Setelah itu, Aisa keluar dari dapur menuju ke arah ruang tengah. Saat berjarak beberapa meter dari ruang tengah, Aisa bisa melihat Panca tengah melemparkan ponsel yang tadi sempat menempel di telinga lelaki itu. Aisa mengerutkan keningnya melihat kejadian itu.
Tidak lama kemudian, Aisa sudah duduk disamping Panca dengan jarak sekitar satu meter. Panca tidak menoleh ke arah Aisa, dia hanya menatap televisi yang berlayar gelap karena tidak menyala.
"Tv-nya bagus. Sayang gak nyala." ujar Aisa membuka percakapan.
"Kalau mau nonton tinggal pencet aja remote-nya." jawab Panca.
"Kak Panca marah sama Aisa?"
"Kenapa lo nyimpulin kayak gitu?"
"Kak Panca gak mau liat ke Aisa."
"Gue gak marah, Ais." jawab Panca sambil menatap Aisa.
"Terus?"
"Gue lagi kesel aja, dari kemarin gue gak ketemu sama Anes. Dia juga susah dihubungin. Sekalinya diangkat cuma sebentar doang bilang dia lagi sibuk."
"Kak Panca marah sama Kak Anes?"
"Gue marah sama diri gue sendiri, Ais. Mungkin gue terlalu ngebosenin buat Anes."
"Kak Panca gak ngebosenin. Kak Panca lucu, Aisa senang kalau di dekat Kakak. Udah gitu Kak Panca tuh baik. Jarang juga laki-laki yang mau nganterin Mamanya belanja. Kakak itu langka, harus dilestarikan."
"Jadi menurut lo, gue itu semacam makhluk langka yang hampir punah gitu? Makanya harus dilestarikan?"
"Iyalah, jarang laki-laki bisa kayak Kakak yang selalu nurut apa kata Mamanya."
"Lo pikir gue hewan?"
"Emang siapa yang bilang Kakak hewan?"
"Itu tadi lo bilang gue harua dilestarikan?"
"Kak Panca sendiri yang nyimpulin, bukan Aisa."
"Tapi lo setuju."
"Aisa mah setuju aja kalau Kak Panca teh bener."
"Jadi gue bener kayak hewan yang mau punah gitu?"
"Hihi.. bukan hewan, tapi calon suami yang langka. Mau tau kenapa? Kak Panca sama Mamanya aja bisa sayang banget, apalagi sama istrinya nanti. Makanya, Kak Panca itu langka menurut Aisa."
Panca speechles, jantungnya kembali berdebar jauh lebih kencang dari biasanya. Ini adalah pertama kali Aisa melontarkan kalimat pujian mengandung gombalan juga.
"Lo juga, calon istri yang langka. Perintah Allah aja lo selalu lakuin, apalagi sama suami lo nanti. Lo jauh lebih langka, Ais."
"Jadi intinya kita berdua perlu dilestarikan yah, Kak?" ujar Aisa terkekeh.
"Iya, makasih Aisa."
"Kok makasih?"
"Lo selalu bisa ngehibur gue, jangan jauh-jauh dari gue yah? Gue bakal selalu butuh lo disamping gue."
"InsyaAllah."
Aisa tersenyum saat menjawab permintaan Panca. Senyum yang selalu menyiratkan banyak arti dari dirinya yang tidak pernah bisa diketahui banyak orang kecuali dirinya sendiri.
©©©
TBC