“Thanks, Kakak. I love you, Kak Killa...” Kedua kakak beradik itu terus berdebat, mengabaikan Syakilla yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah suami dan adik iparnya. Hari sudah semakin siang, Fatih dan Syakilla telah meninggalkan keluarga mereka di lantai bawah dan kembali masuk kedalam kamar. “Fatih... Ini handuk bersih ya kalau mau mandi. Nanti aku ke bawah ambilin pakaian kamu kalau Furqan datang,” Syakilla memberikan handuk bersih yang baru diambilnya dari lemari. Fatih yang cuek langsung melepaskan pakaiannya di depan Syakilla, membuat wajah istrinya merah padam dan panik. Ia hanya menundukkan kepala karena jantungnya terus berdegup kencang saat melihat d**a bidang Fatih yang telanjang. Otot perutnya yang menonjol dengan bulu-bulu halus diantara d**a hingga bagian perut. Benar-

