Setelah Auris siap hendak sarapan ia mengetuk pintu balkon. "Damian, aku ke bawah," katanya memberitahu. "Selamat sarapan, Nona!" ucap Damian. Sudah terbiasa dengan rutinitas ini. Kadang ia tak langsung pergi setelah mendengar jawaban dari pria di balik pintu sana. Seperti kali ini, ia mendapat jawaban berbeda, terasa lebih dekat. Lebih spesial. Biasanya ia hanya mendengar jawaban 'baik Non,' tapi tidak kali ini. Hal itu membuat-nya berlama-lama di balik pintu. Tersenyum sendiri, menggigit jari telunjuknya. Tiba-tiba pintu membuka, otomatis membuat tubuhnya mundur mengikuti pintu. Dengan sigap tangan kokoh Damian menangkap dua lengannya yang langsing, dan punggungnya mendarat di d**a yang kuat milik Damian. "Hhh...!" "Maaf, Nona." Damian melepas setelah memastikan Auris sudah berdiri

