Bab 2 – Duda Bahagia, Janda Gelisah

1102 Words
Hari itu, suasana Griya Asri Blok E terasa berbeda. Udara pagi yang biasanya hanya dihiasi aroma kopi dan suara ibu-ibu menyapu halaman, kini diselipi getaran misterius—getaran yang hanya bisa dirasakan oleh hati-hati yang sedang haus perhatian. Dari balik tirai rumah masing-masing, empat wanita dengan status yang sama tapi niat berbeda, bersiap menyambut makhluk langka yang baru saja menginjakkan kaki di lingkungan mereka: seorang duda muda, tampan, dan... masih segar dari segi mental dan fisik. Rian, nama yang tersebar dengan kecepatan cahaya sejak pagi itu, sedang sibuk menurunkan barang-barang dari mobil pickup. Posturnya tinggi, kulitnya sawo matang dengan potongan rambut pendek rapi, dan gaya pakaiannya sederhana tapi bersih. Kaos putih ketat menempel di tubuhnya seperti cover majalah kesehatan, celana jeans belel yang memperlihatkan betis kekar, dan—yang paling bikin jantung Suci berdetak dua kali lebih cepat—tatapan mata tajam yang seperti bisa membelah pintu rumah. Suci yang biasanya tenang, kali ini berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Lipstik merahnya dipulas ulang tiga kali. Eva sudah duduk manis di teras, lengkap dengan novel yang tidak dibaca dan kacamata hitam yang tidak menghalangi tatapan mata. Lestari bahkan sudah berpura-pura menyiram bunga dua kali dalam satu jam terakhir, padahal tanamannya sudah hampir busuk karena overhydrated. Dan Nurlita? Ia muncul dengan dalih antar tumpukan kotak amal dari RT—lengkap dengan senyum “kebetulan lewat”. Ketika Rian membungkuk mengangkat galon air mineral dari bagasi mobil, waktu seolah melambat. Suci yang mengintip dari sela jendela hampir tersedak tehnya sendiri. “Astaga, itu punggung atau pahatan dewa Yunani?” gumamnya. Tapi momen puncaknya datang saat galon itu terlepas dari tangan Rian dan menggelinding pelan ke tengah jalan depan rumahnya. Dan seperti sudah ditulis di skenario drama Korea, tepat saat itu Eva membuka pagar dan berjalan keluar. “Wah, galon ya? Mau saya bantu, Mas?” Rian menoleh, tersenyum ramah. “Oh, terima kasih. Nggak usah repot, Bu…” Eva langsung tersentak. Bu. Kata terlarang itu menusuk lebih dalam daripada tusukan cucuk sanggul ke hati. “Eva aja, Mas. Saya masih... muda,” jawabnya cepat, lalu tertawa terlalu keras. Suci yang melihat dari balik jendela langsung menahan ketawa. “Wah, Eva kena first blood.” Tapi sebelum Rian sempat menjawab, Lestari muncul dari sisi kanan jalan. “Mas, ini galonnya ya?” katanya sambil mengangkat galon dengan dua tangan—padahal lima menit sebelumnya ia bilang punggungnya keseleo. Rian tersenyum lagi, kali ini sedikit bingung, tapi tetap sopan. “Wah, terima kasih, Mbak…” Lestari langsung melambung. Mbak! Levelnya naik dibanding Eva. Ia menoleh ke arah rumah Eva dan mengedip licik. Namun, saat ketiga wanita itu berkumpul di depan rumah Rian dengan berbagai alasan dan dalih, muncullah sosok paling tenang: Suci, dengan blazer tipis di atas daster dan sandal hak rendah, berjalan anggun sambil membawa... tanaman lidah mertua. “Selamat datang di lingkungan Blok E, Mas Rian, ya? Saya Suci, warga lama di sini. Ini ada sedikit tanaman dari kami. Katanya, bisa menyerap energi negatif. Tapi kalau Mas Rian bawa aura positif seperti ini sih... tanamannya bisa pensiun dini.” Rian tertawa pelan. “Wah, terima kasih, Bu Suci. Ini sangat... thoughtful.” Dan seperti Eva, hati Suci juga nyaris merosot ke lantai. Bu. Lagi-lagi Bu. Mereka semua pulang dengan perasaan campur aduk. Rian memang ramah, sopan, dan manis... tapi panggilan “Bu” itu seperti peluit penalti yang mengakhiri semua fantasi mereka. Namun, yang tak mereka sadari, dari balik jendela kamarnya, Rian sedang mengetik di grup w******p-nya sendiri. [Grup WA: BROCODE – Pindahan Dulu, Move On Kemudian] Rian: Baru pindah, tapi tetangganya cakep-cakep dan... agresif. Doakan selamat, bro. Ini bukan komplek, ini arena Hunger Games. *** Sore hari mulai turun pelan di Griya Asri Blok E. Langit jingga membentang indah, burung-burung pulang ke sarang, dan para janda mulai kembali ke "posisi strategis" masing-masing—teras depan rumah, lengkap dengan make up ringan dan baju santai yang sudah diperhitungkan dengan akurat berdasarkan arah mata angin dan kemungkinan lewatnya Rian. Namun di rumah Suci, suasana sedikit berbeda. Baru saja ia selesai mengganti daster kedua hari itu—yang lebih "kalem tapi tetap menggoda"—seseorang mengetuk pagar rumahnya dengan nada yang tidak biasa. Tok tok. Tok tok tok. Suci membuka pagar dan menemukan seorang pria berkemeja safari berdiri di sana. Sosoknya familiar: Pak Bambang, duda kaya dari blok sebelah, pemilik dua ruko, satu mobil antik, dan... tiga ekor kucing Persia yang dinamainya seperti mantan-mantan istrinya. Wajah Pak Bambang tak seperti biasanya yang ramah dan genit. Kali ini tampak agak tegang, seperti baru saja kalah tender. “Sore, Ci...” sapa Pak Bambang, menatap ke dalam rumah sebentar lalu berdeham, “Ada waktu sebentar? Boleh ngobrol?” Suci tersenyum sopan, meski dalam hati agak heran. “Boleh, Pak. Mau duduk di teras? Atau langsung aja, nih, maksud dan tujuannya?” Pak Bambang menarik napas panjang, lalu duduk sambil meletakkan tongkat kayu mahoni kesayangannya di samping lutut. “Saya tahu kamu udah denger soal penghuni baru itu. Si... Rian.” Suci menahan senyum, pura-pura tak tertarik. “Oh, si Mas Duda Startup itu? Ya, dengar-dengar aja... Kenapa emangnya?” Pak Bambang menatap Suci lama, lalu berkata pelan, “Saya tahu, Ci. Kamu perempuan cerdas. Mandiri. Tapi jangan lupa, kadang orang baru datang bukan untuk menetap... hanya untuk bikin kita goyah.” Suci menaikkan satu alis. “Pak Bambang, ini nasihat... atau ancaman lembut?” Pak Bambang tertawa kecil, tapi wajahnya tetap serius. “Bukan dua-duanya. Ini... peringatan dari seseorang yang sudah lebih dulu jatuh hati.” Suci menahan napas. Tidak mudah membuat hatinya tergetar, tapi Pak Bambang selalu tahu cara membuatnya berpikir dua kali. Ia memang bukan duda muda penuh d**a bidang dan senyum menawan, tapi dari dulu, dialah satu-satunya pria yang selalu mengantar kucing Suci ke dokter hewan saat kucingnya sakit dan Suci terlalu sibuk menonton drama Korea. “Aku nggak melarang kamu, Ci,” lanjut Pak Bambang, “Tapi... kalau kamu lari ke arah yang bersinar, jangan lupa lihat siapa yang sudah lama menunggu di tempat teduh.” Suci terdiam. Kata-kata itu—meskipun diucapkan sambil sesekali mengelus kumis dan memakai parfum menyengat khas bos koperasi—menyentuh sisi lembut dalam dirinya. Pak Bambang berdiri, merapikan kemejanya. “Saya pamit. Besok saya kirimkan martabak seperti biasa. Tapi kali ini, jangan dikasih ke Eva lagi ya. Saya tahu dia yang habisin isi keju kemarin.” Suci hanya tersenyum, mengantar Pak Bambang sampai pagar. Dan saat pria tua itu melangkah pergi, mata Suci kembali tertuju ke rumah Rian di ujung blok. Dalam hatinya, ia bergumam: “Yang satu matang dan stabil, yang satu baru dan menggoda. Tuhan... ujian janda kok makin hari makin rumit.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD