Chapter 46

1016 Words

"Ngapain kamu kemari? Kamu buntutin saya?" tanya Manika sengit, setelah membuka pintu. Dengan sengaja ia tak membuka pintu ru,ah lebar-lebar, agar pria gagah di depannya yang sedang menyengir kuda itu segera pergi. Petunjuk bagi pria itu kalau dirinya tak menerima tamu. "Buntutin kamu? Hmmm...." Rahadyan melipat tangan kanan di perut dan menumpukan tangan kiri, untuk kemudian mengusap-usap dagu, layaknya seorang pemikir yang sedang memastikan jawaban. "Sejujurnya, itu adalah niat awal saya saat pertama kali kita bertemu. Tapi, melihat mukamu yang judes, saya jadi gak berani buntutin kamu." "Trus, ini kenapa di sini?" "Takdir, mungkin. Atau memang jodoh." Rahadyan membungkuk agar kepalanya sejajar dengan kepala Manika. Ia menangkap manik mata Manika dan memberikan senyum jailnya untuk s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD