"Karena beliau, saya masih hidup." "Kenapa bisa begitu?" Dan Agasta menutup mulutnya rapat. Ia sudah tak ingin menjawab apa-apa. Sikapnya yang terus sibuk menguas pelapis kayu pada meja, menunjukkan jawabannya untuk Danica, bahwasannya pembicaraan sudah selesai. Tidak ada pertanyaan lagi dan tidak ada jawaban lagi. Danica terus mengamati wajah Agasta yang baginya terlihat jauh lebih kaku dan keras. Meskipun tatapannya serius pada meja yang sudah dibuat, namun Danica bisa melihat jika kedua mata itu sudah menarik jiwa Agasta pada tempat yang berbeda, entah di mana. Pasti terlah terjadi sesuatu pada Agasta. Sesuatu yang membuat nyawa pria itu sempat melayang dan ayahnya, Rahadyan memiliki andil penting untuk keselamatan Agasta. Itu yang bisa Danica simpulkan. Entah apa bentuk musibahnya,

