Air mata tidak bisa dibendung. Meski tak ada suara isak, tetapi air mata Danica meluruh deras. Ayahnya begitu dingin dengan senyum yang begitu hangat. Tatapan mata Rahadyan bahkan bersinar-sinar. Rahadyan tak mengenali Danica, namun kedua matanya tak beralih dari wajah Danica. "Manika belum pulang." Rahadyan bicara dengan suara gemetar. Suara seorang yang sudah sangat kedinginan. "Pa..., kita masuk, ya." Danica tidak tega lagi melihat bagaimana pucatnya wajah sanga ayah. Dirinya saja yang masih muda, mengenakan baju tidur yang sedikit tebal, masih dilapisi sweater dan kaos kaki, saat di luar begini, rasa dingin masih tembus ke dalam daging. Apalagi ayahnya yang hanya mengenakan piyama . Bahkan Ayahnya tak mengenakan sandal. Saat Danica akan berdiri, jemari Rahadyan menangkap jemari D

