Chapter 22

1090 Words

"Nah, ini blendernya." Mbok Min keluar dari gudang dengan membawa blender makanan dan buah berwarna putih. "Apa masih bisa dipakai, ya?" Mbok min menyodorkan blender yang terlihat sangat bersih, dengan mesinnya ke Agasta yang duduk di dipan dekat kompor kayu. Agasta pun segera berdiri dan menerima blendera yang tadi dia minta. "Masak pakai kayu begitu apa tidak kelamaan, Mbok?" tanya Agasta sembari memeriksa mesin dan tabung blendernya. "Kalau masak air untuk mandi, ngukus atau bakar-bakar, enak pakai kayu, Mas. Gak boros gas. Juga matengnya makanan itu pas. Rasanya juga beda. Coba dites di sini, Mas." Mbok Min menunjukkan colokan listrik di dekat meja segi empat. Agasta menurut dan mulai menguji mesin blender yang ternyata masih berputar. Agasta tersenyum dan bergegas masuk ke dalam.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD