*Kejadian yang menimpa Dewi masih meninggalkan sebuah misteri, ada apa sebenarnya di lokasi itu dan mengapa orang-orang kampung seolah menutup-nutupi dan merahasiakan nya.,
Cerita ini berawal pada tahun 1990an seorang nenek-nenek yang akrab dipanggil nenek sum tinggal di sebuah desa di pedalaman hutan dekat lereng gunung,
Nenek tersebut *maaf, sedikit kurang waras, dalam keseharian nya nenek sum kemana2 selalu membawa boneka dan boneka tersebut ia beri nama Mening.
Karena menurut masyarakat nenek sum merupakan orang yang baik walau kurang waras tapi beliau tidak pernah menyakiti dan mengancam siapapun.
Nenek sum tinggal sendirian di sebuah rumah di tengah2 desa itu dan untuk kebutuhan sehari-hari warga dan tetangga nya dengan ikhlas memberi makanan untuk nenek sum setiap harinya terkadang juga memberi sedikit uang untuk kebutuhan.
Desa yang tenang, kebun-kebun yang panennya berlimpah, suasana kekeluargaan yang melekat antar warga, sangat damai..
Hingga pada suatu hari di hari Sabtu datanglah seorang anak gadis bernama Mira, datang bersama keluarga nya dari kota
Mira yang merupakan cucu dari pak RT yang sudah lama tak bertemu, turun dari mobil bergegas lari menghampiri sang kakek dan memeluk nya.
"Kakeeek.." teriak Mira dengan penuh semangat.
" ini Cucu kakek gak terasa sudah besar sudah pintar ya..?" Ujar pak RT sambil memeluk cucunya.
tak butuh waktu yang lama, Mira pun segera akrab dengan anak-anak lain teman-teman sebayanya di kampung itu, termasuk juga akrab dengan nenek sum
Mira juga mempunyai boneka perempuan kecil yang menjadi boneka kesayangannya, ia pun kemana-mana bermain membawa bonekanya,
Hal itu membuat nenek sum tertarik mendekati Mira.
"Cantik sekali bonekamu itu nak..?" Tanya nenek sum yang juga sambil memperlihatkan bonekanya.
"Boleh nenek tau siapa namanya..?"
"Iya nek, boneka ini namanya ciki.. boneka nenek juga bagus..? Jawab Mira
Nenek sum mengajak Mira bermain bersama, tanpa curiga sedikitpun Mira bermain boneka dengan nenek sum, terus bermain hingga lupa waktu sampai Mira di jemput oleh ibunya.
Hari demi hari pun berlalu Mira pun semakin nyaman bermain boneka bersama nenek sum. Tak terasa 1 Minggu berlalu, kini waktunya Mira dan keluarga kembali ke kota, iapun berpamitan dengan teman-teman juga nenek sum.
Mendengar kabar ini terlihat nenek sum raut wajahnya sedih, lalu berkata
"Bolehkah nenek meminjam ciki sebentar saja, kasihan mening kalau kamu pulang membawa ciki pasti dia akan kesepian..?"
"Tentu saja nek, aku berangkat besok pagi jadi hari ini kita masih bisa main bareng untuk terakhir kali" jawab Mira
Hari Minggu yang tenang di waktu senja, tiba-tiba keamanan kampung (hansip) bernama Heri bersama warga berlari mendatangi pak RT sambil berteriak. "Pak RT.. Pak .. Pakk..!"
Pak RT yg berada di dalam rumah sontak terkejut dan bergegas keluar, betapa kagetnya pak RT melihat situasi ini.
"Mira pak... MIRA KAMI KETEMUKAN SUDAH MENINGGAL TENGGELAM DI SUNGAI DALAM HUTAN..!"
Mira yang di bopong oleh warga sudah tak bernyawa, melihat hal ini pak RT dan orang tua Mira lantas menangis histeris seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi..
Waktu berlalu, kejadian ini masih menjadi misteri di kampung itu karena tidak ada yang melihat langsung awal terjatuhnya Mira ke sungai.
7 hari sudah waktu berlalu, acara doa kepergian Mira di rumah pak RT, suasana yang penuh haru. Heri (hansip) ditugaskan membagi-bagikan makanan ke rumah-rumah tetangga.
Hingga tiba di rumah nenek sum.
"*Tok tok tok... Nek.. nekk..?" Heri memanggil.
Terus memanggil namun tidak ada jawaban, Heri yang merasa khawatir terjadi apa-apa karena sang nenek tinggal sendirian ia pun masuk ke rumah nenek sum.,
Mencari nenek sum tapi tidak ada, hingga masuk lah Heri ke dalam kamar nenek. Betapa kagetnya Heri menemukan ciki Boneka kesayangan Mira berada di meja samping tempat tidur nenek, boneka itu diletakkan berjejer dengan mening boneka nenek.
-bersambung...