Rafael sangat merindukan mate-nya, bertanya-tanya kapan Isabelle akan pulang. Semalam Isabelle menghubunginya, untuk memberi tahu kalau sebelum pulang ke rumah mereka, ia akan mengunjungi bibinya terlebih dahulu. Rafael mendesah penuh keputusasaan. Ia harus melalui waktu yang lebih lama lagi tanpa bisa melihat mate-nya, merasakan sentuhannya, dan mendengar suaranya yang menghangatkan hatinya. "Dad?" Suara putra kecilnya menyadarkan Rafael dari lamunan muramnya. Ia memandang Caleb dengan rasa bersalah karena sedikit mengabaikan putranya itu selama beberapa hari belakangan. "Hei, Nak. Kemarilah," pinta Rafael yang langsung dituruti oleh Caleb tanpa banyak perdebatan. Rafael mengangkat Caleb dan mendudukkannya di meja kerja yang terletak di hadapannya, setelah menepis beberapa lembar ker

