CHAPTER 11

1223 Words
Rafael memandangi dua orang yang berharga untuknya dengan perasaan membuncah karena dipenuhi oleh kebahagiaan. Air matanya sekali lagi mengancam akan tumpah jika ia tidak segera menenangkan diri. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu olehnya bisa menjadi kenyataan. Entah sudah berapa lama semua pemandangan ini hanya menjadi bayangan di dalam benaknya saja. Isabella, mate-nya ada di hadapannya, tertawa bahagia bersama anaknya. Rafael tidak tahu apa yang lebih membahagiakan dari ini. Semua penantiannya selama ini tidak sia-sia, karena apa yang didapatkannya saat ini benar-benar berharga untuk diperjuangkan. Selama melanjutkan pekerjaannya, Rafael mencuri-curi pandang pada mereka berdua, menyaksikan keakraban mereka. Sebelumnya Rafael ragu ketika berencana untuk mempertemukan mereka. Begitu banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam benaknya. Bagaimana jika Isabelle tidak bisa menerima Caleb? Dan bagaimana jika kenyataan yang ada membuat Isabelle mundur dan menjauhinya? Namun sekarang pertanyaan-pertanyaan itu bisa dienyahkannya. Dan Rafael sangat bersyukur karena hari ini akhirnya datang dan berakhir dengan baik. Siapapun yang menyaksikan ini tidak akan percaya bahwa mereka baru berkenalan beberapa jam yang lalu. Rafael hanya berharap Isabelle bisa menerima perasaannya dan bersedia hidup dengannya selama mungkin, sampai maut memisahkan. Rafael tidak tahan mengingat betapa kosong hidupnya sebelum bertemu dengan Isabelle. Dan pastinya akan lebih parah jika Isabelle memutuskan untuk meninggalkannya setelah mate-nya itu bersedia menerima usulannya untuk saling mengenal satu sama lain. "Selamat Alpha," ucapan selamat bertubi-tubi mengalir melalui mindlink-nya membuat Rafael tersadar bahwa sejak tadi tanpa sengaja ia membuka mindlink yang biasanya hanya digunakan untuk berkomunikasi mengenai hal penting saja. Kini Rafael yakin semua anggota pack-nya telah mengetahui kebahagiaannya. Tapi Rafael tidak keberatan soal itu. Biarlah mereka tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini. Mereka semua berhak tahu bahwa Luna mereka akhirnya telah datang seletah melalui penantian yang cukup lama untuk mengisi posisi sebagai pendamping Alpha mereka. Sekitar satu bulan yang lalu, saat Rafael menemukan Isabelle di klub malam yang berisi dengan berbagai macam laki-laki yang melihat mate-nya dengan pandangan lapar, ia memutuskan akan membawa Isabelle ke rumahnya, dan hidup bersamanya. Kenyataan bahwa mate-nya itu adalah seorang manusia membuat Rafael memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa membuat Isabelle menuruti permintaannya. Saat itu Rafael memergoki seorang pria yang memasukkan sesuatu di minuman Isabelle, tanpa pikir panjang ia menyudutkan pria itu, dan kemudian menghajarnya sampai pria itu tidak sadarkan diri. Namun sayangnya, saat ia kembali untuk mengamati Isabelle yang saat itu duduk sendirian tanpa satu pun temannya, minuman itu sudah terlanjur berada di tangan mate-nya. Rafael terus-menerus mengawasinya, hingga minuman yang tadi belum sempat diambilnya dari bartender membuat Isabelle mulai terhuyung dan perlahan-lahan tidak sadarkan diri. Pada saat itu juga, dengan secepat kilat, Rafael menghampiri Isabelle sebelum perempuan itu jatuh. Tangannya yang kokoh membopong tubuh Isabelle melewati gerombolan pengunjung klub malam yang sangat sulit untuk ditembus. Saat itu, kekhawatiran merupakan satu-satunya perasaan yang ada dalam benaknya. Takut akan keselamatan Isabelle. Baru setelah yakin bahwa Isabelle hanya meminum obat tidur, bukan obat-obatan yang membahayakan, akhirnya Rafael bisa sedikit lega. Terbersit dalam benak Rafael untuk membawa Isabelle ke rumah miliknya, tempat seharusnya Isabelle tinggal, seatap dengannya. Tapi Rafael segera mengenyahkan pikiran itu, dan memutuskan untuk membawanya ke hotel yang nyaman untuk tempat bermalam mate-nya. Rafael sudah mengamati Isabelle tidur selama berjam-jam ketika sisinya yang lain, yang lebih buas tidak bisa dikekang lagi dan mengambil alih tubuhnya. Rafael diam tak berdaya membiarkan insting menuntunnya setelah itu. Dalam keadaan setengah sadar, ia membuat tanda-tanda kemerahan di sekujur tubuh Isabelle untuk menunjukkan kepada mate-nya bahwa perempuan itu sudah menjadi milik Rafael, dan tidak ada yang dapat mengubah kenyataan itu. Rafael juga ingin membuat aromanya menempel erat di tubuh Isabelle, agar semua makhluk supranatural di luaran sana mengetahui status Isabelle sebagai miliknya. Ia tidak ingin Isabelle terluka atau direbut oleh laki-laki lain. Rafael tidak akan pernah membiarkan itu terjadi selama ia masih hidup. Ketika makhluk buas dalam dirinya sudah puas memenuhi permukaan kulit Isabelle dengan kissmark, Rafael baru mendapatkan kendali penuh atas dirinya sendiri. Ia tidak terkejut dengan apa yang dilihatnya, tahu bahwa jauh di dalam dirinya, keinginan untuk memiliki mate-nya sangat lah besar. Rafael tersenyum puas mengamati tubuh mate-nya yang sedang tertidur. Pagi datang dengan sangat cepat ketika Rafael bersama dengan Isabelle, walaupun ia hanya diam mengamati dan sesekali menyentuh tubuh mate-nya, tetapi tidak lebih dari itu. Rafael tidak keberatan menunggu lebih lama jika itu berarti Isabelle akan menjadi miliknya sepenuhnya dengan sukarela. Sebelum pergi dari sisi Isabelle, ia memastikan untuk meninggalkan jejaknya melalui sebuah kartu ucapan. Membiarkan mate-nya tahu bahwa ia terikat, tidak lagi bebas. Rafael memastikan agar pihak hotel tidak memberitahukan identitasnya pada Isabelle. Kedudukannya sebagai salah satu orang penting sangat membantu rencananya. Begitu pula saat ia menggunakannya untuk membujuk ayah Isabelle, agar menggiring putrinya ke kantor Rafael dan berada tepat di dalam dekapannya. Mungkin caranya memang salah dan tidak terhormat, tapi Rafael tidak peduli asalkan ia bisa memiliki Isabelle dalam hidupnya. Ayah Isabelle merupakan pria yang mudah diarahkan hanya dengan sedikit iming-iming. Rafael bisa memberikan itu hanya dengan sedikit usaha dari pihaknya. Perlahan tapi pasti Isabelle akan jatuh ke dalam ikatan yang menyatukan jiwa dan raga mereka, hingga akhirnya sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Rafael tidak berniat untuk kehilangan Isabelle lagi. Sekali saja sudah cukup. Sulit sekali baginya untuk menjauhkan tangan dari mate-nya, yang sampai sekarang masih tidur di kamar yang terpisah darinya, meskipun berada dalam satu rumah. Rafael selalu terbangun di malam hari, lalu diam-diam memasuki kamar Isabelle hanya untuk melihat mate-nya tertidur. Wajahnya seperti malaikat yang dikirim khusus untuk Rafael. Rambut kecoklatan yang halus, hidung sempurna, dan bibir yang indah. Semua itu sangat menggoda Rafael hingga ke bagian terdalam dirinya. Di malam-malam itu, Rafael selalu membayangkan mata sewarna zamrud itu akan terbuka dan berbalik memandang dirinya. Setelah itu, bibir indahnya akan tersenyum manis ketika menemukan Rafael di kamarnya, menunggu Isabelle terbangun. Tapi semua itu tidak pernah terjadi, hanya ada di angan-angan Rafael saja. Entah sampai kapan Rafael harus mencegah dirinya memiliki Isabelle sepenuhnya. Rasanya hampir tak tertahan memikirkan Isabelle berkeliaran tanpa tandanya melekat di lekukan leher indahnya itu. Bukan tanda sementara seperti yang telah diberikannya, melainkan tanda yang lebih permanen. Tanda yang akan terus membekas selama-lamanya. Sudah sejak dulu Rafael ingin melihat Isabelle dengan tanda itu. Tapi rasa takut akan penolakan Isabelle menghentikannya. Kenyataan bahwa ia harus mengatakan jati dirinya yang sebenarnya saat berniat untuk menandai Isabelle membuatnya rapuh. 'Bagaimana jika Isabelle meninggalkanku?' batinnya dengan kepedihan yang sangat kentara. Sekarang, ketika pandangannya menyaksikan mate dan putranya bercengkerama bersama, Rafael berjanji akan mengerahkan semua kemampuannya untuk melindungi mereka. Apapun yang terjadi, Rafael ingin keluarga kecilnya bersama selamanya, hidup dengan bahagia. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah berusaha menyembunyikan rahasianya dari Isabelle sebaik mungkin. Setelah itu ia harus membuat Isabelle jatuh cinta padanya sampai tidak sanggup lagi meningalkannya, bahkan ketika semua rahasia telah terungkap. Jika saat itu terjadi Rafael berharap Isabelle sudah mencintainya sedalam cintanya pada perempuan itu. Walaupun begitu, Rafael juga berharap Isabelle tidak akan menemukan kenyataanya. Meskipun sebenarnya Rafael sadar bahwa cepat atau lambat kebenaran juga harus terbuka agar tidak ada rahasia lagi di antara mereka. Rafael tidak sanggup membayangkan Isabelle membencinya jika mengetahui kebenarannya bukan langsung darinya, lalu menatapnya dengan raut wajah penuh kemarahan dan rasa benci. Hanya membayangkannya saja hati Rafael terasa sakit dan mendadak keputusasaan melingkupi dirinya. 'Ah, aku melamun terlalu lama," batin Rafael saat melihat jam kantornya hampir berakhir, namun pekerjaannya masih belum tersentuh. 'Fokus lah Rafe, kau harus cepat menyelesaikan ini jika ingin bersama mereka,' tegurnya pada diri sendiri. Ia sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama Isabelle dan Caleb.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD