Minggu pagi adalah jam yang biasanya Aletha gunakan untuk jogging, agar badannya sehat dan tentu saja untuk menjaga bentuk tubuhnya. Semua model harus menjaga tubuhnya tetap indah, bukan? Termasuk juga Aletha.
Aletha sudah siap dengan kaos hitam yang nyaman, celana training, sepatu sport dan tak lupa dengan earphone yang sudah ada di telinganya. Yap, Aletha sudah siap berlari di sekitar taman kompleknya. Disana juga sudah banyak yang jogging seperti dirinya.
Biasanya Aletha jogging dengan Gary, kekasihnya yang sudah 4 tahun menjalin hubungan dengannya. Tapi entah kenapa Gary mendadak ada urusan jadi tidak bisa menemaninya. Jadilah ia jogging sendirian.
“Aih jadi jones dong gue hari ini,” Aletha menendang kerikil kecil didepannya.
Gary adalah orang yang selalu peduli dan melindungi Aletha. Aletha sangat menyayangi Gary, dan Aletha berharap bisa seterusnya dengan Garynya yang bodoh itu.
Aletha segera keluar dari rumah lalu berlari-lari kecil menuju taman koplek. Hari ini ia tidak bisa lama-lama joging karena aku ada pemotretan 3 jam lagi. Padahal ia sudah cukup Lelah mengurus perusahaannya, tapi Aletha harus tetap menjalankannya. Toh dirinya juga suka kegiatan modellingnya.
Aletha mengedarkan pandangannya di tamankompleknya itu, cukup banyak juga orang yang sepagi ini sudah jogging, memang udaranya masih cukup segar. Dan banyak pula laki-laki yang melihat Aletha dengan kagum tapi diabaikan oleh Aletha karena ia juga sudah biasa menerima tatapan seperti itu.
DEG
Jantung Aletha berdetak cepat saat melihat pemandangan yang membuatnya sesak. Dihadapannya ada Gary yang sedang memunggunginya.
Gary? Dia ada disini?
Dan dia sedang berciuman dengan?
ALEXA?
Alexa kembaran Aletha sendiri?
Aletha menatap kosong dua orang yang tengah bermadu kasih itu. Harus sesakit apa lagi sekarang? Apa belum cukup dengan dia yang tidak disayangi oleh keluarganya sendiri dan sekarang orang yang dijadikan sandaran baginya juga mengkhianatinya? Dan kenapa harus dengan saudaranya sendiri? Salahkah jika saat ini ia benar-benar membenci Alexa?
Aletha melangkahkan kakinya menghampiri dua orang yang saat ini sangat dibencinya. Ingin sekali ia menjambak dan menghajar dua orang yang sedang dimabuk cinta itu. Tapi diurungkannya karena ia masihpunya sedikit rasa malu dan tidak mau mencari keributan.
"Gar?"
Untuk pertama kalinya Aletha memanggil Gary dengan nada yang sangat dingin. Gary dan Alexa terkejut melihat Aletha, tapi saat dilihat lebih teliti Alexa tersenyum penuh kemenangan.
"Leth? Sayang, aku bisa jelasin ini semua," ucap Gary berusaha memegang tangan Aletha tapi langsung ditepis dengan kasar.
"Gak ada yang perlu dijelasin lagi Gar. Mata gue udah cukup buat buktiin apa yang kalian berdua lakuin. Dan gue udah muak sama kalian berdua, udahlah kita putus ya Gar. Jangan sekalipun buat muncul di hadapan gue. Gue pergi, have fun ya kalian berdua,” ucap Aletha dingin dan segera meninggalkan dua orang itu.
Aletha berlari pulang menuju rumahnya. Ia segera masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan kedua orang tuanya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Ia berjalan dengan gontai lalu membanting tubuhnya di kasur queen size miliknya. Aletha menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
“Kali ini semua yang gue punya bener-bener udah lo ambil, Lex. Bahkan satu-satunya tempat gue bersandar juga udah berpaling ke lo. Kayaknya emang beneran gak boleh Bahagia gue tuh.” Aletha menghela nafasnya lelah.
Hatinya sakit tapi Aletha tidak mau menangis. Saat ini ia hanya mau berpikir realistis dan tidak mau menangisi apa yang sudah terjadi. Aletha juga tidak mau menangisi hal yang menurutnya tidak penting. Hanya membuang-buang waktunya saja dan ia tidak ingin menangis hanya karela lelaki.
"Daripada gue mikirin hal yang gak penting gini, mending gue mandi terus pemotretan. Nyari duit lebih penting daripada mikirin mereka.” Aletha bangun dan segera mandi dengan air dingin sekaligus menenangkan pikirannya.
Setelah mandi, Aletha segera mengambil tanktop hitam dan kemeja flanel kotak-kotak hitam-putih, dipadukan dengan hotpants. Untuk sepatu, Aletha mengambil converse putih kesayangannya. Untuk make up, ia hanya memakai make up natural lalu ia menguncir ponny tail.
Perfect.
Bisa dibilang Aletha itu sedikit tomboy, tapi anehnya ia bisa menjadi model yang terkenal. Tapi tentu saja tidak ada yang mengenalinya karena ia akan menggunakan make up yang membuatnya terlihat baby face dan terkesan imut.
Setelah siap, Aletha segera mengambil kunci mobilnya. Saat dibawah, ia melihat Alexa yang sedang menangis di pelukan maminya dengan baju yang cukup kotor. Aletha menatap datar mereka semua dan melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun.
"Hei anak tidak tau di untung! Kamu apain Alexa hah?!" teriak Farah, mamanya yang sedang memeluk Alexa, terlihat Alexa yang mengeluarkan seringaiannya di dekapan mamanya.
"Saya gak lakuin apapun ke Lexa, Nyonya Storm,” jawab Aletha dingin, dan ia enggan memanggil kedua orangtuanya dengan sebutan mama dan papa.
"Jangan bohong. Lexa bilang dia kamu dorong sampe jatoh dan bajunya kotor," ucap Dedi, papa mereka sambil menaikkan suaranya.
"Anak kalian ngomong gitu?" tanya Aletha dingin yang dijawan dengan anggukan oleh Dedi dan Farah.
Aletha menarik kerah baju Alexa sehingga pelukan mamanya terlepas, “Aletha!” Alexa berteriak pada Aletha yang saat ini menyeretnya keluar dari rumahnya lalu mendorong Alexa hingga jatuh dan bajunya semain kotor.
“Saya gak mau dituduh sembarangan, jadi mending lakuin sekalian kan? Toh walaupun saya nyangkal juga kalian gak bakal percaya.”
"Berani ya kamu?!" Tangan Dedi melayang ingin menampar Aletha tapi ditahan oleh Nathan.
"Jangan pernah Papa nampar adek Nathan," ucap Nathan dingin.
"Kenapa ditahan Bang? Biarin aja Tuan Storm ini nampar Letha biar dia puas." Sinis Aletha.
"Abang gak akan biarin kamu disakitin mereka lagi dek, Abang gak rela adik kesayangan Abang ditampar, apalagi sama orang tuanya sendiri." Nathan menatap Dedi dingin.
"Orang tua? Abang lupa ya kalo Letha itu gak punya orang tua?" Aletha memutar bola matanya malas. Benar bukan dirinya tidak memiliki orangtua saat ini? Orangtuanya toh tidak pernah peduli dengan dirinya.
"Oh jadi sekarang kamu ikut ngelawan ke orangtua kaya anak gak tau diri itu Nathan? Dan kamu Aletha! Apa yang kamu bilang? Harusnya kamu tuh bersyukur dilahirin dari keluarga kaya dan terpandang! Apa yang kamu mau cuma tinggal menjentikkan jari langsung terkabul! Tapi kamu malah begini? Dasar anak gak tau terimakasih!" Bentak Farah.
"Sayangnya saya gak butuh sama semua yang Nyonya Storm omongin tadi. Sekarang boleh saya pergi? Saya muak disini"
"Anak macam apa yang memanggil orang tuanya dengan sebutan nyonya dan tuan? Mulai sekarang semua fasilitas yang kamu punya bakal papa sita. Serahin ponsel, kunci mobil, motor, kartu kredit, Semuanya Papa sita," ucap Dedi emosi.
Aletha berjalan ke kamarnya mengambil semua yang disebutkan oleh papanya.
"Ini saya balikin semua yang pernah kalian kasih. Toh gak pernah saya gunain juga." Aletha menaruh kunci motor, mobil, 4 kartu kredit ke meja yang ada di hadapan orang tuanya.
"Jangan lupa handphone kamu, Aletha." Farah mengingatkan Aletha karena dirinya tidak menaruh ponsel di meja.
"Ini maksud Nyonya?" Aletha mengeluarkan ponsel model terbaru yang ada di saku kemejanya lalu membanting ponselnya dengan keras. Semua orang disana terkejut melihatnya.
"Maaf banget ya, ponsel ini milik saya sendiri, saya beli pake uang pribadi saya. Ponsel pemberian anda masih tersimpan rapi di dalam lemari saya putih yang ada di kamar saya, barang-barang yang kalian kasih juga masih lengkap tanpa saya sentuh sedikitpun. Kalian bisa ambil sendiri kalo kalian mau.”
"Apa?! Darimana kamu dapat uang buat beli ponsel itu? Kamu mencuri? Merampok? Dasar anak gak tau diri. Kerjaannya bikin malu keluarga terus." Dedi ingin sekali menampar Aletha tapi Nathan menghalanginya lagi.
"Kalo Tuan Storm mikir kaya gitu yaudah anggep aja saya ngelakuin itu buat dapet duit. Saya udah gak peduli apa yang kalian pikirin tentang saya. Yaudah saya pergi dulu. Perimisi." Aletha langsung nyelonong pergi dan membuat Dedi dan Farah sangat marah.
"Kamu mau kemana dek?" Teriak Nathan saat Aletha sudah hampir keluar dari rumah.
"Ke bank mau ngerampok!" Jawab Aletha ikut teriak.
"Tunggu!" Nathan mengejar Aletha yang sudah sampai di depan pintu tapi sebelumnya ia mengambil kunci mobilnya.
"Abang anter kamu dek." Nathan menahan tangan Aletha.
"Gak usah bang, Letha bisa sendiri kok." Ucap Aletha sambil tersenyum paksa.
"Pokoknya abang anter dan abang gak menerima penolakan." Nathan menuntun Aletha menuju mobilnya lalu membukakan pintu untuk Aletha.
Nathan keluar dari rumah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana?" Tanya Nathan.
"Ke Star Entertainment." Jawab Aletha santai sambil menatap keluar jendela.
"Star Entertainment? Ngapain kamu disana?" Nathan mengerutkan keningnya.
"Mau pemotretan. Letha model disana,” jelas Aletha tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu model? Kok abang gak tau? Dan kamu kenapa gak cerita sama abang? Kamu gak percaya sama abang?"
"Bukan gitu bang, cuma Letha belom siap aja buat cerita sama abang. Dan banyak hal yang gak abang ketahuin dari Letha bang. Letha pasti bakalan cerita sama abang kok, abang tenang aja.”