Cita-Cita Juan

1101 Words
Di rumah keluarga Hasbie hanya ada putri bungsu keluarga itu yang sedang menganggur di rumah, sedangkan Hasbie sendiri sedang ada di Dubai bersama Annie disisinya. Lalu Erisa, dia sedang mengurus class yang tidak dapat dia tinggalkan mata kuliahnya. Erisa berencana untuk izin beberapa hari untuk dapat menemani adiknya yang sendirian di rumah, tapi hal itu tidak akan dibiarkan terjadi oleh Aliana. Dia berhasil memaksa Erisa dan menyakinkan Erisa untuk dapat dengan tenang meninggalkannya di rumah. Walau untuk melakukan hal tersebut, Aliana butuh beberapa jam hanya untuk membahasnya bersama Erisa. Alasan Erisa adalah “kamu adikku, Papa dan Mama menitipkanmu padaku, jadi aku tidak akan kemana-mana dan menemanimu di rumah.” Tapi Aliana tidak akan takluk dengan ucapan seperti itu, dia tahu keluarganya khawatir padanya. Dia tahu dia dalam bahaya, dia juga tahu kalau dia terancam apalagi tinggal sendirian, tapi dia tidak nyaman jika merepotkan orang lain hanya untuk dirinya. Terlebih lagi Aliana merasa tidak nyaman karena biasanya jika ada Erisa maka aka nada Brian. Memang Brian tidak akan libur kuliah tapi setelah selesai jam kuliahnya dia akan kembali bersama dengan Erisa. Selalu menempel kata Aliana jengah. Aliana lega dan tenang karena Erisa menurut padanya atau lebih tepatnya menuruti kata-katanya untuk tidak menemaninya jika jam kuliah Erisa sendiri sedang berlangsung. Erisa tetap pada perkuliahannya dan Aliana tetap akan di rumah, dia berjanji tidak akan pergi keluar rumah jika tidak ditemani. Lalu bagaimana dengan Andrean? Andrean sedang tidak dapat dimintai bantuan, dia sedang mengurus urusan yang penting dan urgent katanya. Jadilah Andrean dihubungipun masih agak sulit dalam beberapa hari belakangan. Jadi Aliana benar-benar sendirian dirumahnya. Tanpa diketahui oleh Aliana, Erisa sudah meminta pada Brian untuk membantunya mengawasi Aliana. Jam kuliah Brian dan Erisa memang tidak sama lagi, Erisa dikeperawatan lebih banyak mendapat jam kuliah pagi hingga setengah hari atau menjadi seharian jika waktu dosen terpaksa mengganti jam kuliah mahasiswanya hilang karena absen. Sedangakn Brian, kuliah dikedokteran bukannya tidak sibuk dan tidak banyak tugas. Disemester yang sudah menua Brian semakin sibuk dengan tugasnya, persiapan untuk tugas akhirnyapun sudah sedikit demi sedikit Brian cicil agar tiba saatnya dia melakukan tugas akhir perkuliahan dia tidak perlu kebingungan. “Bri aku titip rumahku berserta isinya, adikku ada di dalam rumah, dia sendirian tolong jaga ya.” Pesan yang Erisa berikan pada Brian saat pagi berkunjung ke rumah tentangganya itu sebelum dia benar-benar berangkat ke kampusnya. “Mmm….” “Thank you Bri, see ya.” Setelah berpamitan barulah Erisa berangkat ke kampusnya menggunakan kendaraan taxi online yang dia pesan melalui aplikasi. Sedangkan di dalam rumah nomor 22 tepatnya di dalam kamar di lantai dua rumah bergaya modern itu. Aliana sedang menatap hasil gambarnya di atas kertas sketsa. “Apa ini tidak selesai-selesai? Ya Tuhan kenapa otakku ini sulit berpikir sekarang!” desahan putus asa dengan keluh kesah Aliana terdengar di dalam kamar miliknya itu. “Berapa tahun aku hidup seperti ini? Apa dua tahun cukup?” tanyanya pada dirinya sendiri, tidak ada yang dapat dia ajak bicara untuk hidupnya itu. Hidupnya terlalu membosankan karena hidupnya hanya berdiam diri di rumah. Keputusan kedua orang tuanya selalu berganti seperti selalu diupgrade untuk memperbaharui sistem. Hal tersebut membuatnya semakin buruk, buruk dalam pikiran dan buruk secara fisik. “Kusam sekali wajahku ini, kalau kupikir-pikir keputusan macam apa ini? Padahalkan lebih baik aku hadapi semua masalahnya daripada seperti ini seperti tidak ada penyelesaiannya.” Aliana terus berbicara pada dirinya sendiri membahas masalah yang menghampiri hidupnya semenjak dia legal di mata Negara. Aliana menyingkirkan kertas sketsa serta perlengkapan menggambarkan di atas meja, kemudian Aliana menelungkupkan wajahnya menyembunyikannya di ceruk kedua tangannya yang terlipat di meja belajarnya. Posisi itu tidak bertahan lama. “Sakit juga kalau lama-lama, pandanganku bisa berkunang-kunang.” Keluhan itulah yang keluar dari mulut Aliana. Aliana berdiri dan melangkah keluar dari kamarnya, dia benar-benar merasa bosan dengan hidupnya saat ini. Aliana sadar, dia itu labil dan tidak konsisten jika berurusan dengan hatinya. Tapi walau begitu Aliana sadar dia bisa konsisten tapi terhadap satu hal. Aliana turun ke lantai satu, dia tahu rumah itu sunyi jadi langkah kakinya akan terdengar jelas saat menuruni tangga. Tapi yang dia kagetkan adalah bukan suara langkah kakinya yang terdengar saat ini, dia menggunakan sandal bulu kamarnya yang dia bawa keluar, suara langkah miliknya lembut, tapi ada suara langkah yang lebih keras lagi di lantai satu tepatnya dari arah pintu depan seperti ada beberapa orang yang baru saja masuk ke dalam rumah. Bukankah itu hal mengejutkan pasalnya Aliana tahu ini bukanlah waktunya untuk kedua orang tuanya pulang atau Erisa pulang dari kampus karena baru saja dua jam Erisa meninggalkan rumah untuk berangkat ke kampus dan baru akan pulang nanti setelah jam 2 siang. Aliana merasa aneh dengan suara langkah kaki tersebut, Aliana berhenti beberapa saat untuk memastikan pendengarannya, ia salah dengar atau tidak. “Ada orang ya? Mustahil Papa Mama sudah pulang, sampai ke Dubai aja aku masih ragu masa sudah pulang,” batin Aliana bergemuruh saat suara yang dia dengar ternyata tidak salah. Memang ada orang yang masuk ke dalam rumahnya. Aliana mengintip dari posisi berdirinya di tangga. Belum terlihat ada yang masuk ruangan bagian tengah tepat ujung tangga. Aliana sendiri saat ini sudah berjongkok mengintip pembatas tangga. “Apa benar tidak ada orang?” Terdengar suara orang yang masuk ke dalam rumah, suara seorang pria. “Suaramu pelankan bodoh!” Suara pria lainnya mengintrupsi rekannya yang bertanya tadi. Sedangkan Aliana mendengarkan dengan dahi berkerut. “Siapa mereka dan mau apa?” pertanyaan yang bergelut dipikiran Aliana saat itu. “Merampok?” gumam Aliana dengan suara yang sangat pelan. Kata merampoklah yang cocok untuk Aliana gambarkan pada dua suara itu, mungkin dua orang tapi Aliana tidak mengetahui pastinya. Rumah ini tidak memiliki banyak barang berharga seperti perhiasan mengingat sang mama tidak menyukai kegalmoran secara berlebihan, perhiasan yang melekat pada tubuh Annie hanyalah cincin nikah dan satu cincin sederhana. Annie pun tidak mengoleksi perhiasan, dia wanita karier yang suka berinfestasi pada suaminya, dan dia juga menanam saham di perusahan milik suaminya sendiri. “Merampok perabotan rumah?” pikir Aliana, karena jika mengumpulkan perabotan rumah lumayan mahal juga. “Tapi masa iya?” pikir Aliana lagi, dia terus berpikir sambil bergumam tentang hal yang dia pikirkan. Menurut Aliana cukup lama orang-orang asing yang masuk ke rumahnya itu bergerak maju ke dalam ruangan berikutnya. “Tadi Bos bilang anak itu sendirian di rumah ini. Jadi setelah kita mendapatkannya, kita harus sesegera mungkin pergi dari sini,” ujar salah seorang dari orang asing yang masuk ke dalam rumah keluarga Hasbie. “Iya, tapi apa harus kita membawa koper seperti ini juga?” keluh rekannya. Aliana hanya mendengarkan dan dia simpulkan mereka benar adalah kawanan rampok. (h) …   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD