"Len, kamu tidak apa-apa?" Aku tidak menghiraukan pertanyaan itu, p****t dan pinggulku terasa nyeri hingga aku tidak sanggup menjawab pertanyaan yang entah dari siapa itu.
Aku mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Lift yang kami tumpangi sepertinya tengah mengalami masalah. Pantas saja, sejak kemarin perasaanku tidak enak ketika menaiki lift ini. Ternyata lift ini mengalami masalah kecil.
Ah tidak, bukan hanya masalah kecil tapi akan menjadi masalah besar ketika aku tahu jika di ruangan sempit yang luasnya tidak mencapai sepuluh meter persegi ini, ada seorang laki-laki yang sangat aku benci.
"Len, kamu tidak apa-apa?"
Kembali aku mendengar satu pertanyaan yang sama, namun dengan suara yang berbeda. Suara kali ini terdengar lebih serak, seperti tengah menahan sesuatu. Hah, tapi apa peduliku? Aku tidak sanggup berpikir di saat-saat seperti ini, badanku terlalu sakit untuk diajak berkompromi.
Aku melihat dua tangan besar dengan masing-masing lengannya terbalut kain bahan yang berbeda. Hmm, mana lengan Pak Adam? Mana lengan laki-laki tak berperasaan itu? Ah, masa bodoh. Aku harus berdiri, tidak mungkin aku tetap terduduk seperti ini.
Aku meraih tangan besar yang berbalut kain bahan berwarna hitam. Aku segera berdiri, dan segera mengucap terimakasih. Namun urung aku lakukan ketika tahu tangan siapa yang kuterima ulurannya tadi.
Bodohnya aku, seharusnya aku melihat dulu wajah orang yang sudah mengulurkan tangannya. Ternyata Pak Adam mengenakan jas berwarna abu-abu, seharusnya aku memilih tangannya tadi.
Hah, sudahlah. Tidak ada gunanya memikirkan hal itu, semuanya juga sudah terlanjur. Tidak mungkin juga waktu dapat diputar kembali.
"Len, kamu tidak apa-apa?" Pak Adam menyentuh pundakku, membuatku terperanjat kaget. Secepat kilat aku membalikkan badanku dan segera menyunggingkan seulas senyum, lalu dengan cepat membalas ucapan Pak Adam.
"Alhamdulillah, saya tidak apa-apa Pak. Cuma, pinggul saya sedikit nyeri," ucapku menatapnya sopan. Pak Adam tersenyum tipis.
"Kamu bersender di dinding lift saja, mengantisipasi kalau ada guncangan lagi. Saya sudah menghubungi pihak teknisi, mungkin sekitar satu jam-an lagi, lift ini akan terbuka," ucap Pak Adam yang membuatku tersipu, dia sangat perhatian tidak sama dengan laki-laki yang berada di belakangku itu. Aku mengangguk dan segera berjalan menuju dinding lift, disusul oleh Pak Adam.
Laki-laki tak berperasaan itu masih berada di posisinya, aku membuang wajahku ketika mata kami tak sengaja bertemu. Aku menatap lurus ke depan, mengabaikan laki-laki yang sekarang ini berada di belakangku.
Aku kembaku melirik laki-laki itu, ekspresi wajahnya terlihat--aneh. Aku bisa melihat tatapan sendu di matanya, begitupun aura di sekelilingnya yang tampak kelam. Ada apa dengannya? Apa dia menyesali perbuatannya dulu? Tidak mungkin dia menyesalinya, jika ia menyesal, kenapa ia tidak ambil tindakan. Seperti, menemuiku contohnya.
Ah, apa-apaan aku ini? Kenapa bisa aku berharap agar laki-laki itu mau menemuiku? Apa aku sudah gila? Atau jangan-jangan rasa itu masih tersimpan di hatiku? Tidak. Tidak boleh dibiarkan, aku harus membuang rasa itu jauh-jauh.
"Len, maaf karena kejadian ini hari pertama kamu bekerja menjadi terganggu." Pak Adam membuka topik baru. Aku mengernyit mendengar ucapannya.
"Ini bukan salah Bapak. Ini kecelakaan, dan mungkin Tuhan sudah mengaturnya. Masalah pekerjaan, lagipula bapak bosnya, jadi saya kira Bapak dapat memberi kompensasi atas keterlambatan saya." Aku berujar dengan lirih, masih berusaha menyunggingkan seulas senyum.
Sebenarnya, dalam posisi ini aku tidak bisa tersenyum lebih banyak. Bagaimana aku bisa tersenyum, jika setiap saat mataku selalu melirik laki-laki yang ada di belakangku ini? Aku tidak tahu dengan diriku sendiri, yang entah kenapa selalu ingin melihat laki-laki itu.
"Tapi gara-gara kelalaian saya yang tidak melakukan pemeriksaan terhadap aset perusahaan, membuat kerusakan pada lift ini terabaikan. Saya merasa bersalah," kata Pak Adam, dengan senyum hangat yang membuat dua sisi pipinya membentuk sebuah cekungan. Lesung pipi yang manis, menambah kesan tampannya.
"Tidak ada yang tidak lalai di dunia ini. Manusia itu tidak pernah luput dari dosa, meski sekecil apapun dosa itu. Bahkan, saya rasa kesalahan Bapak ini tidak seberapa, dibanding kesalahan seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawah atas hasil yang diperbuatnya. Sebagai contoh, seorang laki-laki yang menghamili wanita dan tidak mau bertanggung jawab, dan justru menyuruh menggugurkan bayi itu."
Aku melirik laki-laki tak berperasaan itu kembali, aku sengaja berkata seperti ini dengan maksud menyindirnya. Aku merasa senang melihat wajahnya yang semakin menampakkan ekspresi sedih. Aku rasa, laki-laki itu menyadari kesalahannya. Dalam hati aku tertawa, baru kali ini aku bisa melihat wajahnya yang terlihat lemah.
"Memangnya laki-laki yang seperti itu, ada? Aku rasa laki-laki yang seperti itu hanya ada di dalam novel dan sinetron saja." Respon yang diberikan Pak Adam. Ternyata bosku ini sedikit kudet. Bukankah sudah menjadi rahasia umum lagi, kalau di negara ini sudah banyak kasus seperti itu? Bahkan contoh konkretnya, kisah hidupku sendiri.
Aku tertawa kecil sebelum membalas ucapan Pak Adam. "Bapak ternyata kurang update juga, sudah banyak kasus yang seperti saya ucapkan tadi. Kasus seperti itu tidak hanya ada di dalam cerita novel atau sinetron saja. Malahan, sudah ada kasus yang sampai menyebabkan korbannya bunuh diri."
"Oh, benarkah? Menurut saya, laki-laki yang seperti itu sangat tidak berperikemanusiaan, dan tidak pantas disebut sebagai laki-laki. Hmm, kalau menurutmu, gimana Le?" Pak Adam menoleh, menatap laki-laki yang berada di belakangku.
Le-- ah, maksudku laki-laki itu terdiam, tidak berekspresi sama sekali. Tiga detik kemudian, dia menggeleng.
"Aku tidak tahu harus berkomentar apa, mungkin saja si laki-laki memiliki alasan tertentu." Aku mengangkat sebelah alisku, saat jawabannya itu masuk ke gendang telingaku.
Apa dia ingin membuat pembelaan, jika yang dilakukannya dulu memiliki sebuah alasan? Cih, picik sekali cara berpikirnya.
Aku mengalihkan tatapanku, aku merasa muak melihat wajahnya.
"Alasan apa? Mungkin mereka hanya mengada-ada," ucap Pak Adam selanjutnya. Si Lele--lebih baik aku menyebut namanya dengan salah satu nama ikan ini, daripada harus berkata 'laki-laki ini', 'laki-laki itu' atau lain sebagainya, dan jangan sampai lupa jika aku malas menyebut namanya. Aku tersenyum kecil, akhirnya aku menemukan nama yang tepat untuk laki-laki tak berperasaan itu.
Lele tampak terdiam, sepertinya ia tengah berpikir. Mungkin ia bingung dengan kalimat apa yang akan diucapkan selanjutnya.
"Entahlah," ucap Lele mengakhiri perbincangan singkat itu.
"Oh iya, aku sampai lupa memperkenalkan kalian. Len, perkenalkan laki-laki yang ada di depan saya ini, adik saya. Namanya Leon. Dan Leon, wanita yang ada di samping Abang ini, asisten baru Abang, yang menggantikan posisi asisten Abang sebelumnya. Namanya Alena. Ah, tapi aku rasa kalian sudah saling kenal."
Ah iya, kami memang saling mengenal Pak Adam. Tapi saat ini, aku berusaha tidak mengenal laki-laki yang ternyata adik Anda itu. Batinku bersuara.
Sungguh mengejutkan memang, ternyata laki-laki yang dulu sempat mengisi hatiku itu, adik dari bosku sendiri. Dan aku mendapat satu kejutan lagi, aku menjadi asisten pribadi Pak Adam? Sungguh diluar dugaanku, aku kira aku akan dipindah tugaskan menjadi office girl, ternyata dugaanku salah besar.
"Tidak, kami tidak saling mengenal." Aku buru-buru berucap, sebelum didahului oleh si Lele.
Aku tidak mau, jika Pak Adam sampai mengetahui hubunganku dengan adiknya. Bisa-bisa aku dipecat dari pekerjaanku sekarang. Lagipula, aku rasa Lele sudah memiliki istri, terbukti dari jari manisnya yang mengenakan cincin pernikahan.
Sekarang ini, aku berdoa semoga pintu lift ini segera terbuka. Aku tidak tahan lagi.
Tuhan, kenapa semua menjadi serumit ini?