Bab 16

1319 Words
Aku memandangi Naya yang duduk di hadapanku. Wajahnya tampak tersenyum cerah, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi beraturan. Wajahnya menunjukkan jika tidak terjadi apa-apa. Namun tidak dengan perasaanku. Aku merasa, ada yang tidak beres dengan wanita hamil di hadapanku ini. Seperti dia ... tengah bersedih. Tapi, apa dalihku sehingga menganggapnya bersedih? Mungkin itu hanya perasaanku saja. Mana mungkin Naya bersedih, sedang laki-laki yang dicintainya sudah kembali ke kehidupannya dan mau mempertanggung-jawabkan kesalahannya terdahulu. "Kamu sendirin ke sininya?" Tanyaku seraya mengelap sudut bibir Rafa yang terkena noda makanan. Naya tidak menjawab, karena perempuan itu tengah mengunyah daging sate. "Iya Mbak," jawabnya setelah menelan kunyahan dagingnya. "Kok sendirian, emang ayah bayi kamu ke mana?" Tanyaku lagi yang sudah seperti detektif. "Kak Rean masih di kantornya, belum pulang. Jadi Naya ke sininya sendirian, deh." Aku sedikit ragu dengan jawaban Naya. Jam pulang kantorku saja sudah berakhir sejak satu setengah jam yang lalu, masa jam kantor calon suaminya belum berakhir? "Loh, bukannya jam kantor itu selesainya pukul lima sore, ya?" Tandasku akhirnya. Naya menggaruk tengkuknya, seperti orang kebingungan. "Lembur Mbak, Kak Reanta lagi lembur makanya belum pulang," ucapnya. Aku mengangguk, mencoba mempercayai jawaban Naya. Kamu negative thinking mulu Len? Jangan kepo dengan percintaan orang lain. Sedangkan percintaanmu sendiri masih berantakan. "Kamu ngidam ya?" Aku kembali bertanya sesaat setelah Naya memasukkan daging sate ke mulutnya. Aku menunggu jawabannya yang akan keluar setelah sate itu masuk ke dalam lambung Naya. "Iya Mbak, lagi ngidam pengen makan sate. Jadi ke sini deh. Tapi Naya suka aneh Mbak, padahal udah lewat trimester pertama, dan Naya masih aja suka ngidam. Oh ya, kalau Mbak Lena sendiri?" jawab Naya―yang kemudian ia imbuhi dengan sebuah pertanyaan―setelah perempuan itu menelan kunyahan daging satenya. Naya kembali tersenyum, bagiku senyumannya itu terlihat dipaksakan. Aku semakin panasaran dengan kehidupannya bersama Reanta. "Ini loh, Rafa tiba-tiba minta makan sate. Mbak juga nggak tahu sih, dulu Mbak juga suka ngidam, padahal trimester pertamanya udah lewat." Jawabku seraya tersenyum ke arahnya, lamat-lamat kuperhatikan wajahnya. Ekspresinya sedikit memberiku gambaran kalau Naya tengah canggung saat ini. Sejurus kemudian, aku mulai mempertanyakan hal yang membuat Naya bersikap aneh. "Kamu lagi ada masalah ya? Kok kamu kayak aneh gitu?" Naya menggelengkan kepalanya, lantas ia mengusap perutnya yang membuncit. "Masa sih? Perasaan, Naya biasa aja. Naya nggak lagi ada masalah Mbak, cuma rada gugup karena sebentar lagi Naya bakal lahiran." Akhirnya ia bersuara setelah sekian lama terdiam. Aku mengangguk kembali memperhatikan Rafa yang masih asik dengan dunianya sendiri――makan sate. "Oh iya, bentar lagi kamu bakal lahiran ya. Mbak hampir lupa, udah berapa minggu kandungan kamu itu? Ngomong-ngomong, bentar lagi kamu juga bakal nikah kan ya, setelah melahirkan?" Aku melupakan prasangka-prasangka burukku tadi, dan mencoba membicarakan hal-hal yang lebih menyenangkan. Naya tampak berpikir, mungkin mengingat-ingat berapa usia kandungannya. "Sekitar 36 mingguan Mbak," jawabnya kemudian. Ia tidak menjawab perihal pernikahannya. 36 minggu ya? Berarti kurang atau mungkin lebih dari satu bulan lagi Naya akan melahirkan, dan sebentar lagi menikah. Aku tidak sabar mendapat undangan pernikahan mereka. "Kamu jangan sampai lupa ngundang Mbak ke pernikahan kamu, awas ya kalo sampai lupa!" Aku memamerkan wajah garangku seraya menodongkan bogeman tanganku ke hadapan Naya. Naya tertawa renyah, nah kalau ini baru terlihat natural, tidak dipaksa-paksakan. "Ish, Mbak Lena ini. Terus gimana kalau Naya beneran lupa? Masa Mbak mau kasih bogeman ke Naya, kasihan bayi Naya lah, nanti sendirian kalau ibunya dihukum sama Mbak Alena," ucapnya yang masih diselingi tawa. "Ya kan, anak kamu bisa dimomong sama suami kamu nanti, terus Mbak bakal hukum kamu buat beliin Rafa satu truk jeruk, berhubung suami kamu kaya," balasku menahan tawa. "Satu tluk jeluk? Rafa mau, Rafa mau! Mbak Naya, nanti jeluknya yang besal-besal ya, sama yang manis-manis, kalo bisa jangan cuma satu tluk Mbak, tapi lima tluk." Rafa tiba-tiba menyahut dengan suara cemprengnya, membuat perhatian kami teralih pada bocah laki-laki ini. Ya Allah, anakku ini! "Yeey, nggak gitu juga kali. Rafa, nanti suami Mbak Naya bangkrut kalo kamu mintanya lima truk jeruk, orang satu truk aja belum tentu kesampaian." Tawa Naya kembali berderai, dan aku merasa Naya sudah kembali. Maksudku, Naya yang ceria. Dan aku lebih menyukai Naya yang ceria. "Ish, kok gitu Mbak Nay. Ya udah deh, Rafa mintanya satu tluk jeluk aja, tapi halus ya!" Rafa tampak antusias saat mengucapkan kalimat itu. Maklum saja, putraku ini maniak jeruk, jadi yang ada di otaknya itu nggak bakal jauh-jauh sama yang namanya jeruk. "Eh, Nay nggak apa-apa kali, ngasih lima truk jeruk buat Rafa," ucapku menyela, tentunya diikuti dengan kekehan. "Nggak bakal bisa ngasih, Mbak. Serius deh." Tawa Naya kembali berderai, aku melihat sudut matanya yang berair. Itu air mata karena menangis, atau air mata karena terlalu banyak tertawa? Hah, kenapa hari ini aku banyak menduga-duga. Kenapa aku merasa aneh dengan ekspresi Naya? "Ah tau ah Nay, kamu ini bikin Mbak pusing aja. Lanjutin gih, makanmu kasihan satenya udah nangis minta dimakan," ucapku asal berusaha meredakan tawanya yang semakin lama malah terdengar miris di telingaku. Dia pun menyunggingkan senyum sekilasnya, lalu kembali menyantap satenya. Aku menghela napasku tanpa sadar, merasa ada sesuatu yang disembunyikan Naya. Tapi, apapun itu mungkin aku tidak boleh ikut campur. Naya tidak mau bercerita padaku, berarti karena dia merasa mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. "Bunda Rafa haus minumnya lagi," kata Rafa yang menyentak lamunan singkatku, aku tersenyum dan menyodorkan Aqua gelasan ke hadapan putraku itu. ***** Aku masih memikirkan Naya dan orang yang menunggu Naya tadi. Sewaktu aku mengantarkan Naya ke rumah calon suaminya, aku tidak mendapati Reanta menunggu Naya. Atau mungkin, Reanta masih berada di kantornya? Tapi tunggu dulu, siapa laki-laki yang menunggu Naya tadi? Mukanya sih, rada mirip dengan Reanta. Tapi auranya beda banget, laki-laki itu terkesan dingin. Dan anehnya interaksi laki-laki itu dan Naya sedikit aneh. Ah entahlah, aku tidak tahu. Apapun itu, jika Naya tidak mau menceritakannya padaku, berarti itu bukan urusanku. "Mbak, kita sudah sampai." Aku mengerjapkan mataku mendengar suara Pak Ujang. Secepat mungkin aku menyunggingkan sebuah senyuman. "Ah, iya Pak. Terima kasih. Bapak tidak mampir dulu?" Aku bertanya pada pria paruh baya yang sudah berusia kepala lima itu. "Tidak Mbak, sudah malam, saya pulang saja." "Oh, begitu ya Pak. Sekali lagi terima kasih," ucapku seraya mengangkat Rafa ke gendonganku. Sebenarnya putraku ini belum tidur, tapi aku tahu jika tubuhnya kelelahan, makanya aku memilih menggendongnya, dari pada Rafa tersandung batu karena tidak fokus. "Iya Mbak, sama-sama." Aku pun keluar dari mobil itu. Kemudian, aku berjalan menyusuri gang-gang sempit, yang merupakan satu-satunya akses jalan menuju rumahku-- atau lebih tepatnya rumah kontrakanku. "Bunda, Rafa pengen makan jeluk," kata Rafa yang mengisi keheningan. "Iya sayang, tapi besok aja ya, makan jeruknya. Kan jeruk yang kemarin udah habis," kataku membelai surai hitamnya. "Yah Bun, Rafa pengen makan jeluk. Nanti Rafa nggak bisa tidul kalo nggak makan jeluk." Rafa mulai merajuk, kalau sudah seperti ini, bisa dipastikan kalau Rafa akan menangis. Aku harus cari-cari akal untuk membuatnya lupa dengan jeruk, tapi apa? "Ya udah, nanti Bunda cariin, kali aja ada yang nyelip di mana gitu," ucapku asal. Rafa memekik, dan tertawa girang. Aku menggelengkan kepalaku, anak ku ini benar-benar ajaib. Sesampainya di depan rumah kami, aku mengernyitkan dahiku melihat pintu rumah yang sudah terbuka. Apa jangan-jangan ada pencuri? Ah, mau mencuri apa mereka? Isi rumahku saja tidak lebih dari uang satu juta. Lagipula pintu rumahku tidak terlihat seperti dibobol, jadi tidak mungkin kalau itu pencuri. Atau mungkin ibu kontrakan yang mau menagih uang sewanya? Ah, tidak mungkin, rasa-rasanya baru kemarin aku membayar uang sewanya. Tapi siapa yang tahu, lebih baik aku cepat-cepat masuk ke dalam. Aku merasakan jantungku hampir melompat, melihat wajah seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu kamarku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan dengan tampang polos tak berdosanya. Dan satu pertanyaan besar yang saat ini menguasai pikiranku. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah ini? Satu pertanyaan itu memunculkan beberapa pertanyaan lain lagi. Contohnya, kenapa tidak ada yang melarang dia masuk ke dalam rumahku?! "Hai?" "Hah, hai?" "Bunda olang itu siapa? Bukannya olang yang waktu itu, ya? ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD