"Lena, apa tempat ini benar-benar bersih, sehat, dan aman?" Tanya Pak Adam lirih, takut-takut ada yang mendengar suaranya itu. Aku mengerjap mendengar pertanyaan Pak Adam.
Sudah sekitar satu menit, aku dan Pak Adam duduk di kursi panjang sebuah warung makan. Warung pinggir jalan lebih tepatnya. Kami --aku lebih tepatnya, memutuskan untuk makan di tempat ini.
Ehm, pertanyaan macam apa itu?
Apa laki-laki kaya di hadapanku ini, baru pertama kali mengunjungi warung makan pinggir jalan? Jika iya, aku harap dia mendapat kesan yang baik di kali pertamanya ini.
Sebenarnya, Pak Adam tadi sudah mengajakku untuk makan di restoran yang terletak tak jauh dari tempat ini. Bisa dikatakan restoran mewah lah, ya.
Namun aku menolaknya, aku merasa bersalah jika aku memakan makanan mewah, sementara putraku tidak merasakannya. Aku tidak ingin egois, meskipun makanan yang aku makan nantinya tidak seberapa.
Aku tahu, mungkin saja Bundaku akan mengajak Rafa makan di tempat bagus, tapi aku mengenali putraku. Putraku itu, sulit untuk memakan di tempat umum tanpa ada aku di dekatnya. Anakku itu pernah bilang, jika ia ingin memakan apa yang aku makan, jika ia makan makanan yang lezat, aku pun harus memakan makanan yang sama, begitupun sebaliknya. Rafa itu tipikal anak yang bertoleransi tinggi, tak heran kenapa lebih mengedepankan kebersamaan ketimbang egonya sendiri.
"Saya jamin masakan di sini bersih, sehat, dan aman Pak. Satu lagi, masakannya sangat enak. Saya kenal sama pemilik warung ini, pemilik warung ini itu tetangga saya. Saya aja tahu proses masaknya, mereka nggak kalah sama restoran-restoran yang sering Bapak kunjungi. Higenis, bahan-bahannya juga berkualitas, meskipun tempatnya ada di pinggir jalan," jawabku panjang lebar dan menggunakan intonasi suara yang biasa, tidak direndahkan serta tidak ditinggikan. Aku tersenyum lebar melihatnya yang kikuk. Pak Bos ku ini terlihat i***t jika bertingkah seperti itu.
"Tapi, mungkin kamu belum lihat semua proses masaknya, dan sewaktu kamu nggak ada, mereka nyampur sesuatu ke masakan itu," kata Pak Adam masih dengan nada lirihnya. Aku menahan tawaku agar tak meledak, dia masih saja berpikir buruk.
"Pak, saya nggak mungkin bohong. Saya ngelihat prosesnya dari awal sampai akhir, dan mereka tidak memakai bahan berbahaya, mereka penjual yang jujur. Pak Adam, tidak semua penjual yang ada di dunia ini bersikap culas demi mendapat keuntungan yang banyak, ada sebagian di antara mereka yang jujur," kataku membalas ucapan Pak Adam tadi.
Pak Adam menunduk, mungkin merasa bersalah. Aku jadi tidak enak melihatnya seperti itu. Ya, biar bagaimana pun, Pak Adam itu pria berjas yang lebih sering duduk di kursi bintang lima, ketimbang di tempat kumuh seperti ini. Aku yang salah, karena telah mengajaknya makan di tempat seperti ini. Dia mungkin berpikir, tidak selevel berada di tempat, yang rata-rata didatangi oleh masyarakat dari kelas menengah ke bawah ini.
Dan aku baru sadar, jika sebagian pengunjung warung ini memperhatikan kami. Lebih tepatnya Pak Adam, karena dandanannya yang terlihat mencolok. Semoga saja mereka tidak mendengar percakapanku dan Pak Adam.
"Saya coba untuk percaya. Tapi ... ada tapinya loh ya?" Aku mengangguk, apa lagi yang bos ku ini akan katakan.
"Tapi, kalau terjadi apa-apa sama saya setelah makan masakan di tempat ini. Kamu harus nurutin tiga permintaan saya. Ehm, anggap saja saya Aladin dan kamu jin nya. Oke?" Senyum beliau mulai mengembang, ada seringaian geli yang dapat aku tangkap dari binar di wajahnya.
"Oke Pak, saya jamin. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Bapak, saya akan bertanggung jawab. Tapi, kalau tidak terjadi apa-apa sama Bapak, Bapak juga harus nurutin permintaan saya. Tenang permintaan saya nggak aneh-aneh, kok. Nggak sampai tiga permintaan juga, nggak kayak yang Bapak ajukan," ucapku yang terdengar seperti sindiran. Beliau tertawa, tawanya terdengar indah di telingaku. Ah, untuk yang kesekian kalinya, aku berkata bahwa beliau sangat tampan.
Sikap Pak Adam yang terbuka dan ramah, membuat kami cepat akrab. Beliau selalu memiliki cara untuk membuat suasana tidak canggung. Apalagi tawa dan senyumnya yang kadarnya tinggi itu. Aku yakin, hanya dengan tatapan matanya saja, banyak wanita yang akan jatuh hati pada laki-laki itu. Pak Adam sosok yang begitu mempesona. Berbeda dengan adiknya yang malah membuatku sakit hati itu.
"Emangnya kamu mau apa dari saya?" Tanyanya penasaran.
"Nggak lebih Pak, saya cuma minta satu kilo jeruk, lumayan untuk anak saya nanti." Pak Adam tergelak mendengar jawabanku, yang aku rasa memang permintaan konyol.
"Jeruk? Kayaknya anak kamu itu maniak jeruk, ya?" Tanya beliau di sisa-sisa tawanya. Aku hanya tersenyum, mengangguk sekenanya.
"Anak kamu mirip sama adik saya, adik saya itu juga maniak jeruk. Dikit-dikit jeruk, kalau menurut dia, tiada hari tanpa jeruk. Kok bisa samaan sih?" Aku menghela napasku, berusaha mempertahankan bibirku agar tetap mengembang membentuk senyuman. Setelah mendengar ucapan Pak Adam tentang adiknya, aku merasa hatiku berdenyut nyeri. Sakit ketika mengingat luka-luka yang pernah Pak Leon berikan.
"Kebetulan kali, Pak." Aku tertawa, berusaha menghilangkan nada sumbang di dalam tawaku.
"Oh ya, kalau tidak salah kamu itu orang tua tunggal ya? Pasti sulit untuk menjadi ayah dan ibu dalam waktu yang bersamaan," kata Pak Adam lagi.
"Sulit nggak sulit Pak, sulit kalau anak saya nanyain di mana ayahnya," balasku, aku berusaha tersenyum.
"Memangnya, suami kamu pergi ke mana? Apa kalian bercerai? Atau, dia tidak bertanggung jawab?" Beliau kembali bertanya.
Entah sudah berapa lama perbincangan ini. Aku hanya tersenyum melihatnya, belum berniat menjawab karena melihat Bu Maryam---pemilik warung makan ini, tampak datang seraya membawa pesanan kami.
"Wah, Neng Lena bawa calonnya ya? Woah, ganteng banget," kata Bu Maryam dengan seulas senyum menggodanya, yang ia berikan padaku. Aku merasa pipiku memanas mendengar godaannya itu.
"Bukan Bu, dia bukan calon Lena. Pak Adam bos saya," sanggahku dengan cepat, aku melirik Pak Adam yang tersenyum geli.
"Yah, Ibu kira Mas Ganteng ini calonnya Neng Lena, ternyata bosnya toh? Padahal kalian keliatan cocok. Ya udah deh, Ibu pamit dulu, semoga menikmati hidangannya," ucap Bu Maryam, kemudian berlalu pergi.
"Pak, ucapan Ibu tadi nggak usah dimasukin ke hati, beliau memang seperti itu. Suka ceplas-ceplos."
"Santai aja Len, saya malah seneng denger omongan Ibu tadi. Ngomong-ngomong, kita kayaknya emang cocok deh, kamu cantik, saya ganteng," ucapnya disertai tawa menggelegar, aku memegang pipiku yang memanas karena ucapannya.
"Sudah Pak, lebih baik kita makan saja, sebelum jam makan siangnya berakhir."
Aku segera menyuapkan makanan di hadapanku ini, ke dalam mulutku. Mengabaikan Pak Adam yang masih tertawa. Juga mengabaikan pertanyaannya tadi, aku rasa aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.
*****
"Wah, masakan tadi benar-benar enak Len, nggak nyangka saya masakan kaki lima serasa bintang lima," ucap Pak Adam, nyaris berteriak. Saat ini, kami sudah dalam perjalanan kembali ke kantor. Pak Adam mengendarai mobilnya dengan santai, tanpa takut akan terlambat sampai di kantor.
"Kan saya udah bilang, masakan di tempat Bu Maryam itu enak banget."
"Iya, kamu bener. Nyesel saya udah berprasangka buruk." Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Kemudian tidak ada lagi pembicaraan di antara kami.
"Len, meskipun kamu orang tua tunggal. Kamu harus bersyukur, karena Tuhan udah memberi kamu amanah dengan menjaga seorang anak. Saya nggak tahu, bagaimana menderitanya kamu, tapi percayalah. Suatu saat nanti, kamu bakal dapat kebahagiaan yang berlimpah." Kata Pak Adam tiba-tiba, aku menoleh menatap beliau yang tampak tersenyum kecil. Aku mengernyitkan dahiku, tidak mengerti kenapa beliau berkata seperti itu.
"Bersyukurlah kamu, karena Tuhan sudah mempercayai kamu dengan memberi anak. Jangan membuat anak kamu kecewa, turuti permintaannya jika itu masih berada pada batas wajar, dan tentunya kamu mampu untuk menurutinya," ucap Pak Adam di sertai helaan napas.
Oh, aku mengerti apa maksud Pak Adam berkata seperti tadi, ia berkata seperti itu karena ia tidak mau aku salah mengambil langkah. Dia memotivasiku agar bersyukur atas kehadiran Rafa. Mungkin, Pak Adam mengerti kenapa anakku bisa terlahir ke dunia ini, maksudku anakku lahir karena kesalahan masa remajaku.
Dan ya, apa yang harus aku lakukan. Keinginan terbesar Rafa hanya satu, anakku itu sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Dia sudah bertemu dengan ayahnya, tapi dia tidak tahu apa-apa.
Entahlah, kenapa semua bisa serumit ini. Semoga jalan keluarnya bisa kutemukan secepatnya.
*****
Hari demi hari berganti, tidak terasa hampir dua bulan aku bekerja di perusahaan Pak Adam. Waktu memang berjalan cepat, sampai-sampai aku tidak menyadarinya.
Aku melirik jam kecil yang melingkar di tangan kananku. Sudah pukul lima, dan artinya jam kerjaku akan segera berakhir. Aku segera membereskan mejaku, memasukkan beberapa barang milikku ke dalam tas.
"Lena, maaf hari ini saya nggak bisa anter kamu. Saya ada urusan yang harus segera diselesaikan." Ucapan Pak Adam menghentikan gerakan tanganku. Aku menatapnya, lalu menyunggingkan seulas senyumku.
Memang, beberapa minggu belakangan ini, Pak Adam selalu mengantarku pulang. Bahkan beliau sudah akrab dengan Rafa. Rafa pun tampak senang bermain bersama Pak Adam. Namun, aku sedikit menyimpan kekhawatiran, kalau-kalau Pak Adam mengetahui jika Rafa putra dari adiknya.
Pernah satu kali, Pak Adam bilang jika Rafa mirip dengan Pak Leon sewaktu kecil. Dan aku hanya bisa tersenyum kaku, membalas ucapannya. Pak Leon sendiri, juga sering mendatangi kami, aku bersyukur, waktu datang mereka tidak pernah bertepatan. Jika mereka sampai berpapasan, aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.
"Nggak apa-apa Pak, lagian saya bisa pulang sendiri. Kendaraan juga banyak, kan?"
"Kamu pengertian juga. Ya sudah, saya pergi dulu. Kamu hati-hati di jalannya," ucapnya sebelum melenggang pergi dan menghilang di balik pintu.
Aku kembali melanjutkan aktivitasku. Segera setelah semua dirasa selesai. Aku pun berjalan keluar dari ruangan itu.
*****
Aku tersenyum setelah menerima satu kotak pizza. Memang, setelah dari kantor tadi, aku menyempatkan diri untuk pergi ke restoram cepat saji, dengan maksud membeli pizza. Aku memberi beberapa lembar uang, lalu pergi.
Saat sudah berada di ambang pintu, telingaku mendengar sebuah suara yang familiar.
"Aku sudah berusaha mendekati anak itu, Shania." Aku mengenali suara itu.
"Lalu, bagaimana? Apa anak itu sudah tahu kalau kamu Ayahnya?" Itu suara wanita.
"Belum, Alena melarangku memberitahunya."
Apa maksud pembicaraan mereka?
"Kenapa kamu tidak memberitahunya? Seharusnya kamu memberitahu anak itu, kalau kamu ayahnya. Jadi, kamu bisa mengambil anak itu darinya. Dan anak itu akan menjadi anak kita. Kita bisa mengadopsi anak, yang jelas-jelas darah daging kamu sendiri, dan kita nggak perlu ngadopsi anak dari panti. Anak itu pasti lebih memilih ayahnya ketimbang ibunya, kamu bisa merebut anak itu dengan mudah." Aku memejamkan mataku, tanganku terkepal dengan erat. Dasar picik!
"Sebelum rencana kalian terlaksana, tidak akan aku biarkan kalian mendekati anakku."
*****