Bab 25 - Rasa Sakit "Entah kenapa, setiap menatap wajah lelaki itu ... hatiku merasa sakit," monolog Arancia. Kevan memilih untuk duduk di atas sofa yang berada di ruang rawat. Ibrahim tampak memasuki tempat Arancia di rawat. Pria paruh baya itu membawa beberapa paper bag, yang entah apa isinya. Arancia menatap wajah teduh Ibrahim. Meskipun terkadang wajah itu terlihat datar dan dingin. Namun, Arancia dapat melihat ketulusan di balik wajah itu. "Apa kabar, Nona?" tanya Ibrahim. Arancia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah pria paruh baya itu. Sekelebat bayangan muncul di dalam kepalanya, membuat gadis cantik itu memekik kesakitan. "Arggh! Sakit!" Kevan langsung bangun mendekati Arancia. Sementara Ibrahim ia langsung berlari keluar, meminta dokter untuk datang ke ruan

