Pernikahan dadakan

511 Words
Ku kerahkan seluruh energiku demi menyelamatkan wanitaku. Tak lama kemudian vana menggerakkan kedua bola matanya walau masih dalam keadaan terpejam,setelah itu bulu mata lentiknya bergerak membuktikan bahwa sang empunya akan segera membuka matanya. Namun sebelum mata indah itu terbuka sepenuhnya,kegelapan sudah menenggelamkan aku hingga aku tak tau apa yang terjadi setelahnya. 'Givana'pov' Ku buka mata ini,dan pemandangan pertama ku lihat adalah langit-langit kamar ku edarkan pandanganku menyapu sekitar. Baru ku sadari bahwa kamar ini kamar yang pernah ku singgahi. Tunggu bukannya ini tempat dimana aku diculik?. "Aduh lengket banget nih badan lebih baik aku ke kamar mandi dulu deh" ucapku seraya bangkit walau kepala masih cenut-cenut. Namun ada hal yang mengejutkan di lantai. Dia,si cowok arogan dan pemaksa itu terbaring tak sadarkan diri tepat di samping tempat tidur. "Tolong!!siapa saja yang ada di luar tolong aku!" teriakku menggedor pintu dari dalam dengan tak sabar. Karna harus ku akui bahwa aku sangat khawatir dengannya walau terkadang dia itu nyebelin banget. Tak lama gedoranku terhenti karena ku mendengar suara kunci yang di putar. 'Krieettt.. Terlihat sepasang suami istri berdiri di ambang pintu. "Maaf apakah kalian bisa membantuku?pria di sana sedang berbaring tak sadarkan diri dan saya sangat khawatir kepadanya" tanyaku. Tanpa menjawab mereka melangkah maju menuju tempat cowok itu terbaring,dan pria paruh baya itu mengangkatnya namun hal yang tak ku duga sedang di depan mataku. Dia mengangkat bukan dengan kedua tangannya melainkan menggunakan mutiara. Tak ingin ku mempercayai penglihatanku namun ini sangatlah nyata untuk diabaikan. "Kau ingin menyelamatkannya kan?" tanya wanita yang ku ketahui adalah istri dari sang pria. Aku hanya dapat menganggukkan kepala sebagai jawabannya karna rasa keterkejutanku akan apa yang terjadi tadi belum menyadarkanku dari keterpanaanku. "Kalau begitu kau harus menikahi dia untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya" jawab pria itu dengan wajah yang datar. "Apa? Menikah? Dengannya? Gak,saya gak mau menikah dengan pria arogan itu" ucapku dengan spontan tanpa diolah terlebih dahulu setiap kata. "Maaf jika saya tidak sopan tapi saya tidak mau menikahi orang yang tidak saya cintai bahkan saya hanya mengenalnya sebatas nama dan tempat tinggalnya" lanjutku membenarkan kataku yang sebelumnya. "Tidak perlu khawatir,kamu bisa mengenalnya lebih dalam lagi setelah menikah bukankah cinta bisa dihadirkan karna terbiasa bersama?" sahut wanita tersebut yang menatapku penuh kelembutan. 'Skak matt...gak bisa ngelak lagi nih' batinku. "Tapi.." "Tidak pakai tapi-tapian!. Kamu akan menikah dengannya besok saat bulan purnama bersinar dengan terangnya. Mau tidak mau kau harus melakukannya karena dia telah mengorbankan nyawanya untuk menolongmu yang sedang sekarat." potong pria paruh baya tersebut lalu melengang keluar. Kemudian disusul istrinya dan sebelum ia meninggalkanku,ia mengacak rambutku dengan sayang. 'Hah sekarat,perasaan aku hanya tidur biasa'batinku menerka. Sekarang tinggalah aku berdua dengannya. Mataku tak sengaja tertumbuk pada hp yang menyala di atas nakas,bukan karena pesan yang masuk yang membuatku terpaku namun tanggal dan hari yang membuatku terpaku. Ternyata benar bahwa aku bukan sekedar tidur biasa dan aku mulai mempercayai kedua orang paruh baya tadi meski aku masih bertanya-tanya kenapa aku bisa mengalami ini. Aku mendekat ke arah dimana ia terbaring lemas. Ku genggam tangannya yang terasa dingin. Dan ku amati dirinya yang sangat tenang dalam tidurnya. Ia terlihat tampan jika sedang terpejam seperti ini dan tak terlihat menakutkan dengan mata tanjamnya itu. Tanpa terasa aku terlelap di atas tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD