Kini Givana sedang berjalan menikmati pemandangan di luar istana atau lebih tepatnya mengunjungi mantan sekolahnya. Ia menapakkan kakinya menuju ke bangku yang sudah disediakan di Taman, dan termenung memikirkan atas apa yang menimpa kehidupannya.
"Dahulu hidupku sangatlah sempurna masih bebas bepergian dengan teman, belanja dan menghabiskan waktu tanpa memikirkan bahaya sedikitpun tapi setelah dirinya hadir. Hidupku berubah!. Bahkan aku tak menyangka jika aku sudah menikah dengan orang yang tidak aku kenal dan mempunyai kehidupan jauh diatas manusia normal pada umumnya. Aku tak tahu bagaimana khawatirnya bunda jika tidak menemuiku di rumah selama 3 hari"ucap givana.
Ia menghembuskan nafas lelah dan memejamkan mata dengan muka di hadapkan ke langit. Ya, dia sudah sangat lelah takdir mempermainkan hidupnya sedemikian rupa.
Tanpa givana sadari ada seorang pemuda menempatkan diri duduk di sampingnya, sambil memandanginya dan tersenyum lembut melihat wajah tenang givana yang telah memejamkan mata. Givana seperti seorang bidadari, sangat amat cantik terkena sinar matahari yang memaparkan sinarnya di wajah putih givana serta angin yang menerbangkan helaian rambutnya menambah kesan kecantikan alami di diri givana. Namun sepertinya givana terlalu asyik dengan dunianya sendiri tanpa menyadari jika dirinya telah diperhatikan sangat intens oleh seseorang.
Setelah merasa tenang givana membuka perlahan kelopak matanya dan memandang ke depan, namun ia merasa jika bukan dirinya saja yang berada di sini namun ada orang lain juga. Dia pun menolehkan kepalanya ke arah kanan dan betapa terkejutnya ia menemukan sosok pemuda yang sangat dikenalnya itu.
"Kak Surya! Kok kakak ada di sini? "Katanya
"Kebetulan aku lewat daerah sini dan melihat bidadari sedang sendirian jadi aku kemari dan memutuskan untuk menaninya"canda Surya karena pada kenyataanya ia sedang mencari givana.
"Gombal deh! "Ucap givana menyembunyikan pipinya yang sudah sangat merona itu.
"Loh siapa sih yang gombal, aku serius tau"ucap Surya sambil memasang muka pura-pura seriusnya.
"Ihhh... Kakak"rengek givana sambil memukulkan tangan kecilnya pada badan surya. Dan mereka tertawa bersama tanpa menyadari ada orang yang memerhatikannya sambil menahan geram.
Saat mereka sedang bersenda gurau datanglah orang yang memerhatikan mereka dari jauh.
"Ehm.. "Dehamnya. Seketika tawa mereka berhenti melihat sosok yang berdiri di hadapan mereka dengan berbagai ekspresi yang terpatri si muka mereka masing-masing. Givana dengan muka paniknya, dan surya dengan muka datarnya.
"Ku lihat kalian sangat bahagia sekali? Bukan begitu GIVANA?! "ucapnya sambil menekankan pada nama givana. Dan tubuh givana bergetar hebat karena aura yang dikeluarkan oleh Gio, ya orang itu bernama gio yang merupakan suami givana. Surya yang melihat givana bergetar menyembunyikan givana di balik tubuhnya dan itu berhasil memancing amarah gio, hingga gio langsung menyerang surya tanpa aba-aba yang menyebabkan givana menjerit ketika menyaksikan surya terpelanting membentur pohon. Namun keterkejutannya tidak sampai di sana karena ia merasakan tangannya di tarik menuju ke arah gio dan membentur d**a bidangnya.
"Ingat pangeran kutub DIA SUDAH MENJADI MILIKKU dan kau tak berhak menyentuhnya"kata gio ketika melihat surya berusaha bangkit berdiri dan semakin mengeratkan pelukannya pada givana. Tanpa menunggu surya berdiri dengan sempurna, gio pun langsung menghilang di telan kabut bersama givana di pelukannya.
"s**l! Awas saja kau gio, aku berjanji akan merebut givana dari tanganmu karena akulah yang berhak atasnya, akulah yang mencintainya terlebih dahulu"tekat surya menatap kosong kepergian gio bersama sang pujaan hati. Ia mengusap bibirnya yang terkena darah yang tadi ia muntahkan, kemudian menghilang dari tempat itu untuk mempulihkan keadaanya baru setelah itu ia memikirkan cara agar sang pujaan hatinya terbebas dari cengkraman gio.