CHAPTER DELAPAN

1822 Words
            Petra termenung dikeremangan kamarnya. Ia menatap selembar foto di tangannya. Fotonya dengan seorang wanita yang baginya adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui. Dadanya menghangat setiap ia memikirkan wanita itu. Bagaimana senyumnya, perilakunya, kecerdasannya, perhatiannya, wanita itu telah membuatnya jatuh cinta berkali- kali, hingga saat ini.             “Selamat pagi.” Wanita itu menyibak selimut yang menutupi tubuh Petra. Petra menggeliat lalu membuka matanya perlahan. Ia melihat wanita itu membuka tirai kamar dan membiarkan cahaya matahari pagi menysuup masuk ke dalam kamar lalu duduk di pinggir rajang. Tidak ada yang paling membahagiakan bagi Petra selain melihat senyuman istrinya setiap pagi.             “Pagi.” Petra tersenyum lalu bangun dan duduk di atas ranjang.             “Ayo jalan- jalan ke pantai nanti sore.” Ajak wanita itu dengan raut bahagia. Petra mengangguk lalu menarik tangan wanita itu dan memeluknya erat. Wanita itu terdiam lalu menarik tubuhnya menjauh dari Petra. Petra menggenggam tangan istrinya dengan erat.             “Aku harus pergi.” lirih wanita itu. Genggaman itu terlepas, wanita itu menjauh dan Petra berteriak sambil mengacak- acak rambutnya frustasi. Petra membanting bantal, selimut dan semua barang yang ada di sekitarnya. Tak peduli bahwa sosok itu akan tetap pergi seperti mimpi- mimpi sebelumnya.             Petra terbangun dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Ia menelan ludah lalu mengatur napasnya yang terengah- engah. Ia menyambar gelas kecil di atas nakas lalu menandaskannya dalam satu tegukan.             Ia terdiam cukup lama hingga jantungnya bergeral normal. Ia melirik jam dinding dan memutuskan untuk keluar kamar. Ia butuh udara segar, pikirnya. Ia melewati ruang tamu saat melihat sekelebat bayangan di dapur. Matanya memicing, ia bergerak waspada dan berjalan mengendap- endap mendekati dapur. Lampu ruang tamu dan dapur mati, namun ada seberkas cahaya dari dapur.             Ia mengambil tongkat golf yang ada di keranjang samping televisi dan mendekat ke dapur.             “Kara” Petra melihat Kara tengah membuka lemari gantung dan mencari sesuatu dengan bantuan senter dari ponselnya.             Kara terkejut lalu mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir. Menyuruh Petra untuk tak berisik.             Petra mendekat lalu melihat Kara sibuk membuka satu persatu lemari gantung yang berderet di dapur.             “Kamu mencari apa?” tanya Petra dengan nada lirih.             “Mie instan. Kamu tahu di mana Karin menyimpannya?” tanya Kara. Petra mendekat lalu membuka lemari di bawah oven.             “Karin pasti tahu aku mengonumsi banyak akhir- akhir ini.” Kara berjongkok lalu mengambil beberapa mie instan cup dan menaruhnya di atas meja bar.             Petra menyalakan lampu dapur lalu menatap Kara dengan bingung. Bagaimana mungkin Kara terlihat sebagai pencuri di rumahnya sendiri.             “Aku sebal melihat Karin mengomel karena aku terlalu sering makan ini. Makanya aku selalu makan diam- diam.” Kara memberi penjelasan pada Petra bahwa Karin bisa jadi monster bila sedang marah.             “Kamu mau?” tanya Kara saat ia menuangkan air panas ke gelas cupnya lalu menutupnya kembali. Petra menggeleng.             Keduanya duduk berhadapan. “Kamu mau memukulku dengan itu?” Kara melirik stik golf dalam genggaman pria di depannya lalu bergidik ngeri saat melihat Petra mengangguk.             “Aku pikir ada penyusup.” Jawab Petra.             Kara membuka tutup mie instannya dan mengaduk- aduk isinya.             “Kenapa kamu bangun jam segini?” tanya Kara sambil melirik jam yang menunjukkan lewat tengah malam.             “Aku mimpi buruk.” Jawab Petra.             Kara tersenyum lebar, Petra menatapnya bingung. “Aku senang saat mengetahui bahwa bukan hanya aku saja yang selalu mengalami mimpi buruk.” Kata Kara sambil menyuapkan mie ke dalam mulutnya.             Petra menatap gadis yang tengah fokus dengan cup berisi mie instan di depannya. Gadis itu tak membuka obrolan dengannya. Hanya fokus pada benda di depannya. Sesekali kepalanya menengadah dan menatap Petra sekilas dan tersenyum. Seakan memberitahu pria itu bahwa ia menikmati makanannya.   ***               Kara masih ada di lokasi syuting saat jam menunjukkan hampir tengah malam. Gadis itu tengah menjadi bintang tamu di salah satu acara. Petra berada di samping panggung, memerhatikan Kara yang masih bisa tersenyum ke arah kamera padahal mereka memulai hari ini lebih pagi dari biasanya.             Gadis itu tak terlihat lelah, dalam tubuh mungilnya tersimpan energi yang luar biasa. Beraktifitas dari pagi hingga pagi menyadarkan Kara kalau ia masih hidup dan ia sudah terbiasa dengan hal itu. Ia akan tetap tersenyum meskipun tubuhnya lelah, ia akan tetap tersenyum meskipun matanya mengantuk, ia mungkin akan tetap tersenyum saat ia kesakitan. Ia sudah melakukannya bertahun- tahun dan itu tak lagi jadi hal sulit baginya.             Kara memejamkan matanya saat tubuhnya berhasil bersandar di mobil mewahnya. Petra duduk di belakang setir sedangkan Karin di sebelahnya, matanya terpejam karena tubuhnya tak kalah lelah.             Karin membuka matanya saat mobil memasuki garasi rumah. Ia merenggangkan ototnya lalu melihat ke belakang  dan menemukan Kara tidur dengan pulas.             Karin berpikir sebentar lalu menarik napas, “Dia harus kelelahan dulu baru bisa tidur nyenyak.” Katanya. “aku tidak tega mau membangunkan. Tolong kamu bangunkan pelan- pelan ya.” Kata Karin lalu keluar dari mobil sambil membawa barang- barangnya.             Petra keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang belakang. Ia menatap Kara yang tampak pulas. Dengan berani, pria itu mengusap lengan Kara. Tak cukup untuk membangunkan gadis itu, ia mengoyang- goyangnya tubuh itu hingga akhirnya sepasang mata itu perlahan terbuka.             “Sudah sampai.” Ujar Petra. Kara mengucek- ucek matanya dengan tangan lalu menatap keluar jendela dan menyadari mobil itu sudah terparkir di garasi rumahnya. Gadis itu menggeliat lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Petra mengambil tas gadis itu yang ditinggalakan di dalam mobil dan mengekor di belakangnya.             “Tasmu.” Kata Petra saat Kara sudah mencapai pintu. Sebelah tangan gadis itu sudah bertengger di gagang pintu dan siap membukanya.             “Oh.” Kara berbalik dan melihat Petra mengulurkan tasnya. Ia mengambil tas itu dari tangan Petra dan masuk ke kamarnya. “selamat malam.” Kata Kara sebelum pintu kamarnya benar- benar tertutup. Petra tak menjawab, ia masuk ke kamarnya dan menyusup dibalik selimut tebalnya.   ***               Jam menunjukkan pukul enam pagi saat suara sumpah serapah Kara terdengar.             “Berisik... Dasar jam sialaan... aku masih mengantuk.” suara barang dibanting terdengar hingga keluar. Petra yang sedang menyesap tehnya di dapur menatap ke kamar Kara.             “Kalau jadwalnya sibuk, pagi akan selalu seperti ini. Kamu akan terbiasa nanti.” Kata Karin yang masuk ke dapur dan tersenyum pada Petra.             “Aku akan pergi ke suatu tempat. Pastikan kalian sampai stasiun radio sebelum jam sembilan.” kata Karin, Petra mengangguk tanda mengerti. Gadis itu terlihat membereskan barang- barang pribadinya yang tergeletak di atas meja bar dapur. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Karin pamit pada Petra lalu melambai dan keluar dari rumah.             Satu jam kemudian, pintu kamar Kara terbuka. Gadis itu sudah dalam keadaan rapi. Gadis itu memakai jeans berwarna hitam dengan tanktop yang dibalut dengan kemeja kotak- kotak yang dua ujung kancing bagian atasnya sengaja dibiarkan terbuka. Mata Kara langsung menatap Petra yang masih berada di dapur.             “Tidurmu nyenyak?” tanya Kara sambil mengambil gelas dan menuangkan air dari teko. Petra menjawab dengan sebuah anggukan.             “Kamu yang membuat?” tanya Kara saat melihat sudah ada pancake di atas meja. Petra menjawab dengan gelengan kepala.             Kara menarik napas lalu menatap Petra yang duduk di depannya. “Jawablah dengan mulut kalau kamu tidak bisu.” Katanya dengan nada kesal.             “Karin pergi ke...”             “Aku tahu.” Kara memotong kalimat Petra. Kara mengambil pancake di atas meja lalu memakannya.             “Makanlah yang banyak. Kita akan berativitas sampai malam.” Kata Kara sambil mengunyah. Setelah mengahabiskan pancake buatan Karin. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruangan di sebelah kamarnya dan masuk ke sana. Ruangan itu menyimpan koleksi baju, sepatu dan jam miliknya. Barang- barang itu tak semua ia beli sendiri. Ia kadang mendapatkannya dari fans saat mengadakan meet and great. Ia mendekati lemari kaca dan memilih satu tas berwarna hitam berbahan kulit. Setelahnya, ia beralih ke lemari sebelahnya dan memilih sepatu berwarna senada berhak tiga sentimeter. Mengakhiri kegiatannya, ia mengambil sebuah jam tangan dari lemari yang lainnya.             Ia keluar dari ruangan dan melihat Petra sudah tak ada di tempat semula. Ia keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil, Petra sudah ada di belakang kemudi dan mulai menekan pedal gas hingga roda mobil berputar keluar dari rumah.             “Kamu punya rokok?” tanya Kara pada Petra yang sedang fokus pada jalanan.             “Tidak.” Jawab Petra.   ***               Seseorang tersenyum di halaman belakang rumahnya. Ia menatap katak yang sedang meregang nyawa di depannya. Setelah melihat binatang di depannya tak bernyawa, ia bergumam, “Haruskah aku memotongnya menjadi lima bagian?” tanyanya pada diri sendiri. Ia mengangkat pisau dalam genggamannya dan tersenyum, menyadari kalau pisau itu akan sangat mudah mencincang daging binatang itu karena sangat tajam.             Ia menggeleng pelan lalu memutuskan untuk mencongkel kedua mata katak itu dengan ujung pisau dalam satu kali sentakan, lalu merobek bagian perutnya hingga isi perutnya terlihat. Ia tesenyum puas. Ia lalu memasukkan katak itu ke sebuah kotak yang ada di sebelahnya lalu mengoleskan darah yang menempel di tangannya ke sebuah foto seorang gadis yang ada di dalamnya   ***               Petra menatap sebuah kotak yang di ada di atas mobilnya. Ia mengambilnya dalam satu jangkauan. Sebelum membukanya, ia menatap sekeliling dan menyadari parkiran stasiun radio tampak sepi. Ia membuka kotak cokelat itu dan terpaku saat melihat isinya. Mengabaikan binatang yang sudah tak berbentuk di dalam kotak itu, ia mengambil sebuah foto yang terselip di sana. Foto Kara yang tengah tersenyum.             “Apa itu?” sebuah suara menyentaknya. Ia refeks menutup kotak itu dan mengangkat bahu. Kara dan Karin mendekat ke arahnya.             “Bukan apa- apa.” Jawab Petra sambil menyembunyikan kotak itu di belakang tubuhnya.             Kara menatapnya penuh selidik lalu mengulurkan sebelah tangannya.             “Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu.” Kata Kara. Ia tahu, kotak itu pasti ditujukan untuknya.             “Tak ada nama penerima. Ini juga bukan untukmu.” Jawabnya.             Kara menarik napas, “Berikan. Aku mau lihat apa yang ada di kotak itu kali ini.” Desak Kara.             Karin diam- diam menggeleng pada Petra, ia mengisyaratkan pada Petra untuk tak menuruti kata- kata Kara. Ia tahu isi kotak itu bukan sesuatu yang baik sehingga menyuruh Petra tak memberikannya pada Kara.             “Berikan.” Sentak Kara.             Petra menelan ludah lalu menarik kotak di balik tubuhnya dan memberikannya pada Kara. Kotak itu berpindah tangan. Kara menelan ludah dengan susah payah, ia menatap kotak itu baik- baik.             “Jangan di buka.” Kata Karin. “Jangan.” Karin merebut kotak itu dari tangan Kara dan berjalan menuju tempat sampah tak jauh dari tempat mereka berdiri.             “Karin stop.” Kara setengah berteriak lalu mengejar langkah kaki Karin yang lebar- lebar. Ia menarik lengan Karin hingga gadis itu berbalik ke arahnya.             “Di sini tidak ada namamu. Ini bukan untukmu. Aku akan membuangnya.” Kata Karin.             “Kamu berpikir sama sepertiku. Kamu juga menganggap itu kotak teror seperti sebelumnya kan.”             Kara tersenyum lalu mengambil kotak itu dari tangan Karin. “Aku tak pernah lari dari apapun.” Katanya lalu membuka kotak itu dan tercekat. Kotak itu terjatuh dari tanganya saat ia merasakan isi perutnya naik dan siap keluar dari mulutnya. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD