Keduanya kembali ke rumah menjelang pagi. Karin, Sandra, dan Kinan yang berada di runag tamu langsung menatap keduanya.
“Dari mana saja?” tanya Karin dengan nada cemas.
“Mencari udara segar.” Jawab Kara yang langsung duduk di samping Kinan. Karin berdecak. Ia dan yang lainnya kebingungan mencari gadis itu, takut terjadi apa- apa padanya, keduanya memang tak membawa ponsel sehingga tak ada yang bisa menghubungi keduanya.
“Jangan pernah lupa membawa ponselmu.” Karin mengingatkan..
Kara tersenyum sinis. “Aku tak pernah memegang ponselku semenjak kematian ibuku. Aku bahkan tidak tahu benda itu ada di mana.” Kata Kara.
“Senang melihatmu keluar dari kamar.” Kata Sandra. Kara tersenyum.
“Terima kasih karena mengkhawatirkanku. Kalian bisa kembali ke hidup kalian seperti sebelumnya.” Kata Kara dengan sedikit tertawa. “Aku tak menghasilkan uang beberapa bulan ini, aku hanya mengandalkan keuntungan dari usaha kalian. Jadi sebaiknya kalian kembali bekerja.” Ketiganya tertawa mendengar ucapan Kara.
“Apa rencana mu setelah ini?” tanya Kinan.
Kara melirik Karin. “aku tidak tahu apakah aku siap kembali ke layar kaca setelah semua yang terjadi.” Kara menghela napas. “sangat mengganggu saat mengetahui semua orang tahu semua masa laluku.”
“Tidak ada yang salah dengan masa lalumu. Kita tidak bisa memilih ingin lahir dari keluarga seperti apa.” jelas Kinan.
“Terlepas seperti apa masa lalumu, tidak mengubah dirimu yang sekarang. Kamu tetap Kara yang orang kenal dilayar kaca.” Sandra menambahi.
“Kamu tidak boleh kehilangan kepercayaan diri. Masa lalu mu mungkin buruk, tapi kamu menjadi entertainer karena bakatmu.” Karin menatap Kara yang tampak ragu. Ketiganya mencoba mengembalikan hidup Kara seperti sebelumnya. Mereka ingin mengembalikan kepercayaan diri sahabatnya. Kara tak boleh terus menerus terpuruk dalam kesedihannya.
Kara mengangguk pelan. “Darimana aku harus mulai?” tanyanya pada tiga sahabatnya.
“Bagaimana kalau menjadi model produk baruku.” Usul Kinan. “Kita akan launching produk baru minggu ini. Kebetulan kita belum memutuskan modelnya siapa.” Kata Kinan.
“Oke.” Kara mengangguk sambil tersenyum. Kara tahu ia tidak mungkin meninggalkan dunia yang sudah membesarkan namanya. Tanggungannya terlalu banyak dan ia tidak mungkin mundur begitu saja. Ia akan membalas atas kematian ibunya. Ia akan menjadi lebih sukses. Ia tidak akan membiarkan si pembunuh tertawa karena melihatnya terlalu berlarut dalam kesedihan. Ia akan menghadapi dunia mulai sekarang, hingga akhirnya bisa berhadapan dengan orang di balik semua ini. Ia tidak akan membuat apa yang ia capai selama ini terasa sia- sia.
***
“Aku mendengar rumor dari tetangga di sekitar rumah tersangka yang bunuh diri, bahwa anaknya meninggal dalam keadaan mengandung.” Kata Gerald.
“Mengandung?” Petra mengulang kata terakhir dalam kalimat Gerald. Pria di depannya mengangguk.
“Tapi gadis itu belum menikah, dan dalam keterangan dokter yang mengotopsi, tak ada keterangan bahwa ia tengah mengandung.” Gerald memberi tahu hasil pemantauannya akhir- akhir ini.
“Apa rumor itu bisa dipercaya?” Petra menatap Gerald yang tengah menyesap minumannya.
“Salah satu tetangga melihat gadis itu membeli beberapa testpack di sebuah apotek. Lalu tetangga yang lain pernah melihatnya tengah berada di poli kandungan di rumah sakit.” Jelasnya.
“Berarti seseorang memalsukan hasil otopsi?” Petra melihat temannya mengangguk yakin.
“Mungkin seseorang menyuap salah satu staff rumah sakit.”
***
Kara bangun dari tidurnya lalu beranjak mendekati jendela kamarnya. Ia membuka jendela dan menghirup udara dalam- dalam. Langit tampak cerah pagi ini. Kara senang mengengetahui bahwa ia punya kegiatan yang bisa ia kerjakan hari ini.
Kara membersihkan diri di kamar mandi dan keluar satu jam kemudian. Petra dan Karin ada di meja bar di dapur, tengah menikmati kopi dan tehnya.
“Selamat pagi.” Kara mendekat dan duduk di samping Karin. Ia mengambil gelas berisi cokelat panas dan menyesapnya pelan. Ia melirik Petra dan Karin yang tersenyum padanya bergantian.
Mereka sarapan seperti biasa. Hal yang sepertinya sudah lama tak mereka lakukan bersama. Ketiganya berharap ini adalah awal yang baik. Ketiganya berharap mereka akan tetap bertahan apapun yang akan terjadi lagi nantinya. Ketiganya berharap mereka masih bisa saling menguatkan apapun yang terjadi.
Ketiganya pergi ke kantor Kinan. Wanita itu menyapa mereka di kantor tiga lantai itu. Setelah berbincang sementara Karin menyiapkan kameranya, Kara mencoba produk terbaru Kinan. Kinan berfokus memproduksi baju- baju wanita. Mulai dari dress, blouse, hingga setelan kerja. Ia sudah mempunya beberapa outlet di mall. Ia juga melakukan pameran busana setiap setahun sekali. Juga mengikuti semua kegiatan yang bisa melebarkan usahanya.
“Aku juga membuat batik couple spesial edition untuk menyambut hari batik nasional awal bulan besok. Bagaimana kalau kamu mencobanya juga.” Kata Kinan. Ia lalu melirik Petra yang duduk di belakang Kara.
“Maksudmu bersama Petra?” tanya Kara yang melihat lirikan Kinan. Kinan mengangguk sambil tersenyum.
“Dia tidak akan mau.” Kata Kara.
“Bagimana kalau kamu membujuknya lebih dulu.” Pinta Kinan sambil menatap Karin dengan tatapan memohon. “Kebetulan aku belum mendapat model pria-nya.” Kata Kinan.
Karin dan Kara saling bertatapan.
“Tidak mau.” Penolakan itu langsung keluar dari mulut Petra saat Kara memberitahukan permintaan Kinan.
“Setidaknya, berpikirlah lebih dulu. Kenapa langsung menjawab seperti itu?” keluh Kara saat mendengar Petra langsung menjawab dengan tegas tanpa berpikir.
“Aku tak perlu berpikir.” Kata Petra dengan nada tak kalah tegas. Kara menghela napas dan menatap Petra yang tampaknya tak bisa diganggu gugat keputusannya.
***
“Aku tidak yakin aku bisa.” Kata Petra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap Karin yang sedang menyetel kameranya sementara Kara duduk di kursi di sampingnya.
“Ini mudah. Kamu hanya perlu tersenyum sambil melihat ke kamera.” Kata Kara. Ia tersenyum melihat Petra tampak kebingungan. Ia terlihat tampan dengan kemeja batik dengan dominan warna merah, senada dengan batik miliknya.
“Oke.” Karin mengangkat jempolnya untuk memberitahu bahwa kameranya telah siap. Kinan maju ke set dan mengarahkan gaya untuk keduanya.
“Tak perlu terlihat romantis, kalian hanya perlu terlihat saling melengkapi.” Kinan menuruh Kara duduk sementara Petra berdiri di sampingnya. Ia juga membenarkan posisi berdiri Petra agar terlihat natural. “Oke... tahan.”
“Satu…dua…tiga…Cheese.” Teriak Karin.
Keduanya tersenyum. Karin menekan tombol di kameranya untuk merekam potret di depannya.
Pemotretan keduanya berlangsung selama setengah jam. Petra melakukannya dengan sangat baik meskipun awalnya perlu diarahkan oleh Kinan.
“Mereka cocok.” Bisik Kinan pada Karin yang langsung mengangguk.
“Sayang Petra sudah memiliki istri.” Kata Karin, Kinan mengangguk dengan raut menyesal.
Keduanya menatap potret mereka di laptop milik Karin. Keduanya tersenyum saat melihat beberapa potret yang gagal, entah Petra yang menutup mata, ataupun Kara yang tidak dalam posisi siap. Tapi, jumlah foto yang bagus tentu lebih banyak. Kara tersenyum, bukan menganggumi dirinya dalam balutan dress batik yang begitu cantik, namun melihat Petra yang tampak berbeda. Jika biasanya pria hanya memakai kaos ataupun jas hitam, kini kulit cokelat pria itu tampak lebih cerah dalam balutan kemeja berwarna merah.
Kamila beruntung memilikinya.
Petra memang akhirnya memenuhi permintaan Kara untuk menjadi model setelah gadis itu bersikeras bahwa ia akan dipecat jika ia menolak. Dan setelah perdebatan panjang, Petra akhirnya mengalah dan menuruti permintaan gadis itu.
***
Orang- orang berkerumun di depan sebuah rumah. Beberapa polisi baru saja masuk. Tak lama, semakin banyak polisi yang datang dan berjaga di depan tempat kejadian. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat seorang petugas polisi mendapat telepon bahwa telah terjadi kejahatan di salah satu rumah di sebuah perumahan kumuh.
“Aku mendengar suara teriakan dari rumah sebelah, aku dan suamiku lalu mencoba mencari tahu, saat aku sampai di depan rumahnya, aku mendengar suara dobrakan, sepertinya dari pintu belakang. Saat suamiku membuka pintu, dia sudah tergeletak penuh darah.” Wanita itu menjelaskan pada petugas kepolisian bagaimana ia dan suaminya menemukan wanita itu pertama kali.
***
“Wanita itu janda tanpa anak. Dia hanya tinggal seorang diri. Setelah mengonfirmasi foto- foto pada anda, kami langsung mencari identitasnya. Tak lama setelah kami mendapatkannya, kantor mendapat telepon mengenai korban pembunuhan. Nama dan alamatnya sama persisi seperti orang yang akan kami datangi.” Petugas polisi memberikan informasi pada Kara. Kara terdiam, ia tahu, mungkin tak cuma polisi yang lambat, namun pembunuh itu yang bergerak begitu cepat.
“Bagaimana dia bisa mendahului polisi?” Karin bertanya dengan nada bingung. Tak ada yang memberi jawaban karena semuanya juga diliputi kebingungan yang sama.
“Mungkin mereka memang berencana membunuh wanita itu setelah wanita itu menyelesaikan tugasnya.” Kata Petra.
“Kematin ibu anda mungkin bukan akhir. Kami minta anda tetap berhati- hati. Petugas polisi akan berjaga di sekitar rumah anda.” Kata petugas polisi yang satunya. “anda kemungkinan akan menjadi target selanjutnya.” Lanjutnya.
“Apa pembunuh itu tidak meninggalkan jejak sama sekali?” Karin bertanya. Kedua polisi itu menggeleng.
“Tidak ada sidik jari yang ditemukan. Tak ada CCTV yang terpasang. Tak ada keluarga yang bisa dimintai keterangan. Mereka memilih orang- orang yang hanya tinggal seorang sendiri, dan bergerak dengan sangat teratur.”
TBC
LalunaKia