12. Resiko Orang Cantik

1254 Words
Langkah kaki Arash terhenti ketika dia menyadari sesuatu. Lelaki itu baru berhenti tepat di sebelah mobilnya, hendak membuka pintu, tapi niat itu dia urungkan. Meski sedang tergesa ingin cepat tiba di tempat Arsyila berada, tapi pikirannya masih bisa berjalan dengan baik. Arash kembali masuk ke dalam rumah, untuk mengambil kunci mobil milik mamanya saja. Dia tak ingin Arsyila curiga hanya karena kendaraan yang dia gunakan. Bisa saja Arsyila memiliki ingatan yang tajam hingga mengaitkan antara dirinya dan Laura, karena tadi Laura pergi menggunakan mobilnya. Kebetulan klinik yang dimaksud Laura memang tidak terlalu jauh dari rumah mereka, maka Arash bisa tiba di sana dalam waktu sekitar lima belas menit saja. IGD adalah tujuannya, karena berdasarkan informasi yang didapatkan dari sang mama, Arsyila masih berada di IGD dan akan ditangani. Lelaki itu berjalan perlahan di area IGD sambil melirik sekitar. "Maaf Suster, apa ada pasien kecelakaan yang baru masuk sekitar setengah jam yang lalu?" Arash bertanya pada salah satu petugas yang melintas. "Laki-laki, atau perempuan?" Balas perawat itu dengan ramah. "Perempuan, berhijab, Suster," jelas Arash. "Oh ya, namanya… Arsyila Jelita Puspasari–" "Iya, benar." Arash langsung membenarkan ketika perawat itu membaca lembaran kertas yang sedang dipegangnya. "Silakan, pasien sedang ditangani, di sana." Wanita itu menunjuk ke arah pojok kanan. "Terima kasih, Suster." "Sama-sama." Setelah mendapat informasi yang dia inginkan, Arash tidak langsung berjalan ke sana. Dia masih berdiri di tempatnya, sedang berpikir. Berpikir tentang alasan apa dan bagaimana dia bisa bertemu Arsyila di sini? Di balik tirai berwarna abu-abu, Arsyila saat ini sedang memejamkan matanya rapat-rapat, karena tidak mampu melihat sebagian kakinya yang terluka lebar harus dijahit setelah dibersihkan. Meski tidak sakit karena sudah diberi bius di sekitarnya, tapi tetap saja Arsyila tak mampu menyaksikan. "Mbak Arsyila, temannya belum datang?" Seorang dokter berparas tampan yang sedang menangani lukanya, bertanya pada Arsyila, dokter sedang mencoba menenangkan pasiennya itu. Sejak tadi, Arsyila tampak begitu gelisah dan ketakutan karena melihat satu wadah peralatan medis yang dibawa perawat untuk digunakan dokter. "Be-belum," sahut Arsyila. Beberapa menit lalu, dia mencoba menghubungi Rayna, tapi sayang sekali rekannya itu sedang berada jauh di luar kota, karena sedang pulang ke rumah orang tuanya dan akan kembali sore ini. "Nggak apa-apa, nggak terasa sakit, kan? Kenapa harus takut?" Tanya Dokter itu lagi, kembali mengajak pasiennya berbicara. "Saya nggak pernah mengalami ini, Dokter, ini pertama kalinya," jawab Arsyila tanpa mau membuka matanya. "Jangan lihat luka dan apa yang sedang dokter lakukan, lihat wajah saya aja." Arsyila menghela napasnya, perlahan dia membuka mata, apa dokter ini sedang mencoba merayunya, tapi kenapa suara lelaki ini terdengar berbeda. "A-Arash?" Kali ini Arsyila benar-benar membuka matanya ketika seorang lelaki bertubuh tinggi, memakai pakaian serba hitam, berdiri tepat di sebelahnya. "Maaf kalau saya lancang masuk ke sini, nggak sengaja saya dengar nama Arsyila disebut, saya cuma mastikan apa benar Arsyila yang saya kenal, atau bukan," ucap Arash dengan begitu lugas, tanpa gugup. Arsyila mengangguk. "Nggak apa-apa." Entah mengapa kala itu Arsyila merasa sedikit tenang karena kehadiran Arash. Jujur saja, Arsyila tidak tahu lagi harus menghubungi siapa lagi ketika Rayna tidak bisa menemuinya saat ini. Dia tidak punya keluarga sama sekali di kota ini. Hanya Rayna dan satu orang tetangga kosnya yang bisa dia anggap teman dekat dan orang baik. Namun, sayang sekali, tetangga kos yang Arsyila maksud, hari ini sedang melakukan sesi pemotretan prewedding karena wanita bernama Nisa itu sebentar lagi akan menikah dan tentu akan meninggalkan Arsyila. Bisa saja Arsyila menghubungi Radit, tapi Arsyila tak ingin terkesan memberi harapan pada lelaki yang sebenarnya sedang mencoba mendekati Arsyila. Dia tak ingin memudahkan jalan lelaki itu untuk bisa selangkah lebih dekat dengannya. "Nah udah selesai, untung temannya cepat datang, kalau nggak, kasihan Mbak Arsyilanya panik dan ketakutan," ucap dokter sembari melirik Arash dan mengira lelaki itu adalah teman yang dimaksud Arsyila. "Makasih, Dokter." Wanita itu tersenyum sangat ramah dan terlihat cukup manis, hingga lelaki di sebelahnya enggan mengalihkan pandangannya karena baru kali ini Arash melihat senyum Arsyila selebar dan semanis itu. "Dokter, ini udah selesai, kan?" Rasanya Arsyila ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. "Sudah, Mbak. Tapi jangan pulang dulu, ya. Saya resepkan obat yang harus ditebus dan nggak boleh dilewatkan kalau Mbak mau lukanya cepat kering." Belum sempat Arsyila menjawab, dokter beserta seorang perawat sudah berlalu begitu saja. Dan kini tinggal lah mereka berdua, Arsyila dan Arash yang sedari tadi banyak diam. "Kamu, kok bisa ada di klinik ini?" Arsyila mendongak menatap Arash yang masih berdiri di sebelahnya. Lelaki itu tersenyum tipis. "Kebetulan saya jenguk teman," jawabnya berbohong. "Oh ya? Teman kamu, masuk IGD juga?" "Iya, dia keracunan." Arash menjawab asal tanpa berpikir panjang. "Hah? Kok bisa?" "Kayaknya makan makanan yang udah expired," sahut Arash. Lagi-lagi dia bicara asal tanpa berpikir, yang penting dia bisa memberikan alasan yang masuk akal pada Arsyila tentang keberadaannya di sini. "Kasihan banget, harusnya bisa dituntut itu tempat beli makanannya di mana. Bisa-bisanya jual makanan yang udah lewat tanggal kadaluarsa." Arsyila berkomentar. "Sebenarnya, teman saya aja yang b**o. Suka koleksi makanan di dapurnya, berbulan-bulan, bertahun-tahun, sampai dia nggak nyadar kalau itu udah lewat tanggal kadaluarsa." Arash mendadak pintar mengarang sebuah cerita. Arsyila hanya mengangguk bingung, harus memberi komentar apa. "Sekarang, temanmu di mana?" "Oh, udah dirawat, ada keluarganya kok." Arsyila hanya mengangguk kecil. Sebenarnya dia bingung, mengapa Arash tidak bertanya apapun tentangnya? Maksudnya menanyakan mengapa keberadaan Arsyila bisa di sini? Bukannya Arsyila berharap Arash perhatian, hanya saja sedikit aneh. "Gimana ceritanya Bu Arsyila bisa kecelakaan?" Setelah saling diam selama beberapa detik, Arash kembali bersuara. "Kamu, tau dari mana, kalau saya kecelakaan?" Tanya Arsyila heran. "Ya…, lihat dari kondisi Bu Arsyila sekarang, kan nggak mungkin Ibu melukai kaki, siku dan dagu Ibu dengan sengaja." Arash menunjuk beberapa bagian tubuh Arsyila yang terluka. "Dagu?" Gadis itu menyentuh dagunya sendiri, dia langsung meringis karena sentuhkan itu, dia merasakan perih. Bahkan dia tidak menyadari kalau luka akibat kecelakaan itu juga bersisa di wajahnya. Arsyila mengambil ponselnya, membuka aplikasi kamera, menyalakan mode selfi. Dan benar kata Arash, sebagian dagunya lecet dan meninggalkan luka. Bakalan malu banget kalau bekas lukanya lama hilang, gimana bisa cepat dapat jodoh kalau gini ceritanya? Arsyila bergumam dalam hati. Hijab instan yang dikenakannya juga ternyata sedari tadi, posisinya tidak keruan, agak miring ke kanan. Arsyila mendadak insecure. "Ini resepnya, Bu." Tiba-tiba seorang perawat menyerahkan selembar kertas pada Arsyila. "Makasih, Suster." "Saya yakin Ibu nggak bisa jalan dengan kondisi kaki yang seperti itu, Suster tolong siapkan kursi roda, ya." Pinta Arash pada perawat itu, lalu tak segan-segan dia mengambil selembar kertas yang sedang dipegang Arsyila. "Baik, Pak." Arsyila menatap heran pada lelaki di hadapannya. "Kamu–" "Ibu mau protes apa?" Tantang Arash. "Saya bisa sendiri, kamu nggak usah repot-repot." Tegas Arsyila. "Saya mau bantu, dan saya nggak merasa direpotkan." Balas Arash tak kalah tegas. Kursi roda sudah diberikan, dan sesuai permintaan Arsyila, perawat itu membantunya untuk bisa duduk di atas kursi roda, dan kebetulan perawat itu seorang wanita. Karena rasanya dia tidak mungkin Arsyila meminta bantuan pada Arash, apalagi sampai bersentuhan seperti itu. "Semoga lekas sembuh," ucap Arash, matanya masih tertuju pada selembar kertas yang dipegangnya. "Iya, aamiin," sahut Arsyila tanpa tahu apapun. Kini Arash sedang mendorong kursi roda untuk menuju apotek di klinik itu. "Ibu senang, ya? didoakan Dokter tadi, apa karena dia ganteng?" "Maksud kamu, apa?" "Ini." Arash memberikan selembar kertas berupa resep yang dituliskan dokter tadi, pada Arsyila. Semoga lekas sembuh ;) Di area sudut kanan bawah, terdapat tulisan seperti itu disertai emoji berbentuk senyuman. “Ada-ada aja dokter itu.” gumam Arsyila, dengan senyum tipis. “Ya gimana, pasiennya cantik. Resiko orang cantik, banyak yang tertarik,” sahut Arash dengan nada sewot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD