Bel istirahat di SMA Rajawali baru saja berbunyi sekitar tiga menit yang lalu. Saat ini, Qila dan juga Gladis sedang berjalan berdampingan menuju ke salah satu kantin yang ada di SMA Rajawali itu. Tadi, Gladis dan Qila sudah membuat janji dengan Ghea untuk bertemu di kantin itu. Rencananya, saat ini Ghea baru akan menjelaskan mengenai pembahasan yang terjadi kemarin lusa.
Karena memang awalnya penjelasan itu akan dilakukan kemarin namun batal karena tragedi koridor yang dilakukan Gladis dan Qila itu. Padahal, kemarin itu Ghea sudah menunggu Qila dan Gladis di kantin yang kemarin mereka jadikan tempat untuk janjian. Namun setelah sekian lama menunggu, Ghea sama sekali tak mendapati tanda-tanda Gladis dan Qila akan datang.
Sampai pada akhirnya bel masuk berbunyi dan Gladis maupun Qila belum juga ada yang datang menemui Ghea di kantin, padahal Ghea benar-benar sudah datang sangat awal dan menunggu sampai akhir. Namun apalah dayanya yang ternyata orang yang dia tunggu-tunggu itu lupa mengabari kalau mereka tak jadi datang.
Itu pun Ghea tahu soal itu saat Ghea mencoba menghubungi Qila dan Gladis. Di pesan Qila, Qila sama sekali tak menjawabnya. Namun di pesan Gladis, gadis itu mengatakan tak bisa datang karena ada suatu insiden kecil yang terjadi membuat Gladis dan Qila batal menemuinya. Gladis juga langsung meminta maaf pada Ghea karena dia tak bisa datang sekaligus karena dia membuat Ghea menunggu dan juga karena dia lupa mengabari sahabatnya itu.
It's okay, itu bukan masalah besar untuk Gladis.
Dan sekarang, saat ini dan detik ini, Ghea, Gladis dan Qila pada akhirnya berada di kantin yang sama dan juga meja yang sama.
"Maaf Ghe, harus buat lo nunggu lagi," ujar Gladis pada Ghea begitu gadis itu sampai di kantin dan duduk di meja yang sama dengan Ghea. Diikuti juga dengan Qila yang saat ini ikut duduk di sebelah Gladis. Gadis itu tak mengatakan apapun, hanya diam menyimak.
"It's okay, santai aja Dis," ujar Ghea menjawab perkataan Gladis. "By the way, lo berdua udah pesen belum sebelum kesini? Gue udah pesen duluan sih ini soalnya. Kalo belum, mendingan pesen dulu deh, baru nanti gue mulai ceritanya," ujar Ghea lagi.
Qila nampak menggeleng kecil. "Enggak usah ditunda. Gue sama Gladis udah pesen kok tadi," jawab Qila dengan raut wajah datarnya. Bukan sok cuek, dia memang sedang tak mau basa-basi sekarang. Qila, gadis itu saat ini ingin langsung mendengarkan point cerita dari Ghea. Begitu juga dengan Gladis yang diam-diam dia ikut penasaran.
"Setuju banget sama Qila," sahut Gladis tiba-tiba. "Udah gak usah pikirin pesenan kita. Gak usah ditunda ceritanya juga. Tujuan utama kita kesini itu cuma buat dengerin cerita lo doang Ghe, gak lebih," ujarnya lagi.
Ghea nampak sedikit terkejut ketika melihat Qila, si gadis ramah itu berbicara dengan raut wajah datar yang sangat jarang sekali terlihat. Padahal, niat awal Ghea sebelum bercerita, dia ingin bertanya mengenai topik yang saat ini lagi booming-boomingnya di SMA Rajawali mengenai Qila yang nampak datang ke sekolah dengan mobil yang sama seperti Arvin dan Gladis. Sekaligus berita mengenai Arvin dan Qila yang terlihat berjalan dengan tangan yang bergandengan di koridor sekolah.
Bahkan ada foto yang terlampir juga mengenai itu. Banyak anak SMA Rajawali yang mendadak menjadi paparazi. Entah untuk apa mereka memotret itu, padahal itu sama sekali tak penting. Mungkin?
Namun sepertinya niat Ghea untuk bertanya mengenai itu harus dia urungkan terlebih dahulu mengingat saat ini Qila nampaknya sedang sangat serius ingin mendengarkan ceritanya. Gladis pun juga nampaknya seperti itu. Jadi, yang Ghea harus lakukan saat ini adalah menepati janjinya, langsung menepatinya. Bercerita mengenai awal mula bagaimana dia mengetahui perihal perjodohan Fikri.
"Oke-oke, gue akan cerita sekarang," ujar Ghea pada Qila dan Gladis. "Tapi sebelum gue mulai cerita, gue mohon untuk kalian gak motong cerita gue. Gue mau kalian dengerin cerita gue sampe selesai dulu. Kalo kalian mau tanya, kalian bisa tanya waktu gue bener-bener selesai ceritanya. Setuju?" ujarnya lagi, minta persetujuan dari Qila dan Gladis yang bersangkutan.
Kedua gadis itu lalu nampak mengangguk serempak. Tak ada yang membuka suara, benar-benar hanya sebuah anggukan saja. Ghea yang mendapatkan respon yang sesuai dengan kemauannya itu pun pada akhirnya menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
Kali ini cerita yang akan disampaikan oleh Ghea akan menjadi cerita yang panjang. Atau bahkan mungkin sangat panjang. Ghea akan bercerita dari awal mulanya sampai k*****s. Dan, dia akan menambahkan sedikit berita terbaru mengenai itu.
"Semuanya bermula waktu gue dan sepupu gue lagi ada di salah satu cafe yang ada di deket jalan besar," ujar Ghea mulai mengawali ceritanya.
Flashback On
Sore ini, lebih tepatnya sewaktu jam pulang sekolah. Ghea dan sepupunya berencana untuk pergi hangout bersama. Mereka berencana untuk menghabiskan waktu berdua di salah satu mall besar yang ada di kotanya ini. Di mall itu, Ghea dan sepupunya berencana untuk banyak membeli barang. Mereka memang berencana untuk menghabiskan uang mereka seharian ini.
Sebenarnya, itu bukan ide dari Ghea sendiri, namun itu adalah ide dari sepupunya. Sepupu yang sudah lama ini tak dia temui. Sepupunya ini memang sudah lama tak tinggal satu kota dengan Ghea, bahkan tak satu negara dengan gadis itu. Itulah yang menyebabkan Ghea sudah lama tak bertemu dengan sepupunya ini.
Sepupu Ghea ini, dia bernama Leta. Leta, dia adalah gadis yang sangat cantik dengan wajah yang ke bule-bulean. Memiliki kulit yang putih mulus, body goals dan memiliki tinggi yang ideal. Kalau dilihat secara fisik, Leta ini termasuk gadis yang sangat sempurna. Tak ada satupun kecacatan untuk fisik Leta.
Meski begitu, bukan berarti apa pun yang ada di diri Leta tak memiliki kekurangan. Tentu saja ada, dan itu sampai saat ini masih tertutupi. Bahkan, Ghea sendiri yang merupakan sepupu dekat Leta, dia juga tak tahu apa yang menjadi titik kekurangan Leta. Selama mengenal Leta, Ghea pikir sepupunya itu benar-benar sangat sempurna. Dia baik, dan juga sangat suka mentraktir Ghea yang notabenya sangat suka dengan hal-hal berbau gratisan.
Ghea selalu menganggap bahwa tak ada satu orang pun yang bisa menandingi kesempurnaan seorang Leta. Gadis yang sangat cantik dan juga baik menurut Ghea itu. Ghea bahkan sangat yakin, tak ada juga satu orang pun yang bisa menolak pesona seorang Leta.
Dari sini, bisa disimpulkan bahwa Ghea itu sangat mengagumi sosok Leta sepupunya.
Tak ada yang salah untuk itu. Hanya saja, Ghea memandang Leta seperti itu hanya dari sudut pandangnya saja, tidak dengan sudut pandang yang lain.
Yang tak Gladis sadari adalah, sudut pandangnya dan cara dia melihat sosok Leta dengan matanya itu, berbeda dengan sudut pandang orang lain dan cara orang lain melihat bagaimana sosok Leta di mata orang lain itu.
Beda orang, beda mata, beda pendapat.
Itu yang sebenarnya harus Ghea camkan di otaknya.
Menurut pemikiran Ghea, seorang gadis itu bisa dikatakan cantik apabila memiliki wajah yang ke bule-bulean, kulit putih, rambut panjang lurus, body goals dan tinggi badan yang ideal. Dan semua itu ada pada diri Leta, sepupu kesayangannya.
Padahal, cantik itu relatif. Setiap orang punya pendapat tersendiri untuk standar kecantikan mereka. Ada banyak kok orang yang lebih suka wajah Asia daripada bule. Banyak banget malah.
Namun, dari sini yang dapat seorang Qila simpulkan adalah, standar kecantikan Ghea, itu sama persis seperti standar gadis idaman yang disukai oleh Fikri.
Itu pointnya.
Kembali pada cerita.
Saat Ghea dan Leta sampai di mall yang menjadi tujuan mereka dari awal itu, mereka akhirnya benar-benar melaksanakan apa yang menjadi rencana mereka. Belanja banyak barang dan menguras dompet habis-habisan.
Selalu seperti ini. Setiap Ghea dan Leta berbelanja bersama, mereka pasti akan dengan mudah menghabiskan banyak uang salam waktu singkat. Itu seperti sudah menjadi hukum alam. Bahkan, ketika Ghea dan Leta terakhir bertemu saat masih kelas 7 SMP, saat itu Ghea dan Leta juga sudah bisa menghabiskan banyak uang sampai mereka di marahi orang tua mereka habis-habisan.
Bagaimana tidak, anak usia tiga belas tahun itu sudah bolos sekolah hanya untuk pergi ke mall, pulang larut malam, dan mereka juga menghabiskan banyak uang hanya dalam hitungan beberapa jam saja.
For your information, Leta dan Ghea ini seumuran. Dan waktu itu Leta pindah ke luar negeri saat usia gadis itu beranjak ke empat belas tahun, lebih tepatnya saat kenaikan kelas.
Saat itu, orang tua Leta terpaksa harus mengirim Leta ke luar negeri karena gadis terus saja banyak membuat ulah di sekolahnya. Sampai akhirnya kedua orang tua Leta sudah muak dengan tingkah laku Leta dan memutuskan untuk mengirim Leta ke luar negeri padahal usia Leta saat itu benar-benar masih belasan tahun.
Kedua orang tua Leta mengirim Leta ke salah satu asrama yang ada di luar negeri. Namun sangat disayangkan, yang orang tua Leta tak tahu, Leta saat berada di asrama itu bukan menjadi lebih baik, namun malah menjadi lebih kacau. Gadis itu benar-benar semakin menjadi berandal karena pergaulan bebas yang ada di sana dan juga karena asrama yang ada di sana tak terlalu ketat penjagaannya.
Bahkan, Leta yang saat itu masih berada di usia lima belas tahun, sudah pernah keluar masuk club sembarangan, secara ilegal. Jelas saja, Leta itu anak belasan tahun. Mana bisa dia keluar masuk club sesukanya kalau bukan karena cara yang ilegal.
Meski kelakuan Leta yang seperti itu saat di luar negeri, kedua orang tuanya tak ada yang benar-benar tahu soal itu. Bahkan Ghea pun juga tak tahu. Yang selalu Ghea pikirkan mengenai Leta hanyalah kesempurnaan gadis itu yang tak ada bandingannya.
Kalau Ghea bisa bilang, andai kata ada seribu laki-laki di dunia ini dan ada sepuluh ribu perempuan di dunia ini. Ghea seratus persen yakin. Semua keseluruhan dari seribu laki-laki itu, mereka hanya akan memilih Leta di antara sepuluh ribu perempuan yang ada.
Entah apa yang membuat Ghea seperti terobsesi dengan seorang Leta itu.
Kembali.
Setelah Ghea dan Leta selesai berbelanja di mall itu, mereka sebenarnya memutuskan untuk pindah ke beberapa mall lain. Namun hal itu diurungkan ketika Leta mendapatkan telpon dari Mamanya yang menyuruh Leta untuk pergi ke salah satu cafe yang kebetulan sekali ada di dekat mall tempat Leta dan Ghea menghabiskan uangnya itu.
Tring tring tring!
Suara deringan ponsel milik Leta itu membuat langkah Leta dan Ghea yang sedang berjalan menuju ke parkiran mall terhenti. Leta merogoh sakunya untuk mengecek siapa yamg menelpon gadis itu dan mengganggu waktunya dengan Ghea.
Mama.
Itu adalah nama yang tertera di layar ponselnya. Leta memutar bola matanya malas. Ada apa sih dengan Mamanya itu. Mengganggu saja.
"Siapa Ta?" tanya Ghea pada sepupunya itu. Leta yang mendengar pertanyaan dari Ghea pun segera menjawab.
"Mama," jawabnya singkat, namun disertai dengan senyumannya.
Ghea nampak manggut-manggut paham. "Oh tante," ujarnya. "Ya udah angkat aja, siapa tau penting kan," lanjutnya lagi.
Jujur saja, Leta sebenarnya malas untuk mengangkat panggilan dari Mamanya ini. Namun karena ada Ghea, mau tak mau gadis itu harus mengangkatnya. Ini masalah topeng.
"Ya Ma, halo? Ada apa?" ujar Leta begitu gadis itu menggeser ikon hijau di layar ponselnya. Gadis itu langsung bersuara tanpa basa-basi begitu dia tahu, sambungannya sudah terhubung.
"Kamu bisa ke cafe dekat jalan besar? Ada yang mau Mama omongin sama kamu. Penting, soal perjodohan yang Mama bilang kemarin," ujar Mamanya terdengar dari sebrang sana. Mendengar itu, Leta merasa seperti di ambang kebingungan. Antara senang dan malas.
Jujur saja, Leta senang begitu dia mendengar kabar soal perjodohannya itu. Namun disisi lain dia juga malas harus pergi ke cafe untuk menemui Mamanya itu. Padahal, dia kan ingin ke mall bersama dengan Ghea.
"Halo Leta, kamu masih di sana kan?" lagi, suara Mamanya kembali terdengar. "Mama gak mau tau ya. Kamu pokoknya harus dateng kesini ada tapi. Disini udah ada Mamanya calon kamu yang lagi nungguin kamu Leta," ujar Mamanya lagi.
Mendengar apa yang dikatakan Mamanya itu, mau tak mau Leta harus benar-benar langsung berangkat ke cafe. Dia tak mau memberikan kesan yang buruk kepada calon mertuanya itu. Urusan ke mall dengan Ghea, dia bisa urus itu nanti. Yang terpenting sekarang, dia harus menemui calon Mama mertuanya di cafe sekarang.
"Leta berangkat," jawab Leta singkat lalu langsung memutuskan panggilannya dengan Mamanya itu.
Ghea jelas bingung dengan maksud kata berangkat dari Leta. Sepupunya itu mau kemana?
"Lo mau kemana Ta? Berangkat kemana?" tanya Ghea langsung pada Leta. Gadis itu tak mau ambil pusing dengan hanya menebak-nebak saja.
Leta menampilkan senyum manisnya pada Ghea. "Gue mau ke cafe deket sini Ghe. Gue mau ketemu sama calon mertua gue," ujar Leta pada Ghea dengan senangnya.
Sementara Ghea sendiri, dia malah bingung dengan apa yamg dimaksud Leta. Calon mama mertua itu maksudnya apa?
For your information, Ghea memang belum mengetahui cerita mengenai Leta yang dijodohkan oleh Mamanya. Leta belum menceritakan soal itu padanya. Jadi, wajar saja kalau saat ini Ghea terlihat bingung.
Leta nampak menepuk dahinya pelan. "Ah iya gue lupa, lo kan belum gue kasih tau kalo gue bentar lagu mau tunangan. Gue sekarang lagi di jodohin sama Mama gue," ujarnya pada Ghea. "Sorry ya Ghe. Keasikan belanja sampe gue lupa mau kabarin lo soal ini," tambahnya lagi.
Ghea nampak fine-fine saja soal itu. Yang terpenting dia sekarang sudah mengetahuinya. "Gak apa, santai," ujarnya. "Anyway, lo udah pernah ketemu sama calon lo belum? Secara lo kan dijodohin Ta. Lo gak takut cowok yang di jodohin sama lo itu gak sesuai sama kriteria lo?" tanya Ghea kemudian. Dia hanya khawatir saja dengan nasib sepupu kesayangannya ini kalau sampai dia menyesal di kemudian hari. Ghea tak mau itu.
Leta terkekeh pelan. "Ha ha ha, lo tenang aja kali Ghe, gue udah lihat foto cowok yang di jodohin sama gue kok. Gue rasa, cowoknya lumayan lah buat gue, gak jelek-jelek banget. Pas lah, walaupun gak terlalu tampan," ujarnya dengan jujur. "Jadi lo santai aja. Gue gak akan nyesel tunangan sama dia. Dia juga udah setuju kok tunangan sama gue. Jadi kita udah sama-sama setuju, tinggal atur tanggal buat ketemu aja," jelas Leta lagi.
Ghea mah mengangguk saja mendengarnya. Ya kalau di rasa sepupunya itu merasa cocok, Ghea sih ikut senang. Apapun yang menjadi keputusan sepupunya, Ghea akan selalu mendukungnya.
Ghea itu benar-benar definisi sayang sepupu yang sesungguhnya. Sampai-sampai, sayangnya itu keterlaluan.
"Udah ah Ghe. Mendingan lo ikut gue ke cafe ketemu sama calon mama mertua gue aja. Ntar kalo lo mau tanya-tanya lagi soal apapun itu, gue jawab deh. Tapi pertanyaannya pending dulu ya," ujar Leta pada Ghea yang tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Ghea langsung mengangguk menyetujuinya.
"Oke, setuju. Jadi gue temenin lo ke cafe ketemu sama calon mama mertua lo, habis itu lo jawab semua pertanyaan gue, oke?" ujar Ghea meminta persetujuan dari Leta. Leta pun juga balik mengangguk.
"Oke lah," jawabnya. "Ya udah, yuk," ajaknya lagi lalu menarik tangan Ghea dan membawa gadis itu berjalan bersama ke parkiran bawah tanah mall. Setelah itu, keduanya masuk ke dalam mobil terbaru yang masih terlihat sangat kinclong dan mahal itu.
Ya, itu mobil keluaran terbaru milik Leta yang baru saja Lera beli sekitar empat hari lalu.
Apa sih yang tidak bisa Leta miliki? Jelas semuanya bisa. Kedua orang tua Leta itu super kaya, dia bisa membeli apapun yang dia mau. Apapun yang dia inginkan akan selalu diberikan. Itu sudah menjadi hukum takdir dari Leta.
Lagipula, selama hidup di dunia ini, Leta tak pernah sekalipun merasa kesulitan, dia tak pernah sekalipun tak bisa mendapatkan apa yang dia mau. The power of Leta.
Karena Leta yang seperti itulah yang membuat Ghea menjuluki Leta sebagai Ratu.
Berlebihan memang. Namun seperti itulah Ghea pada Leta.
Setelah itu, mobil yang dikendarai oleh Leta itu keluar dari area parkir dan kemudian melaju menuju cafe yang sudah di beritahu oleh Mamanya tadi.
Sekedar informasi saja, cafe yang akan di datangi Leta saat ini merupakan cafe yang sangat mewah dan mahal. Bahkan menurut berita, cafe ini merupakan cafe dengan harga menu yang paling mahal di seluruh Indonesia.
Itu berarti, hanya orang-orang tertentu yang sudah terjamin jaya saja yang bisa dan mampu untuk membeli sesuatu di cafe ini saling mahalnya. Biasa, tongkrongan kaum yang tak pernah tahu bagaimana enaknya makan nasi hanya dengan garam ataupun sambel.
"Ini beneran di cafe ini Ta?" tanya Ghea menatap bangunan yang ada di depannya tak percaya. Saat ini, Ghea dan Leta memang sudah berada di cafe yang dimaksud oleh Mama Leta.
Leta mengangguk kecil, dengan gaya elegannya, dia mengibaskan rambut panjangnya. "Iya lah," jawabnya dengan santai. "Lo ngapain sih di cengo kaya gitu Ghe? Jangan norak ya. Kaya gak pernah kesini aja lo," ujar Leta dengan angkuhnya.
Namun sial sekali, Ghea malah menangkap gaya berkelas dari Leta ketika sepupunya itu mengatakan hal tersebut. Dia bukannya merasa tersinggung, tapialah terkesan dengan Leta.
"Gue emang belum pernah kesini Ta. Katanya menu di cafe ini mahal-mahal," ujar Ghea menjawab.
Leta memutar bola matanya malas. "Gak usah khawatir soal bayar. Gue yang bakal traktir lo, jadi lo tenang aja," ujarnya pada Ghea yang disambut baik oleh gadis itu.
"Ihiii asik nih," girang Ghea antusias. "Thanks ya Ta. Lo yang terbaik," ujarnya lagi.
Leta hanya tersenyum miring menanggapinya "I know, gue ema g yang terbaik dan akan selalu jadi yang terbaik," sombongnya kemudian.
"Gue setuju," sahut Ghea mendukung aksi sombong besar kepala dari Leta itu, Ghea bahkan mengangkat kedua jempolnya diberikan untuk Leta. "Lo emang yang paling terbaik dan akan selalu jadi yang terbaik, Leta. Selamanya," putus Ghea final.
Leta tersenyum bangga dengan dirinya sendiri. Lalu gadis itu membawa Ghea berjalan mulai masuk ke dalam area cafe.
Saay mulai memasuki area cafe mata gadis itu mengedar mencari Mama dan orang yang katanya akan menjadi calon mama mertuanya itu. Sampai tak lama kemudian, matanya berhasil menemukan keberadaan Mamanya yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita paruh baya yang Leta duga itu adalah calon mama mertuanya.
Melihat dari penampilan calon mama mertuanya yang sangat berkelas itu, Leta dapat merasakan aura kekayaan yang sangat tercium di hidungnya.
Leta yakin dia akan sangat betah memiliki calon mama mertua seperti itu. Sepertinya dia dan calon mama mertuanya kan menjadi sangat klop karena satu frekuensi. Yang Leta lihat, calon mama mertuanya itu memiliki selera yang sangat bagus dan sangat cocok dengan seleranya.
Bukan seperti Mamanya sendiri yang memiliki selera yang sangat kontras dengan seleranya. Alhasil, dia dan Mamanya memang sangat sering terlihat cekcok hanya karena masalah sepele, masalah yang cuma karena perbedaan pendapat mengenai fashion. Selalu saja seperti itu.
Itu jugalah yang membuat diri Leta dan Mamanya tak terllau dekat. Karena mereka memiliki selera yang kontra, selera yang berbanding terbalik.
Ya, daripada cekcok mulu kan, daripada debat dan adu mulut mulu, mancing emosi mancing keributan, lebih baik Leta dan Mamanya jangan pernah disatukan saja kalau bukan karena ada sesuatu yang sangat amat penting.
Kalau bukan hanya karena masalah yang darurat atau urgent.
Lagipula, pernah satu waktu Leta dan mamanya pergi belanja bersama di salah satu mall, mereka bahkan sempat-sempatnya ribut di mall dan menjadi tontonan banyak pengunjung bahkan sampai mereka di usir dari mall itu hanya karena mereka debat mengenai baju mana yang paling bagus, dan itu tak hanya terjadi satu atau dua kali saja, benar-benar berkali-kali.
Akan menjadi separah itu jika Mama Leta dan Leta disatukan.
"Nah itu dia mereka," ujar Leta seraya menunjuk salah satu meja yang ada di dalam cafe itu. Ghea pun mengikuti arah jari Leta menunjuk. Benar, di sana Ghea dapat melihat Mama Leta yang sedang duduk bersama dengan seorang wanita paruh baya yang tidak pernah Ghea jumpai sebelumnya. "Ayo Ghe, kita kesana," ujar Leta lagi, kemudian gadis itu menarik tangan Ghea dan membawa gadis itu menghampiri Mama Leta dan wanita paruh baya itu.
"Ma," panggil Leta pada Mamanya begitu gadis itu sampai di meja yang terdapat Makanya di sana. Mama Leta itu nampak menoleh menatap anaknya.
"Wah Leta udah sampai," ujar Mama Leta dengan tersenyum. "Eh, ada Ghea juga lagi," lanjutnya begitu melihat Ghea yang juga ada di belakang Leta.
Ghea hanya tersenyum kecil menanggapinya. Setelah itu, Ghea benar-benar hanya diam menyimak. Karena dia, seperti tak dianggap sama sekali.
"Oh udah sampai ya? Ini ya yang namanya Leta?" ujar wanita paruh baya yang duduk bersama dengan Mama Leta itu. "Wah cantik banget, lebih cantik aslinya lagi daripada yang ada di foto," lanjutnya kemudian.
Leta tersenyum malu-malu mendengarnya. "Ah Tante, bisa aja," ujarnya.
"Loh, Tante ini beneran loh," ujar wanita paruh baya itu dengan senyumnya. "Eh kok masih berdiri aja, duduk-duduk Leta, duduk sini," lanjutnya lagi seraya menggeser badannya, memberi tempat untuk Leta duduk. Wanita paruh baya itu juga menepuk ruang kosong yang ada di sebelahnya, mengisyaratkan agar Leta mau duduk disitu. Kan, dibilang juga apa, Ghea seperti tak dianggap.
Pada akhirnya, saat Leta beralih duduk di sebelah wanita paruh baya itu, Ghea memutuskan untuk duduk di sebelah tantenya, Mama Leta.
Ghea sedari tadi hanya di saja, mendengar dan menyimak apa-apa saja yang dibahas oleh Wanita paruh baya itu dan Leta. Mereka nampak sangat sibuk mengobrol berdua, sementara Mama Leta, tantenya itu sibuk sendiri bermain ponsel. Sedangkan Ghea? Gadis itu sangat bosan di tempatnya. Tak ada yang menarik.
Sampai ada satu kalimat uang membuat perhatian Ghea seketika teralihkan.
Kalimat yang membawa nama Fikri Hernando.
Bukankah itu nama seorang laki-laki yang merupakan sahabat Qila sekaligus seorang yang sedang Qila sukai?
Bukankah itu juga nama dari teman sekelasnya itu? Mungkinkah itu orang yang sama?
Daripada Ghea mati penasaran dan lelah menunggu sampai Leta selesai mengobrol dengan wanita paruh baya itu, Ghea akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada tantenya yang sedari tadi masih sibuk dan tak pernah lepas dari ponselnya itu.
"Tante," panggil Ghea pada Mama Leta itu dengan suara pelan.
Mendengar suara Ghea yang memanggilnya itu, Mama Leta langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. "Iya Ghea? Kenapa?" tanyanya.
"I-itu..., emangnya bener ya kalo cowok yang mau dijodohin sama Leta itu namanya Fikri?" tanya Ghea pada Mama Leta untuk memastikan kalau telinganya tak salah dengar.
Mama Leta itu mengangguk membenarkan. "Iya," jawabnya santai.
Alis Ghea terangkat dua-duanya tak percaya. "Fikri Hernando?" tanyanya pada Mama Leta lagi, kembali memastikan.
Dan lagi, Mama Leta mengangguk. "Iya," jawabnya lagi, singkat.
Kali ini mata Ghea membola, terkejut. Jangan bilang apa yang dia pikirkan ini benar.
"Emangnya kenapa sih Ghea? Kenapa tanya soal itu?" tanya Mama Leta balik pada Ghea.
Ghea menggeleng keras. "Enggak, gak apa-apa, cuma mau tanya aja, cuma mau mastiin," jawabnya.
"Mastiin apa?" tanya Mama Leta pada Ghea lagi.
Ghea sebenarnya sedikit ragu untuk bertanya mengenai ini, namun kalau dia tidak tanya, dia malah akan menjadi semakin penasaran. "Mmm, itu memangnya bener ya Tan, soal Fikri itu anak SMA nya Ghea? SMA Rajawali?" tanyanya pada Mama Leta. Harap-harap cemas menunggu jawaban.
Mama Leta dengan santainya mengangguk, tanpa menunggu lama, tanda bahwa wanita paruh baya yang merangkap sebagai Tante Ghea itu membenarkan. "Iya," jawabnya ringan, seringan kapas.
Bagai dijatuhi beban ber ton-ton, Ghea melemas seketika mendengarnya. Lantas, bagaimana sekarang? Sepupunya akan bertunangan dengan orang yang di sukai sahabatnya? Rasanya sangat rumit untuk Ghea.
Di satu sisi, dia senang ketika mengetahui sepupunya akan segera bertunangan dengan seseorang yang ternyata memang berhasil menarik perhatian sepupunya itu, walupun hanya lewat sebuah foto. Dia juga senang karena si laki-laki juga menyukai sepupunya itu.
Tapi disisi lain, dia sedih mengetahui kalau salah satu sahabatnya menjadi korban dari semua yang akan terjadi ini. Sahabatnya akan kehilangan cintanya. Sahabatnya itu akan melihat orang yang di sukai nya bertunangan dengan orang lain.
Meskipun sebenarnya, jujur saja Ghea sama sekali tak menyukai sosok Fikri. Laki-laki yamg menjadi tokoh utama di drama kali ini, laki-laki yang diperebutkan oleh dua orang yang dekat dengan Ghea.
Tapi entah kenapa, begitu Ghea tahu kalau Leta menyukai Fikri, mendadak pandangan Ghea mengenai Fikri menjadi berubah. Gadis itu menjadi lebih menerima Fikri sekarang. Berbeda ketika Qila yang menyukai Fikri, Ghea masih tam bisa menerima Fikri.
Dan kalau boleh jujur, sebenarnya Ghea lebih pro ke Fikri dan Leta daripada Fikri dan Qila. Mengingat sepupunya itu menyukai Fikri. Yang ada di pikiran Ghea itu hanya bagaimana bisa membuat sepupunya senang.
Lagipula, Fikri juga menerima sepupunya dengan baik, Fikri juga langsung tertarik dengan sepupunya itu walau hanya karena bertemu lewat foto. Bukannya Ghea sudah bilang kalau pesona Leta itu tak terhindarkan?
Lihat buktinya. Ketika Qila bertahun-tahun menemani Fikri, namun Fikri tak pernah sekalipun melirik Qila sebagai seorang laki-laki pada gadisnya. Cowok itu selalu melirik Qila sebagai sahabatnya saja.
Namun saat dengan Leta? Bahkan hanya dengan melihat foto saja, meskipun belum bertemu. Tapi Fikri bisa langsung menerima Leta dengan sangat baik. Fikri menyambut kehadiran sosok Leta sebagai laki-laki pada gadisnya.
Benar kan? Leta tak perlu banyak usaha atau bahkan sama sekali tam memerlukan usaha untuk bisa menarik perhatian seorang laki-laki.
Leta itu hebat. Dan akan selalu menjadi yang paling hebat.
Itu yamg menjadi semboyan di pikiran Ghea saat melihat pesona gadis itu.
Sekarang yang perlu Ghea lakukan hanyalah membuat Qila menjadi tak lagi suka dengan Fikri. Ghea tam mau Qila membuat hubungan Leta dan Fikri rusak. Ghea tak mau itu.
Flashback off
"Dan satu lagi Qila," ujar Ghea menatap Qila serius. "Leta, sepupu kesayangan gue itu bakalan pindah ke sekolah ini besok. Jadi selamat menantikan ya," ujar Ghea lagi.
Gladis yang melihat Ghea seperti itu menggeram marah. Sungguh, demi apapun Gladis tak mengenal sosok gadis yang ada di depannya ini.
Plak!
Tangan Gladis terangkat lalu mendarat di pipi Ghea dengan sempurna. Beruntung sekali kantin saat ini sudah sangat sepi karena bel masuk sudah berbunyi beberapa menit lalu.
Ghea yang mendapat tamparan tiba-tiba dari Gladis itu terkejut. Bahkan Qila yang melihat itu juga sama terkejutnya.
Baik Qila maupun Ghea, tak ada yang menyangka pergerakan Gladis yang sangat tiba-tiba itu ternyata untuk menampar pipi Ghea.
Tak hanya mereka berdua saja yang terkejut. Karena tiga orang laki-laki yang ada di salah satu sudut kantin yang melihat itu juga sama terkejutnya. Namun mereka memilih diam saja, tak menghampirinya. Mereka masih memantau dari jauh. Suara mereka sebenarnya cukup keras. Mereka sedikit-sedikit bisa mendengarnya. Tentu tidak semua.
Ghea memegang pipinya yang terasa kebas. Seumur hidup baru kali ini dia mendapat tamparan. Apalagi ini dari seseorang yamg sudah menjadi sahabatnya sedari jaman SMP.
Ghea kecewa.
"Serius Dis? Lo nampar gue?" tanya Ghea pada Gladis. Gadis itu menatap Gladis dengan tatapan terluka. "Seumur-umur gue gak pernah di tampar kaya gini. Gue kecewa sama lo Dis," ujarnya dengan air mata yang menetes melewati pipinya.
Gladis malah menatap Ghea dengan tatapan nyalang miliknya. Gigi gadis itu bergemelutuk marah. Lalu, seulas senyum miring terukir di bibir manisnya. "Lo kecewa sama gue?" ujarnya dengan nada dingin. "Gue yang kecewa sama lo Ghea! Gue gak tau kalo lo ternyata se-b*****t ini!" tekannya. Mendengar perkataan dari Gladis itu, air mata Ghea semakin mengalir deras.
"Emangnya gue salah kalo gue mau yamg terbaik buat sepupu gue? Gue gak mau sepupu gue sedih Gladis, lo harusnya paham soal itu," ujar Gladis membela dirinya sendiri. Pipi gadis itu sudah banjir dengan air mata.
Gladis terkekeh sinis. "Cara lo yang salah b**o!" sentaknya. "Lo kenapa sih pake acara nangis-nangis segala kaya gini? Mau playing victim lo? Gak mempan!" sarkasnya kemudian.
Ghea semakin terisak. Sedangkan Qila, yang gadis itu lakukan saat ini hanya diam menyimak. Bohong kalau Qila tak tersinggung dengan apa yang dikatakan Ghea tadi.
Qila benar-benar merasa tak dianggap sahabat oleh Ghea saat ini. Padahal pada awal masalahnya, Ghea masih mendukung dan menyemangatinya.
Tapi lihat sekarang, gadis itu bahkan sempat-sempatnya kepikiran Qila akan merebut Fikri dari si sepupu kesayangan Ghea itu.
Secinta-cintanya Qila dengan seseorang, sekalipun Qila tak pernah berpikiran seperti itu.
Dan lagi satu, Qila bahkan baru-baru ini baru sadar, kalau perasaannya pada Fikri itu bukan cinta, namun hanya rasa suka kepada sahabat yang berlebihan. Maksudnya, karena Qila tak pernah memiliki sahabat laki-laki sebelumnya, jadi Qila menyukai Fikri sebagai sahabat secara berlebihan. Gadis itu hanya takut jika Fikri memiliki seorang pacar, dia akan ditinggalkan sebagai sahabatnya, dia akan dilupakan. Hanya itu yang membuat Qila takut.
"Gladis, Qila," panggil seorang laki-laki dengan suara beratnya.