CHAPTER 34

1420 Words
Qila hanya diam dan pasrah mengikuti kemanapun langkah Arvin membawanya pergi. Perkataan Mama Fira dan Papa Vito tadi masih sempat terngiang-ngiang di kepala Qila sebelum gadis itu menepisnya kasar. Qila tak mau berharap berlebihan bersama Arvin. Gadis itu takut, apa yang dia alami dulu bersama Fikri akan terulang bersama Arvin. Qila tak mau mencintai sendiri, berharap sendiri, kemudian ditinggalkan sendiri. Dia sudah pernah merasakan sakitnya berada di fase itu dan dia tak mau kembali lagi ke fase itu. Cukup saja dengan sekarang, dia sudah cukup bahagia memiliki Arvin yang selalu setia mendengarkan ceritanya, meminjamkan bahunya untuk digunakannya bersandar, memberinya nasihat yang membuka pemikirannya. Dia tak mau semua itu hilang hanya gara-gara cinta sepihak Qila. Dia tak mau itu kembali terjadi. Tarikan pada tangan Qila berhenti tepat di taman rumah keluarga Arvin. Arvin mendudukkan Qila di kursi taman yang ada di sana kemudian mendudukkan dirinya sendiri di samping tubuh Qila. Mereka masih sama-sama terdiam, Qila yang memang sedang tak ada yang ingin dibicarakan dan Arvin yang bingung mencari topik obrolan. Sejujurnya, disaat Arvin menarik Qila pergi dari area meja makan tadi, Arvin melakukannya secara spontan. Jadi, dia juga benar-benar bingung harus melakukan apa dan membahas apa dengan Qila. Bahkan tadi dia sendiri juga sempat bingung akan mengajak Qila kemana. "Tolong jangan pikirin kata Mama sama Papa gue ya kalo lo gak nyaman," ujar Arvin pada akhirnya memilih membuka suara dan mengambil topik itu untuk dibicarakan. Karena jujur saja, Arvin memang merasa takut kalau-kalau saja Qila tadi tak nyaman dengan apa yang dikatakan Papa dan Mamanya. Memang benar-benar deh kedua orang tuanya berserta adiknya itu, kenapa juga mereka bisa se-frontal itu berbicara dengan Qila membahas perihal perasaannya. Apa mereka tak tahu kalau apa yang mereka katakan itu bisa saja mengganggu Qila, membuat gadis itu tak nyaman. Perihal perasaannya, biar dirinya sendiri yang mengurusnya. Arvin adalah remaja SMA sekarang, bukan lagi anak SD atau SMP yang menye-menye. Arvin bisa mengungkapkan perasaannya sendiri kepada Qila, tak perlu bantuan Papa dan Mamanya. Kalau Gladis, dia butuh gadis itu untuk membantunya lebih dekat dengan Qila. Urusan menyatakan perasaan, biar itu jadi urusannya sendiri. Yang jelas untuk saat ini, Arvin sama sekali belum mempunyai niat untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu kepada Qila karena kondisinya yang menurut Arvin memang kurang meyakinkan. Mungkin saja, pikiran Qila saat ini masih dipenuhi dengan kedatangan sepupu dari Ghea yang akan menjadi tunangan Fikri, mantan sahabat Qila. Dan Arvin tak mau membuat pikiran Qila semakin kacau jika dia mengungkapkan perasaannya sekarang, karena itu pasti akan terasa sangat tiba-tiba untuk Qila. "Enggak apa-apa kok Kak Ar, gue gak ngerasa keganggu sama sekali. Mereka gak ada salahnya nanya kaya gitu ke gue," jawab Qila dengan tenang seraya mengalihkan pandangannya untuk menatap Arvin. "Dan soal mereka bawa-bawa nama lo, tenang aja juga. Kak Arvin gak perlu khawatir, aku gak akan percaya kok sama mereka. Soal itu aku yakin mereka lagi bercanda, jadi Kak Arvin santai aja," lanjutnya lagi dengan lugas. Entah kenapa, sakit rasanya Arvin mendengar itu, ingin sekali Arvin mengatakan yang sejujurnya bahwa apa yang dikatakan Papa, Mama dan Gladis bukanlah sebuah candaan, yang dikatakan mereka adalah kebenarannya. Tapi sepertinya, Arvin masih terlalu pengecut untuk mengakui itu. Dia masih belum bisa, belum sanggup. Tapi segera! Arvin akan mengungkapkan perasaannya. Nanti, saat sepupu Ghea sudah masuk di sekolah dan ketika Qila lebih sering melihat Fikri bersama dengan sepupu Ghea, mungkin saat-saat itu dia akan mengungkapkan perasaannya. Agar Qila juga tak larut dalam sedihnya karena Fikri yang tak lagi berada di sebelahnya. "Ngomong-ngomong, lo lagi gak ada PR Qil?" tanya Arvin kemudian secara random. Qila yang mendengar itu sedikit terkekeh kecil dibuatnya. Lucu sekali pertanyaan Arvin. "Lagi gak ada Kak, jarang dikasih PR juga. Tapi sekalinya di kasih, udah deh itu banyaknya minta ampun, buat istighfar berulang kali," jawabnya. Arvin ikut terkekeh. Entah kenapa ekspresi yang dibuat Qila saat mengatakan itu sangat lucu dimatanya. "Ada-ada aja lo Qil," ujarnya. "Tapi beneran deh, emang guru di SMA kita pada jarang-jarang ngasih PR nya. Cuma ya gitu, sekalinya kasih tugas ya banyaknya gak manusiawi," lanjut Arvin lagi diam-diam cowok itu menyetujui perkataan Qila tadi. "Nah kan, emang bener Kak Ar kaya gitu, mana deadline nya juga pasti cuma dua hari lagi. Mentok-mentok paling juga seminggu, gak paham lagi aku tuu," timpal Qila kemudian. "Tapi yang penting bisa kelarin tugas sesuai jadwal deadline aja ya Qil kalo kaya gitu," jawab Arvin. "Dengar-dengar dari Gladis, lo sering ngeluh gara-gara tugas, entah itu yang tugasnya sulit lah, deadline nya mepet lah. Tapi herannya, setiap kali udah waktu deadline lo selalu kumpulin tepat waktu. Bahkan kalaupun Gladis belum kerjain, dia sering cerita kalo lo pasti selalu kasih dia contekan waktu dia minta sama lo, yang berarti itu artinya lo udah kerjain tugasnya," ujar Arvin lagi panjang lebar, menceritakan apa yang pernah Gladis ceritakan tentang Qila ke dirinya dan Mama Papanya. Rahasia umum untuk keluarga Gladis adalah gadis itu sering kali menceritakan perihal sahabat-sahabatnya. Terlebih itu adalah Qila karena kalau kata Gladis, Qila itu anak yang ajaib, Gladis baru pernah bertemu anak seajaib Qila pertama kalinya saat di SMA itu. Sementara Gladis jarang menceritakan Ghea selain karena gadis itu bukan teman sekelas Gladis, tapi juga karena pada diri Ghea yang memang tak ada yang bisa diceritakan. Lagipula, Mama Fira sudah mengenal Ghea sedari awal masuk SMP. Mama Fira bahkan juga berteman dengan Mamanya Ghea. Dan untuk Qila, satu alasan lagi kenapa Gladis sering menceritakan sahabatnya yang satu itu adalah karena Gladis tahu, Kakaknya menyukai Qila, dan dia ingin Papa dan Mamanya mengenal beberapa hal mengenai sosok gadis yang disukai oleh Kakaknya. Sosok gadis yang berkemungkinan menjadi bagian keluarga ini dan menjadi calon menantu Papa dan Mamanya itu. Papa Vito dan Mama Fira. Kalo Arvin sendiri sih, dia senang-senang saja saat Gladis bercerita tentang Qila, sedikit banyak hal dia juga jadi ikut tahu soal Qila. Dan itu memang benar-benar sedikit membantunya. "Lo unik banget tau Qil," lanjutnya lagi membuat Qila tertawa. "Ha ha ha. Ya mau gimana lagi juga kan Kak, namanya juga tugas, harus dikerjain sampe selesai lah ya," jawab Qila dengan sisa-sisa tawanya. "Gue juga berusaha kejar deadline banget itu. Mau gimanapun tugasnya, ngeluh adalah hal pertama yang gue lakuin. Apalagi waktu denger tugasnya yang mata pelajaran Matematika Umum, Minat, Biologi, Kimia atau Fisika. Terus deadline yang cuma mentok satu minggu itu. Kayanya kalo gue gak ngeluh tuh Kak Ar, kaya ada yang kurang gitu lo. Jadinya ya gitu, ngeluh dulu baru nugas," lanjutnya lagi dengan terkekeh kecil. "Ya bagus itu, ngeluh boleh tapi otak sama tangannya tetep kerja. Mulutnya ngedumel," ujar Arvin. "Itu namanya semua bekerja sesuai fungsinya," lanjutnya. Qila kembali terkekeh. "Tapi lumayan berat juga Kak, kerjain tugas sendiri gak ada yang bantu. Kalo Gladis mah enak, ada Kak Arvin yang bisa bantu dia. Secara Kak Arvin kan emang terkenal pinter banget di sekolah," kata Qila pada Arvin. "Halah, anak itu. Gladis kalo minta bantuan kerjain tugas sama gue, dia gak mau mikir sama sekali. Sukanya terima jadi, padahal gue mau bantu dia kalo dia mau belajar. Jadi gue arahin caranya, dia yang kerjain Supaya dia juga bisa," ujar Arvin menatap Qila. "Tapi anak itu mana mau sih Qil, pemalas dia. Heran banget gue punya adek modelan kaya dia. Makanya itu deh, dia pasti sering banget kan minta contekan sama lo, dia sukanya yang instan. Dia tinggal nyalin doang. Bahkan kalo ada, mungkin dia juga mau yang dia tinggal kumpulin tugasnya doang," tambahnya membuka kedok adiknya sendiri, Gladis. "Maaf Qil kalo sebagai sahabat atau temen, adek gue suka ngerepotin lo. Dia emang gitu anaknya. Bebal banget lagi dibilangin," kata Arvin lagi dengan tulus meminta maaf kepada Qila atas nama adiknya. Qila malah tertawa ringan mendengar itu. "Bukan masalah Kak Ar, selagi gue bisa bantu Gladis ya gue bantu dia. Selagi gue udah selesai kerjain tugas ya bakalan gue kasih contek Gladis kalo dia minta," ujarnya santai. "Gladis gak seburuk itu kok Kak, biasanya kalo di kelas lagi ada tugas, dia selalu gue ajarin dulu biar dia juga bisa kerjain sendiri sembari gue juga kerjain tugas gue sendiri. Nanti kalo Gladis gak bisa dan udah mepet banget, baru deh gue kasih contek dia," lanjutnya. Arvin terdiam sejenak. "Iya deh, apapun itu gue mau ngucapin banyak terimakasih sama lo karena udah banyak bantu Gladis," ujarnya. Qila mengangguk saja menjawabnya. "Ya sama aja sih sebenarnya Kak, gue kan juga perlu berterimakasih karena udah dikasih tumpangan dan diterima dengan baik disini," ujar Qila membalik perkataan Arvin. Arvin menghela napasnya sejenak. "Mulai lagi deh," dengusnya malas karena Qila mulai membahas bantuan tak seberapa dari dia dan keluarganya. Kemudian mereka berdua tertawa bersama di taman rumah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD