CHAPTER 12

1301 Words
Qila dan Gladis pada akhirnya sampai saat ini benar-benar masih menunggu Arvin kembali. Keduanya masih setia terdiam di UKS menunggu cowok itu. Saat ini baru 5 menit sejak Arvin pergi meninggalkan mereka dan mereka pun juga baru saja menyelesaikan kegiatan makannya. Setelah meyelesaikannya, mereka kemudian langsung membuang bekas bungkus makanan yang mereka makan ke dalam tempat sampah. Setelah itu, mereka kembali terduduk di brankar UKS. "Dis, Kak Arvin kenapa nyuruh kita nungguin dia?" tanya Qila penasaran. Gadis itu bingung mengapa sampai kakak kelasnya itu melarang dia dan Gladis untuk kembali ke kelas dan malah menyuruh dia dan Gladis untuk menunggu cowok itu. Ya, kalo Arvin hanya menyuruh Gladis yang menunggu sih Qila tidak heran. Lagipula Gladis pacarnya, jadi wajar-wajar saja jika Arvin meminta Gladis menunggu. Mungkin memang ada sesuatu penting yang ingin dibicarakan. "Ya mana gue tahu Qil," jawab Gladis. "Emang aneh-aneh aja itu orang. Pake segala nyuruh kita nungguin dia," lanjut gadis itu sembari memainkan ponselnya. "Ini kalo kita telat masuk kelas gimana Dis. Gue takut kena omel guru. Gue takut gak boleh masuk kelas," ujar Qila menyampaikan ketakutannya. Gladis yang mendengar itu masih nampak santai sembari memainkan ponselnya. "Lo tenang aja Qil. Arvin gak mungkin nyuruh kita nunggu dia kalo dia gak pikirin matang-matang dulu kemungkinan resiko-resiko yang bakalan kejadian," jawab Gladis lagi. "Arvin itu orangnya pemikir banget. Dia selalu berpikir jernih. Dia teliti juga, walaupun pasti sesekali anak itu pernah meleng. Tapi 90 persennya dia selalu teliti kok. Jadi gak usah khawatir tentang hal kaya gitu. Arvin pasti udah ada persiapan," lanjutnya panjang lebar. Ah entahlah, pembahasan mendadak melebar kemana-mana padahal niat Qila pada awalnya hanya bertanya apa mereka tidak akan telat mamasuki kelas. Kenapa malah jadi seperti ini? Alhasil, Qila memilih untuk hanya mengangguk saja menanggapi perkataan Gladis. Gadis itu tak tahu harus memberikan respons seperti apa lagi. Mungkin hanya mengangguk saja sudah cukup baik. Benar kan? Beberapa menit kembali hening. Gladis kembali fokus dengan ponselnya sedangkan Qila, gadis itu sibuk pikirannya sendiri. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Yang jelas, Qila nampak sangat larut dalam pikirannya. Sampai beberapa saat setelah itu, datanglah Arvin dari balik pintu. Melihat Arvin sudah kembali, Qila dan Gladis segera berdiri kemudian. Mungkin jika Qila berdiri karena bersikap sopan kepada Arvin, kakak kelasnya. Namun tidak untuk Gladis, gadis itu berdiri karena ingin menyampaikan sesuatu. "Mmm Qil," ujar Gladis membuat Qila langsung menoleh kearah gadis itu secara instan. "Ya?" jawab Qila dengan kedua alisnya yang terangkat naik. Gadis itu bingung. "Karena Arvin udah dateng, gue mau pamit ke toilet dulu ya. Gue beneran kebelet, udah nahan banget dari tadi," ujar Gladis dengan wajah yang memang sangat terlihat sedang menahan sesuatu yang sudah sangat ingin keluar. "Iya," ujar Qila memberikan respon secara singkat. Lalu Gladis, gadis itu beralih menatap Arvin yang sedari tadi datang masih diam saja. Cowok itu sedari tadi hanya diam dan menyimak. "Dan lo Vin, gue minta lo buat jagain temen gue dulu. Jagain Qila," ujar Gladis meminta. "Gak lo minta juga udah pasti dia gue jagain kali. Gue gak sebodoh dan setega itu untuk biarin temen lo kenapa-kenapa," ujar Arvin dengan nada suara datarnya. Gladis yang mendengar jawaban dari Arvin itu tersenyum bangga. "Bagus Vin. Lo ternyata masih baik hati banget orangnya. Gue suka," ujar Gladis dengan senang. Arvin tak lagi merespon apa yang Gladis katakan. Cowok itu kembali diam dengan ekspresi datarnya. "Ya udah sana pergi. Lama lo," malah sekarang jadi Arvin yang mengusir. Mendengar usiran dari Arvin, Gladis langsung memudarkan senyumnya. "Gini nih Qil yang lo gak tau soal Arvin. Dia nyebelin banget," ujar Gladis seperti sedang mengadukan kelakuan Arvin kepada Qila. Qila sendiri yang mendapatkan aduan seperti itu jadi bingung harus memberikan respons seperti apa. Kenapa rasanya Gladis hari ini benar-benar sering membuat Qila bingung bagaimana cara meresponnya? Pada akhirnya Qila hanya tersenyum. Tak banyak kata lagi, setelah mengetahui respon singkat dari Qila, Gladis memutuskan untuk langsung keluar dari UKS untuk ke toilet. Meninggalkan Arvin dan Qila sendiri di dalam sana. Sepeninggalan Gladis, Arvin dan Qila masih berdiri diam. Qila yang sungkan dengan Arvin dan Arvin yang memang sedikit berbicara. Namun, pada akhirnya Arvin memutuskan untuk membuka suaranya. "Ayo duduk aja gak apa-apa," ujar Arvin pada Qila. Qila yang mendengar itu langsung mengangguk. Namun, Qila terlihat tak kunjung juga duduk. "Kenapa belum duduk? Ayo duduk aja gak apa-apa," ujar Arvin lagi membuat Qila akhirnya bersuara. "Iya Kak. Tapi aku bakalan duduk kalo Kak Arvin juga duduk," ujar Qila dengan sopan. Arvin tahu, ternyata Qila sangat menghormatinya sebagai kakak kelas, sebagai senior. Padahal, Arvin tak terlalu mempermasalahkan perihal junior atau senior. Yang terpenting, orang itu masih cukup memiliki attitude saja itu sudah lebih dari cukup. Tapi Qila, gadis itu tak hanya memiliki attitude yang baik. Tapi gadis itu juga memiliki etika dan rasa sopan yang sangat baik pula. Gadis itu benar-benar sangat terdidik dengan baik. "Ya udah, ayo duduk," ujar Arvin mengajak Qila untuk duduk bersama. Namun yang Qila lakukan hanya mempersilahkan Arvin untuk duduk terlebih dahulu. "Silahkan, Kak Arvin dulu aja yang duduk," ujarnya sopan. Arvin tersenyum kecil melihat itu. Segitunya? Wah, Arvin jadi merasa tersanjung sekarang. Arvin lalu mengikuti kata Qila, cowok itu lalu duduk terlebih dahulu sebelum pada akhirnya Qila juga ikut duduk di brankar depannya. Melihat Qila duduk bersebrangan dengan brankar miliknya, Arvin pun menyuruh Qila untuk berpindah. "Lo duduk samping gue sini. Kenapa haru jauh-jauh? Lo alergi sama gue?" tanya Arvin dengan wajah yang sudah kembali datar. Qila yang melihat Arvin mengatakan itu menjadi takut. Apa.... Arvin marah dengannya? "I-iya Kak," ujar Qila lalu tanpa kata langsung berdiri dan berpindah posisi menjadi satu brankar dengan Arvin. Mereka bahkan duduk bersebelahan. "Lo kenapa jauh-jauh banget sih dari gue? Lo beneran alergi sama gue? Lo takut sama gue atau gimana sih? tanya Arvin protes. Qila menggeleng cepat. "Enggak Kak, gak gitu. Gue gak takut sama lo Kak. Cuma, gue rada gak enak aja. Lo kan senior Kak," ujar Qila menjelaskan. Arvin tak memberikan respon apa-apa. Yang cowok itu lakukan adalah hanya mendekati Qila. Menggeser duduknya agar lebih dekat dengan gadis itu. Qila sendiri gadis itu hanya diam tak melawan. Sampai Qila melihat Arvin merogoh saku celana seragamnya seperti mengambil sesuatu. Dan yang dia ambil adalah plester. Arvin tampak menyobek bungkus plester itu lalu tangan cowok itu secara tiba-tiba mendekati wajah Qila. Qila yang ingin memberikan refleks mundur itu tiba-tiba terhenti karena tangan Arvin yang lain lebih dulu menangkap pergerakan kepala Qila dengan cara menahan belakang kepala gadis itu. "Diem Qila," ujar Arvin yang entah kenapa membuat Qila salah tingkah. Di tambah, saat ini bukan hanya tangan Arvin yang mendekati wajahnya dan memegang tengkuk Qila. Namun wajah cowok itu juga menjadi sangat dekat. Qila tahu Arvin hanya ingin fokus menempelkan plester di lukanya. Namun, kenapa harus sampai sedekat ini. Sampai pada akhirnya Arvin selesai memasangkan plester di dahi Qila, cowok itu lalu kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Qila. Namun cowok itu masih terduduk di samping Qila. Bahkan sekarang dalam posisi menempel. "Ehem," dehem Arvin mencairkan suasana. Nampaknya, cowok itu juga sedikit canggung tadi. "Gue tadi sengaja beli plester dulu. Gue lihat luka lo belum di plester. Jadi gue pikir, disini mungkin gak ada plester makanya Gladis gak kasih luka lo plester," ujar Arvin menjelaskan kemudian. Oh, ternyata Arvin tadi keluar kembali itu untuk membelikan Qila plester. Qila jadi paham sekarang. "Sebenarnya gak usah di plester juga gak apa-apa Kak. Lukanya cuma memar kecil doang juga kan," ujar Qila. Namun Arvin nampaknya tak suka dengan apa yang gadis itu katakan. "Justru memar kecil itu butuh di plester. Kalo udah besar atau parah, baru di perban," ujar Arvin sungguh-sungguh. Namun Qila menanggapinya dengan kekehan kecil seraya manggut-manggut paham. "Iya, Kak Arvin bener," ujarnya. Ya...., kan memang apa dikatakan Arvin itu benar. Iya kan? Ya Qila mah jujur saja. Arvin tersenyum melihat Qila yang terkekeh karena ucapannya. Gadis itu, bisa sangat ceria padahal dia saat ini juga sedang terluka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD