CHAPTER 1

4200 Words
Gadis cantik dengan surai panjang berwarna hitam pekat baru saja turun dari boncengan seorang remaja laki-laki yang merupakan sahabatnya. Fikri Hernando. Gadis yang diketahui bernama Aqilla Queensa itu memang terlihat sering bersama Fikri. Mereka sering berangkat bersama, jalan bersama, banyak hal sering mereka lakukan bersama-sama. Bahkan tak sedikit orang mengira bahwa mereka adalah sepasangan kekasih. Nyatanya, mereka hanyalah sahabat. Tidak lebih dan tidak kurang. "Fik, gue ke kelas dulu ya. Thanks tebengannya," ujar Qila berlari meninggalkan Fikri yang sedang memarkirkan motornya. "Ati-ati Qil, jangan lari," peringat Fikri. Namun, yang di peringatkan pun malah tidak mendengar. Dia tetap berlari dengan riangnya. Fikri heran, sudah SMA, tapi kelakuannya masih sebelas dua belas dengan bocah SD. "Bocil dasar," cibir Fikri heran memandang Qila yang berlari dengan riangnya. Cowok itu kemudian memarkirkan motornya dengan rapi lalu dia berjalan santai kearah koridor kelas 10. Disisi lain, Qila masih terus berlari dengan riangnya, sesekali terdengar senandungan kecil keluar dari mulut mungil gadis itu. Tepat disaat Qila hendak melewati tikungan kelas, Qila tak sengaja menabrak seorang cowok yang merupakan kakak kelasnya. Qila terpental jatuh dilantai. "Awh," ringis Qila menepuk pantatnya yang terasa sakit. Ngilu juga ya jatuh. Kakak kelas yang ditabrak Qila itu berinisiatif mengulurkan tangannya untuk membantu Qila berdiri. Dengan senang hati, Qila menerima uluran tangan kakak kelasnya tersebut. "Maaf kak, gue gak sengaja" ujar Qila merasa bersalah karena sudah menabrak kakak kelasnya itu. Ya, walaupun dirinya sendiri juga yang jatuh. Tapi tetap saja, Qila yang salah kan? "Gak apa apa," balas cowok itu singkat. "Lain kali hati-hati," pesannya lalu berjalan meninggalkan Qila begitu saja. Melihat itu, Qila hanya mengendikkan bahu acuh. Qila kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Di sepanjang koridor, Qila menyapa semua orang yang dia kenal dengan senyuman atau terkadang dengan kata "Hai" ataupun "Selamat pagi guys". Qila memang gadis yang ramah. "Qila!" panggil Gladis yang merupakan teman sekelasnya, bahkan teman sebangkunya. "Kenapa Dis?" tanya Qila sembari meletakkan tasnya di bangku miliknya. Dahi Qila terlihat bergelombang dengan kedua alisnya yang terangkat tanda bertanya. Kelas X MIPA 2 adalah kelas Qila. Kelas dengan manusia-manusia acuh yang tak suka bersosialisasi ini membuat Qila, gadis yang terkenal sangat ramah merasa kurang nyaman. Namun untung saja Qila memiliki teman sebangku yang sama ramahnya seperti dirinya. Dia adalah Gladisya Aurora. Satu-satunya teman sekelasnya yang paling asik menurut Qila. "Ke kantin yuk Qil, laperr," rengek Gladis memegangi perutnya dengan memasang muka memelas. Bibir bawah gadis itu mengerucut lucu. Qila sampai terkekeh melihatnya. "Iya-iya, kebetulan gue juga belum sarapan. Fikri jemputnya kepagian tadi," balas Qila menyetujui. Qila dan Gladis kemudian bangkit dari bangku mereka. Kedua gadis itu berjalan beriringan menuju kantin. Mereka saling bercerita satu sama lain di sela-sela langkah mereka. Ingat, mereka hanya bercerita. Bukan ghibah. Bedakan ya! hehe. "Ghea udah dateng belum ya kira-kira," ujar Gladis yang tiba-tiba teringat dengan Ghea, salah satu sahabatnya yang berada di kelas yang berbeda dengan Qila dan Gladis. "Gak tau juga gue, coba lo chat dia. Ajakin ke kantin," saran Qila yang dibalas anggukan setuju oleh Gladis. Sembari berjalan, Gladis juga memainkan ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Ghea. Pesan yang berisikan bahwa Gladis dan Qila menunggu Ghea di kantin. Kalau saja gadis itu sudah sampai di sekolah. Setibanya mereka di kantin, mereka segera duduk di salah satu meja. Kantin masih terlihat sedikit sepi pagi ini. Meski sebenarnya sudah lumayan banyak yang sudah datang, tapi bisa dipastikan, mereka yang biasanya datang telat bisa datang sepagi ini pasti dikarenakan satu alasan yang sudah pasti jawabannya hanya satu. Belum mengerjakan PR. Persis seperti Fikri tadi. "Lo mau pesen apa Dis?" tanya Qila, gadis itu berniat memesankan makanan untuknya dan Gladis. "Biar gue pesenin," lanjutnya. "Mie rebus aja, sama teh anget," pesan Gladis. "Thanks by the way Qil," lanjutnya yang hanya di balas Qila dengan acungan jempolnya. Qila kemudian berlalu mengantri di salah satu stand kantin setelah mendengarkan pesanan Gladis. Dia segera memesankan makanannya. Beberapa menit Qila mengantri, akhirnya pesanan gadis itu dan juga Gladis sudah Qila dapatkan. Setelah mendapatkannya, Qila segera kembali ke meja yang tadi diduduki oleh dia dan Gladis. Namun saat dia kembali ke meja itu, meja itu terlihat kosong. Qila mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Gladis. Dan matanya, terhenti kepada sosok gadis yang sedang mendekati seorang cowok yang terlihat tidak begitu asing dimatanya. Qila berjalan menghampiri kedua remaja tersebut. "Gladis, lo ngapain kesini," Qila datang sambil menepuk pundak Gladis dari belakang. Sontak, Gladis menoleh dengan napas tersengal. Dia terkejut. "Qilaaa, ngagetin mulu kerjaan lo," Gladis mengatur napasnya yang sempat tersengat terkejut karena tepukan dari Qila. "Lagian, lo pagi-pagi gini udah pacaran aja," ujar Qila melirik cowok yang ada di sebelah Gladis. Mata Qila memicing curiga menatap Gladis. "Gila lo, dia bukan pacar gue lagi," sangkal Gladis. "Nyenyenye, serah lo udah," ujar Qila tidak percaya, gadis itu menoleh menatap lekat cowok yang notabenya adalah kakak kelas. "Lo, yang gak sengaja gue tabrak tadi kan ya kak?" tanyanya memastikan. Cowok tersebut menatap Qila sejenak kemudian berdehem pelan seraya mengalihkan pandangannya dari Qila. "Stt, jawab yang bener," tegur Gladis berbisik. Tak enak kepada Qila rasanya Gladis ketika cowok yang duduk di sebelahnya itu hanya membalas perkataan Qila dengan deheman. Itu pasti sangat menyebalkan untuk Qila dan itu juga pasti menimbulkan penilaian minus untuk Qila. Karena Gladis juga akan melakukan seperti itu jika ada orang yang membalasnya hanya dengan deheman. Kecuali kalau Gladis sudah kenal lama. "Apanya emang yang salah?" tanya cowok tersebut acuh, alih-alih menuruti perkataan Gladis untuk menjawab dengan benar, cowok itu malah terlihat sensi. "Udah deh, gue balik kelas dulu. Ntar lo pulang sendiri, gue gak bisa anter," lanjutnya lalu pergi meninggalkan Qila dan Gladis. Gladis yang mendengar dan melihat itu hanya melongo tak percaya. Benar-benar ya. Gladis di suruh pulang sendiri?! Yang bener aja hei! "Lo suka sama kulkas berjalan kaya dia Dis?" ujar Qila menggelengkan kepalanya tak percaya. "Sanggup juga lo, gak kebayang gue. Betapa makan hatinya waktu lo lagi pacaran sama dia. Eh atau, dia sikapnya hangat banget ya kalo udah sama lo?" tebak Qila menatap Gladis serius. "Wah gila, sahabat gue bisa menaklukan kulkas berjalan," lanjutnya bertepuk tangan heboh. Emang sinting Qila lama-lama. Belum juga Gladis menjawab, sudah asal menyimpulkan. "Lebay lo, dia gak sedingin itu kali," ujar Gladis tak terima cowok tadi dikatakan kulkas berjalan. Hey, dia memang tak sedingin itu. "Kalo bukan kulkas berjalan apa dong? Kutub selatan?" ujar Qila dengan raut wajah yang dibuat terkejut. "Oh no! dinginnnn,"lanjutnya dengan gaya sok dibuat menggigil. "Itu sih makin parah," balas Gladis memutar bola matanya malas. Cape juga lama-lama meladeni Qila yang semakin kesini semakin gila. Harusnya Gladis tak usah tanggapi saja tadi. "Hahaha, canda doang gue. Jangan baper gitu dong," kekehan geli terlontar dari mulut Qila. *** Kring! Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh murid SMA Rajawali keluar dari kelasnya masing-masing. Begitupula dengan Qila, Gladis dan Ghea. Mereka bertiga sedang berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Bel memang baru berbunyi tapi kelas mereka sudah selesai dari 5 menit yang lalu. Alhasil, saat bel baru berbunyi, mereka sudah hampir sampai di depan gerbang SMA Rajawali. Qila tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika dia sampai di parkiran tempat dimana motor Fikri diparkirkan. Seperti biasa, Qila akan pulang bersama Fikri. Gladis dan Ghea yang sudah tau itu hanya menghela napasnya pelan. "Kita duluan ya Qil, lo mau nunggu Fikri dulu kan?" tanya Ghea basa-basi. Padahal kan, dia sudah hafal betul dengan kebiasaan Qila. "Iya Ghe. Udah kalian duluan aja," balas Qila seadanya. "By the way, jangan lupa jagain Gladis. Kasihan cowoknya dia lagi gak bisa nganter pulang katanya," lanjut Qila iseng. Gadis itu terkikik geli melihat ekspresi masam Gladis. Pernyataan Qila membuat Ghea menoleh menatap Gladis dengan tatapan mengintimidasi. Pasalnya, Ghea sudah berteman dengan Gladis sejak jaman mereka masih SMP. Namun, bagaimana bisa Gladis tidak memberitahunya kalau dia sudah mempunyai pacar. Malah, Qila lah yang mengetahuinya paling awal. "Apaan sih lo Ghe, natap gue nya gitu banget," Gladis menoleh was-was melihat tatapan Ghea. Sudah dia duga, ini akan terjadi cepat atau lambat. Qila emang temen laknat! "Gladis...," Ghea tersenyum seperti mengancam. Ya, mengancam kalau saja Gladis tak mau jujur kepadanya. "Iya Ghe iya! Ntar gue cerita," ujar Gladis pasrah. Nasib sudah kalau begini! "Udah ah, ayo pulang!" ajaknya pada Ghea sebelum Qila semakin menjadi-jadi. Qila bisa saja jadi kompor dadakan antara dia dengan Ghea. Dan kalau sampai Ghea terkena kompor Qila, alamat Gladis akan langsung ikut terbakar saat itu juga. Ngeri uyy! Gladis segera menarik tangan Ghea untuk berlalu pergi. Gadis itu masih sempat menoleh kearah Qila dan menatap gadis itu tajam. Namun yang ditatap dengan tajam itu hanya menjulurkan lidahnya meledek Gladis yang semakin dibuat kesal di tempatnya. Kalau Gladis tak ingat bahwa Qila itu sahabatnya, sudah bisa dipastikan, Gladis akan menelan habis Qila saat ini juga. Setelah Gladis dan Ghea menghilang keluar dark gerbang SMA Rajawali, kini berganti dengan Fikri yang datang menghampiri Qila. "Woi!" ujar Fikri membuat Qila terperanjat kaget. Bagaimana tidak? Cowok itu berkata dengan mulutnya yang tepat berada di sebelah telinga Qila ditambah dengan tepukan yang cukup keras pada bahu gadis itu. Ya jelaslah Qila kaget! "Fikriiii," Qila menatap Fikri kesal. "Ngagetin gue mulu sih hobi lo!" lanjutnya mengerucutkan bibirnya. Dongkol. Tangan Fikri terulur mengacak pelan rambut Qila kemudian beralih mencubit bibir Qila yang mengerucut. "Lucunyaaaa," ujarnya dengan wajah yang dibuat seperti gemas. Seketika, ekspresi kesal Qila langsung berganti dengan ekspresi senang dan ada sedikit bumbu malu-malu di wajah gadis itu. "Ish! bisa aja lo bikin gue seneng. Heran deh," ujarnya mengulumnya senyumnya. Fikri terkekeh geli melihat ekspresi Qila. "Lo lupa kalo gue udah sering ngadepin mood swings lo itu," Fikri menaik turunkan alisnya. "Hehe bener juga ya," ujar Qila menyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Udah ah Fik, ayo pulang!" ajaknya menarik Fikri untuk segera menaiki motor cowok itu. *** Malam ini, Qila sedang duduk di teras rumahnya. Gadis itu sedari tadi mengotak-atik ponselnya. Seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Tak lama setelah itu, sebuah motor berhenti di pekarangan rumah Qila. Akhirnya, orang yang dia tunggu sedari tadi datang. "Qila!!!" teriak Gladis antusias. Gadis itu berlari menghambur ke pelukan Qila tanpa mempedulikan cowok yang masih berada di atas motornya. Cowok yang mengantarkannya. Qila melerai pelukannya dengan Gladis, dia beralih melihat cowok yang mengantarkan Gladis tadi. "Dis, cowok lo nungguin noh," celetuk Qila membuat Gladis berbalik. "Eh lupa," Gladis menyengir kemudian menghampiri cowok tersebut. "Pulang gih," usirnya singkat membuat sang cowok menatapnya heran. "Gampang banget lo ngomong. Udah maksa minta anterin, sekarang ngusir lagi," gerutunya namun tak urung menuruti perkataan Gladis. Cowok itu menghidupkan motornya kemudian membawanya pergi dari rumah Qila. Sepeninggalan cowok itu, mata Qila menelisik tajam menatap Gladis. "Gue tau Dis, cowok lo emang dingin, sedingin kutub selatan. Tapi gue gak nyangka, kalo lo perlakuin dia kaya tadi," Qila menggelengkan kepalanya dramatis. "Iba gue lihat cowok lo, udah kaya tukang ojek aja," sambungnya. Gladis hanya memutar bola matanya malas. "Biarin aja, dia nerima gue apa adanya kok," ujar Gladis yakin, gadis itu kemudian terkekeh geli mendengarkan perkataannya sendiri. "Udah ah ayo, katanya mau ngerjain tugas bareng," ajaknya kemudian merangkul bahu Qila akrab untuk segera memasuki rumah gadis itu. "Kita ajak Ghea gabung aja yuk Dis," saran Qila yang dibalas anggukan antusias oleh Gladis. Setelah itu, sepasang sahabat ini masuk kedalam rumah Qila dan langsung menuju ke kamar gadis itu disertai dengan canda tawanya yang mengiringi langkah mereka. "Dis, gimana kalo lo nginep sini aja?" tawar Qila. Gadis itu dan Gladis kini sudah duduk lesehan di sebelah kasur Qila. Mereka sibuk dengan bukunya masing-masing. "Mana bisa, gue gak bawa seragam Qil," ujar Gladis yang masih sibuk dengan buku-bukunya. Matanya tak sedetik pun melirik kearah Qila. "Tenang, gue punya seragam dua," balas Qila. "Seragam cadangan gue bisa lo pake besok. Pasti muat juga kok, badan kita kan sama ukurannya." "Gimana, lo mau kan?" tanya Qila memastikan, berharap Gladis mau menerima ajakannya. "Masa gitu aja lo pake nanya gue Qil. Ya pasti gue mau lah!" seru Gladis mendadak heboh, gadis itu kini sudah mengalihkan pandangannya menatap Qila. Qila senang mendengar itu. Kemudian, Qila beralih mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa pesan untuk Ghea. Aquilla Queensa: Ghe Aquilla Queensa: Kerumah gue sekarang gih Aquilla Queensa:Disini udah ada Gladis Ghea Anggraini: Ngapain ke rumah lo malem-malem gini Ghea Anggraini: Ada Gladis lagi Aquilla Queensa: Gladis nginep rumah gue Aquilla Queensa: Lo mau ikut nginep kaga? Aquilla Queensa: Kalo mau, jangan lupa bawa seragam Ghea Anggraini: Pake tanya lagi Ghea Anggraini: Otw! Qila tersenyum membaca balasan pesan dari Ghea. "Ghea otw kesini katanya." Gladis mengangguk senang. Sekarang giliran Gladis lah yang mengabari seseorang. Gladisya Aurora: Gue nginep dirumah temen gue yang tadi Gladisya Aurora: Gak usah nunggu chat gue minta jemput ya Gladisya Aurora: Good night partnerrr Gladis tersenyum setelah mengirimkan pesan itu. Walaupun dia sering dibuat kesal dengan sikap cowok itu. Tapi Gladis sangat menyayanginya. Sangat amat menyayanginya. *** Qila, Gladis dan Ghea. Ketiga sahabat ini sedang duduk di teras kelas X MIPA 2. Ghea yang memang kurang dekat dengan teman sekelasnya memilih untuk menghampiri Qila dan Gladis. Gladis yang sudah Ghea kenal sejak jaman SMP dan Qila gadis ramah yang baru dia kenal sejak masuk SMA. Walaupun Ghea dan Gladis baru mengenal Qila. Tapi mereka sangat yakin, Qila adalah gadis dan sahabat yang baik. Dan alasan itulah yang membuat mereka mau menjadi sahabat Qila. Qila sendiri, gadis itu memang ramah, memiliki banyak teman. Tapi entah kenapa, untuk dijadikan sahabat, Qila hanya percaya pada Gladis dan Ghea. "Ghe, boleh minta tolong gak gue?" tanya Qila meminta persetujuan dari sahabatnya itu. "Boleh, mau minta tolong apa?" Ghea balik bertanya. Gadis itu dengan santainya mengangkat kakinya sebelah. Bak sedang di warung kopi. "Lo sekelas sama Fikri kan ya. Tolongin gue ya buat awasi setiap sifat, sikap, pergerakan dan kelakuan Fikri di kelas," pinta Qila membuat Gladis dan Ghea menatapnya bingung. "Kenapa lo nyuruh gue ngawasin Fikri segitunya?" "Ya...., gue gak mau aja kalo Fikri nanti kena pengaruh buruk dari temen sekelasnya," balas Qila ragu. Jujur saja, Qila sebenarnya takut jika nanti Fikri menemukan teman baru yang jauh lebih asik daripada dirinya. Bagaimana nasibnya nanti? Bisa gila Qila kalau sampai Fikri tak mau lagi menjadi temannya. "Lah? Pengaruh buruk dari gue dong, kan gue temen sekelasnya," Ghea mengernyitkan dahinya bingung. "Maksud gue bukan lo Ghea. Emangnya lo deket sama Fikri? Kaga kan? Lo mah canggung mulu kalo sama Fikri, suka lo ya?" cerocos Qila tanpa jeda. Matanya memicing menatap Ghea curiga. "Gue canggung bukan karena gue suka Qila," elak Ghea sabar. "Gue canggung cuma karena ngerasa gak cocok aja sama dia. Gak nyambung lah intinya," lanjutnya menjelaskan. Qila ber-oh ria setelah mendengar jawaban Ghea. Dia merasa lega, ternyata tuduhan yang dia berikan untuk sahabat barunya itu salah. Tentu saja Qila percaya dengan penjelasan Ghea. Qila tahu, Ghea tak mungkin mengkhianatinya. Ghea tak mungkin menusuknya dari belakang. "Qil, emang lo masih suka ya sama Fikri?" celetuk Gladis bertanya dengan santai. Qila mengangguk antusias. "Masih! Yakali gue bisa move on dari Fikri secepat itu," jawab Qila dengan senyum lebarnya. Ghea dan Gladis saling melirik satu sama lain. Mereka berdua sama-sama menghela napas pelan. Ingin melarang Qila untuk terus suka dengan Fikri, tapi mereka sadar kalau mereka tak punya hak. "Qila! Ikut gue ke kantin mau nggak?" ajak Fikri yang baru saja datang dari kelasnya. Cowok itu mengajak Qila tanpa mempedulikan kedua teman baru Qila. Seolah di sana hanya ada Qila, tak ada Gladis dan Ghea. Qila mengangguk cepat sembari tersenyum manis. "Ghea Gladis, kalian mau ikut nggak?" tawarnya basa-basi. Tentu saja basa-basi, Qila kan sebenarnya hanya ingin berdua bersama Fikri. Gladis dan Ghea yang tau keinginan Qila yang sebenarnya tersenyum kaku menanggapi ajakan basa-basi Qila. Ghea dan Gladis menggeleng serempak. "Gak usah deh Qil, gue sama Ghea disini aja hehe," tolak Gladis diakhiri dengan kekehan garingnya. "Yaudah kalo gitu gue duluan ya," Qila dan Fikri kemudian berlalu pergi meninggalkan Gladis dan Ghea, namun sebelum Qila dan Fikri benar-benar jauh dari Gladis dan Ghea, Qila sempat menoleh untuk memberikan jempolnya kepada Gladis dan Ghea yang sangat peka dengannya. Gladis dan Ghea mengangguk masih dengan senyum kakunya. Lalu, setelah Qila dan Fikri menghilang dari pandangan mereka, mereka tiba-tiba menghembuskan napas lega. Sebenarnya, mereka tak rela Qila menjadi bucinnya Fikri. Karena mereka tahu, Fikri hanya menganggap Qila sebagai sahabat, tak lebih. Dan selamanya akan begitu. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan kegiatan mengobrolnya. Disisi Qila, gadis itu kini merasa sangat senang karena Fikri tidak berubah sama sekali. Fikri tetap sama seperti cowok yang dia kenal sejak jaman SMP. Fikri sahabatnya masih membutuhkannya untuk selalu berada disebelah cowok itu. "Fik, gue seneng deh. Lo gak berubah sama sekali," ujar Qila membuat Fikri menoleh, tangan Fikri terangkat untuk mengacak rambut Qila gemas. "Gue gak akan berubah Qila. Tenang aja," Kalimat itu seperti sihiran untuk Qila. Gadis itu malah merasa sedih mendengarnya. Kalimat yang keluar dari mulut Fikri seakan hanya menjadi penenang sementara untuk Qila. Qila jadi takut. Tidak, tapi itu tidak mungkin. Ini baru permulaan. Qila yakin Fikri tak akan berubah. Ya, Qila yakin dan memang harus yakin. Kini, Qila dan Fikri sudah duduk di salah satu meja kantin. Sebelum mereka duduk, mereka sudah memesan makanan di stand kantin terlebih dahulu tadi. Mereka sengaja memesan berdua supaya terasa adil. Tidak ada yang harus mengantri sendiri dan tidak ada yang harus menunggu sendiri. Semuanya mereka lakukan bersama. "Gimana Qil, nyesel nggak sekolah disini?" tanya Fikri membuat Qila menoleh. Entah apa maksudnya Fikri bertanya seperti itu. Mungkin karena Fikri tau, Qila memilih sekolah ini karena gadis itu mengikuti kemana Fikri pergi. Jujur saja, Qila awalnya memiliki tujuan sekolah lain. Buka sekolah ini. Tapi, karena Fikri mendaftar di sekolah ini, mau tidak mau Qila mengurungkan niatnya untuk bersekolah di sekolah impiannya. Gadis itu lebih memilih mendaftar di sekolah yang sama dengan Fikri. Emang Qila adalah definisi bucin yang sesungguhnya. "Ya enggak lah, seru lagi sekolah disini. Kan ada lo juga," ujar Qila membuat Fikri tersenyum. "Apalagi juga, gue udah punya sahabat baru. Kaya Gladis sama Ghea." "Bagus kalo gitu, berarti lo seneng kan sekolah disini?" tanya Fikri sekali lagi. Qila mengangguk cepat. Tak lama setelah itu, satu nampan berisi dua nasi goreng juga dua es teh datang di meja mereka. Makanan yang mereka pesan sudah sampai. Mereka memutuskan untuk fokus ke makanan masing-masing dan menghentikan obrolannya. Setelah Fikri selesai, Fikri sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan Qila dengan alasan ingin mengerjakan tugas yang belum selesai. Alhasil, Qila harus melanjutkan makannya sendirian. Tanpa Fikri. Mungkin sebenarnya Qila sedikit kecewa, tapi Qila langsung menepis pemikiran itu karena Qila yakin, mungkin tugas Fikri memang sedang terburu-buru untuk di kumpulkan. Lagipula, untuk apa Fikri berbohong kepadanya kan? Qila meneguk habis es tehnya kemudian mengelap mulutnya dengan tissue yang tersedia di sana. Begitu selesai, Qila tak langsung beranjak dari kantin, melainkan gadis itu malah duduk santai sambil memandangi ramainya kantin saat istirahat. Mata Qila menelisik seluruh penjuru kantin. Hingga gadis itu menemukan sepasang mata yang membuatnya membeku seketika. Itu adalah mata milik kakak kelas yang menyandang status sebagai pacar dari sahabatnya, Gladis. "Sial! Kok gue jadi beku beneran ya ditatap sama pacarnya Gladis. Apa jangan-jangan, tuh orang emang kulkas berjalan. Sampe-sampe, hanya dengan ditatap aja gue bisa mati kutu kaya gini," gumam Qila menggerutu tidak jelas. Qila memutuskan kontak mata mereka. Gadis itu segera beranjak dari kantin setelah aksi tatap-tatapan antara dia dengan pacar sang sahabat. Bisa mati beku Qila kalo lama-lama di kantin dan terlalu hanyut dalam tatapan itu. Di sepanjang koridor menuju kelasnya. Qila masih terus menggerutu. "Gimana bisa ya tatapan tuh cowok bikin gue mati kutu tak berdaya. Seakan-akan tatapannya menghanyutkan jiwa dan raga." Qila menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menyingkirkan pikiran nyelenehnya. "Hust! Mikir apa sih lo Qil, menghanyutkan jiwa raga. Inget woi!" gadis itu semakin mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai di kelasnya. Bahaya kalau Qila sendirian, dia bisa saja kesambet di tengah jalan karena keseringan melamun mengingat kejadian tadi. "Dis, Ghe!" sapa Qila begitu sampai di depan kelasnya. Ternyata, mereka masih disana. "Eh Qil, udah selesai?" Basa-basi Ghea mendapatkan toyoran gratis dari Gladis. "Menurut lo?" sewotnya. Ghea menyengir konyol. "Basa-basi kali Dis." Gladis memutar bola matanya malas. Sedangkan Qila, gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Udah-udah, jangan pada debat deh," lerai Qila kemudian mendudukkan tubuhnya di sebelah Gladis. "Mendingan kalian makan aja sana." "Kaga deh, males banget sama hal berbau antrian gue," ujar Ghea mengibaskan rambutnya. "Lebay lo!" cibir Gladis. "Mmm, by the way. Gue ketemu cowok lo dikantin Dis, dia makan sendirian," ujar Qila membuat Ghea dan Gladis saling pandang. "Demi apa lo?!" ujar Gladis terkejut. "Tumbenan tuh bocah, biasanya juga paling males ke kantin." "Busung lapar kali Kak Arvin," ujar Ghea membuat Qila menoleh bingung. "Kak Arvin?" beo Qila menatap Ghea penuh tanda tanya. "Iya! Kakak kelas yang lo lihat itu." Qila ber-oh ria. "Eh enak aja lo bilang si Kak Arvin busung lapar. Orang cowok cakep kaya gitu dibilang busung lapar," celetuk Qila tanpa sadar. Ghea dan Gladis memandang Qila yang mengoceh dengan pandangan cengo. "Gimana-gimana Qil?" ujar Gladis meminta pengulangan. Gadis itu menatap Qila dengan tatapan yang seperti menahan kesal. Qila yang melihat tatapan Gladis padanya itu menjadi kikuk sendiri. "Eh-- enggak," gugup Qila, mata gadis itu melihat ke kiri dan ke kanan, menghindari mata Gladis. "Maksud gue baik kok, gue cuma puji pacar lo kali Dis," lanjutnya menampilkan deretan gigi ratanya. "Iya paham gue. Cuma gue heran aja tadi. Tumben-tumbenan lo puji cowok selain papa lo sama Fikri," balas Gladis menghendikkan bahunya seolah acuh. "Khilaf kali gue," kilah Qila kemudian segera berdiri dan berlalu masuk ke dalam kelasnya. Menghindari Ghea dan Gladis untuk sementara ini. Sementara Ghea dan Gladis, kedua gadis itu tertawa puas melihat raut gugup Qila. Gladis bahkan tak mempermasalahkan Qila yang memuji Arvin. Gladis memakluminya. Karena Arvin memang seperti yang Qila bilang. Cakep. "Gila, lucu banget muka Qila kalo lagi gugup kaya tadi," Ghea tertawa puas. Begitu juga Gladis. "Setuju! Lagian, aneh banget Qila. Takut banget kalo gue marah. Padahal kan, gue santai lagi." "Ya gimana. Gue yakin, waktu Qila bilang gitu. Dia jadi ngerasa nikung lo gitu, nusuk lo dari belakang." "Hahaha, sumpah! Ngakak banget gue kalo inget ekspresinya tadi," tawa Gladis semakin kencang. "Hust! Udah-udah, kasihan temen lo. Dia pasti lagi dirundung rasa bersalah," ujar Ghea yang di setujui Gladis. "Lagian Qila polos banget sih jadi cewek. Jadinya ya gitu, gampang banget ketipu," ujar Gladis setelah meredakan tawanya. "Tapi kasihan juga sama dia, Fikri kaya kasih harapan palsu ke Qila," lanjut Gladis mendadak sendu. "Kita harus bantu Qila keluar dari jurangnya Fikri nih Dis!" ujar Ghea menggebu. Gladis mengangguk setuju. "Iya! Harus Ghe, gimana pun caranya!" tukas Gladis yakin. "Mau kita mulai dari mana nih Dis?" tanya Ghea meminta saran Gladis. Gladis berpikir sejenak, gadis itu menaruh jari telunjuknya di dagu miliknya. "Gue ada ide!" ujarnya. Ghea tersentak, gadis itu segera menatap Gladis serius. Gladis terlihat membenarkan cara duduknya. "Kita mulai dari membuat Qila jatuh cinta sama orang lain," senyum mencurigakan terbit di bibir Gladis dan Ghea. Rencana yang sangat brilliant Gladis! "Tapi cowoknya siapa woi," ujar Ghea ketika ingat, mereka belum memiliki target yang ingin dijadikan tumbal. Ah, sebenarnya bukan tumbal. Hanya sebagai orang yang sanggup dan siap sedia membantu Qila keluar dari jurang obsesi terdalamnya. "Kita ada target Ghe. Lo lupa?" ujar Gladis yang langsung disambut dengan tepukan keras di paha gadis itu. "Oh iya!" pekiknya tak santai. "Ghea b*****t! Sakit anjir!" pekik Gladis ikut tak santai karena merasakan paha kanannya memanas efek dari tepukan keras dari Ghea. "Omongannya hei," dua suara dari dua manusia berbeda gender terdengar serempak. Gladis dan Ghea sontak menoleh ke belakang mereka. Disana, mereka dapat melihat dua manusia yang di duga sebagai tersangka sedang saling menatap satu sama lain. Dua orang itu adalah Qila dan Arvin. Mereka terlihat seperti sedang terkejut. Ya, mereka terkejut karena mereka bisa berkata serempak. Mungkin itu memang suatu hal yang biasa saja, wajar. Tapi untuk Qila dan Arvin. Itu adalah suatu hal yang sangat spesial. Spesial karena itu sangat jarang terjadi tentu saja. Apalagi Arvin adalah tipe orang yang jarang berbicara. Bagaimana bisa ketika Arvin baru mengeluarkan suaranya, perkataan itu bisa sama seperti dengan apa yang Qila katakan. Gladis dan Ghea saling melirik melihat Qila dan Arvin yang masih saja saling menatap satu sama lain. Ghea mengernyitkan alisnya menatap Gladis. "Gimana?" tanyanya tanpa suara. Gladis hanya menggeleng tanda tak tau. "Qila, Arvin," panggil Gladis pelan. Hening, mereka masih tak bergeming. Tatapan mereka seolah terkunci. Telinga mereka seolah tertutup rapat dan mulut mereka seolah tak bisa mengeluarkan suara. "Wah parah nih Dis," celetuk Ghea berbisik. Gladis lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Lucu juga melihat Qila yang biasanya pecicilan terdiam hanya karena manik matanya bertemu dengan manik mata Arvin. Arvin juga sama, lucu juga melihat cowok itu seolah kaku hanya karena menatap manik mata milik Qila. Mereka ini sebenarnya kenapa? Gladis heran, tentu saja. Tapi tak urung gadis itu senang. Gladis mengeluarkan ponselnya kemudian segera memotret Arvin dan Qila yang masih terdiam selagi ada kesempatan. Asik! Gladis dapat konten baru. Untuk yang bertanya, apakah Gladis tak cemburu? Tentu saja dengan sangat lantang Gladis menjawab tidak! Tak akan ada kata cemburu antara Gladis, Arvin dan Qila. Setelah mendapatkan beberapa foto, Gladis kembali memasukkan ponselnya kedalam saku seragam miliknya. Gadis itu kemudian beranjak berdiri. Kemudian, gadis itu mengulurkan tangannya dan bergerak di depan wajah Arvin dan Qila yang sedang asik tatap menatap. Disaat tangan Gladis melambai indah di depan wajah Arvin dan Qila, disaat itu pula mereka tersadar dan kemudian sama-sama mengalihkan tatapannya. Sial! Mereka larut dalam tatapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD