SE 1
Mega menunduk, dia memegang dadanya yang terasa sesak. Gadis itu lalu menghela napasnya dia mencoba berdiri dan mulai mengatur napasnya. "Mega tetap di sini, Mega enggak terima penolakan kalian. Bodoamat," ujar Mega.
Rinai yang ingin menarik tangan Mega langsung dihindari oleh anak itu. Mega menghindar, gadis itu menyimpan tangannya di belakang tubuhnya. Dia menatap ibunya dengan tatapan tegas, untuk pertama kalinya dia menatap ibunya seperti ini.
Mega menutup matanya, menahan amarahnya. Tubuhnya didorong paksa oleh Adhitya, membuat Mega meringis pelan lalu matanya mencari keberadaan Bagas, seolah-olah dirinya hanya bisa dibantu oleh Bagas sekarang. Karena keributan yang muncul karena Mega dan juga orang tuanya, terpaksa pihak sekolah membawa mereka untuk berbincang baik-baik di tempat yang seharusnya.
Daripada harus mengganggu pihak lain, dan membuat orang lain menjadi risih.
Mega berdiri di depan ruangan, gadis itu menunduk sambil bersandar di tembok. Karena merasa dirinya bingung untuk pulang atau tidak.
"Meg!" Suara itu membuat Mega menoleh dengan cepat.
Mega langsung berlari saat melihat Bagas yang sedang bersembunyi di tikungan tembok. "Bagas! Gue enggak mau pulang! Gue mau tetap di sini," ujar Mega dengan panik.
Bagas melihat ke sana kemari. "Udah enggak usah panik gitu, lo pergi ke mana pun yang lo tau deh, tapi jangan sampai nyasar!" ujar Bagas.
"Gue harus kemana?" Mega melongo mendengar apa yang dikatakan Bagas.
"Oh gue tau, lo ke ujung sana. Di sana ada goa kecil, tapi di situ aman. Gue udah cek tadi, buat tempat persembunyian sementara lo. Tapi hati-hati, di sana banyak lubang deh. Jangan sampai lo jatuh," ujar Bagas.
Bagas memberikan senter kepada Mega. "Ini udah hampir gelap, gue engga mau lo kenapa-kenapa. Kalau ditanya lo kemana gue pura-pura enggak tau aja," ujar Bagas.
Mega menarik senter itu. Gadis itu langsung berlari meninggalkan ruangan koridor, Bagas menghela napasnya pelan. Dia harus setenang mungkin dan tidak boleh panik apabila sedang ditanya jawab oleh orang tua Mega. Siap enggak siap, Bagas harus menanggung semua ini kan? Dia yang nekat membawa Mega sampai ke sini, maka dia juga harus bertanggung jawab atas semua ini.
Bagas hanya tidak mau Mega kenapa-kenapa dan terus ditahan-tahan oleh orang tuanya.
****
"Jadi bagaimana baiknya Pak, Bu? Untuk anak saya, saya tidak mengizinkan dia untuk datang ke sini? Dan kenapa bisa kalian membiarkan dia datang ke sini?" tanya Rinai.
"Kami sudah mendapatkan tanda tangan kalian, dan ini sudah disetujui oleh kalian."
Adhitiya menatap Rinai, begitupun sebaliknya. "Kami tidak pernah menandatangani apa pun."
Guru yang ada di depan mereka menggeleng. "Kami sudah mengecek dan formulir milik Savana Mega sudah disetujui oleh kedua orang tuanya, jadi tidak ada halangan untuk dia didatangkan kemari."
"Saya juga menyarankan untuk kalian jangan terlalu kasar untuk anak kalian, itu bisa berpengaruh dengan mental dan jiwa yang Mega miliki," ujar Guru yang termasuk bimbingan konseling itu.
Rinai mengangguk. Kalau soal ini, dia tak mau berdebat, dia hanya ingin Mega ikut pulang. Dia tak ingin anak gadisnya sampai terpengaruh di luar sini. "Saya ingin membawa anak saya pulang," ujar Adhitiya.
"Kenapa? Sebelumnya saya minta maaf bapak ibu, tapi saya melihat Mega bersikeras untuk ikut dalam studi banding ini, dia juga anaknya baik dan sopan. Di sini pasti dia akan tetap terjaga di bawah bimbingan kami," ujar guru tersebut.
Perdebatan kecil terjadi di antara guru dan orang tua murid, setelah akhirnya ada sebuah keputusan, Mega dibiarkan pulang. Adhitiya dan Rinai keluar dari ruangan, mereka mencari-cari keberadaan Mega.
"Mega di mana?" tanya Guru kepada salah satu anak OSIS.
"Mega ... kami belum melihatnya semenjak dia ke sini bu," jawab wakil ketua OSIS itu.
"Loh?" Mereka semua terkejut.
"Coba cari."
Rinai berdecak dengan lelah, anaknya itu pasti mengaburkan diri dan membuat semua orang jadi lelah sendiri. "Anak itu benar-benar beban," ujar Adhitiya.
Mendengar ucapan itu beberapa guru yang mendengarnya langsung bertanya-tanya.
"Kami arahkan semua anak murid untuk mencari keberadaan Mega. Mega bukan beban, dia anak emas yang selalu membanggakan," koreksi guru tersebut.
Berbeda halnya dengan Mega sekarang, ana itu berada di ujung goa, senter yang dia pegang tadi terjatuh karena terlalu buru-buru masuk ke dalam sini. Mega menghela napasnya pelan, sangat sulit berjalan di sini. Lembab dan berlubang, Mega sangat takut terjatuh.
Gadis itu duduk di pojokan, dia menetralkan jantungnya. Di sini juga gelap, namun jangan khawatir, Mega suka dengan kegelapan, dia suka kesunyian entah sejak kapan. Namun lama-kelamaan di sini juga rasanya damai, hanya sedikit kotor saja. Mega melirik ke sana kemari, melihat ada sarang laba-laba.
Ah mengerikan sebenarnya, namun bagaimana lagi? Kapan dia bisa keluar dari sini? Ah sialnya dia lupa membawa handphone untuk berkomunikasi dengan Bagas. Kenapa dirinya seceroboh ini, Mega tidak mungkin keluar sekarang. Takut jika orang tuanya tiba-tiba datang dan memaksa dirinya pulang, yang ada sesampainya dia di rumah, dia disiksa dan dimaki-maki terus menerus.
Dan dipukul, dikurung dan ... sulit sekali. Mengingat beberapa bekas luka yang Mega alami, fisik, batin dan hatinya terlalu terluka untuk terus dipendam. Mega lama-lama stress kalau ada di lingkungan keluarganya terlalu lama, berharap di sini dalam waktu kurang seminggu untuk self healing yang ada dia tetap diteror oleh orang tuanya.
Mereka senekat itu?
Kenapa mereka terlalu melarang Mega?
Mega berdiri, menyebabkan beberapa batu di dinding goa berjatuhan dan menimbulkan suara. Kakinya melangkah, tangannya memegang dinding goa agar seimbang, sepatunya terasa licin. Mega terdiam sebentar mendengar namanya disebut-sebut di luar, Mega membulatkan matanya. Dia mencoba tenang dan rileks.
"Oke Mega, jangan bersuara okey? Gue harus kemana ini?!" Mega melihat ke sana kemari, di sini terlalu gelap dan Mega tak sanggup untuk menjadikan matanya sebagai sumber penerangan.
Kriyuk ... kriyuk ....
Suara perutnya juga terdengar, Mega melangkah dan
Brak!
Mega terjatuh, di sebuah lubang. Mega merasakan tubuhnya seperti tak ada beban jatuh ke bawah, gadis itu menutup matanya, merasakan angin hingga ada air yang menyelimuti dirinya. Mega membuka matanya, hanya ada air dengan warna biru gelap. Mega menutup matanya, mencoba membangunkan dirinya dan berenang naik.
Gagal.
Mega tidak kuat, walau tidak ada arus di sini, namun Mega tak bisa mendapatkan ujung di bawah sumur ini. Mega berenang ke ujung, dan gagal.
Lubang ini terlalu besar!
Mega menutup matanya, buih-buih air keluar dari mulutnya, gadis itu benar-benar kehilangan kesadarannya, Mega membiarkan tubuhnya jatuh ke bawah, yang entah kedalamannya berapa.
Hingga tubuhnya serasa berada di tempat datar. Tak merasakan dingin lagi, melainkan sebuah kain tebal menyelimuti dirinya, namun ada yang aneh, kepalanya yang terasa berat. Mega yang masih menutup matanya, bisa melihat tembusan kelopak, ada lampu terang.
Mega membuka matanya.