IAB_BAB 18
Zaki terpanah jujur dengan kata-kata yang diucapkan oleh Agatha. "Gue jadi pengen habisin waktu di sini lebih lama," ujar Zaki.
"Lo bisa kapan aja ke sini ege! Tanpa gue juga bisa kok," ujar Agatha.
Hari sudah semakin sore, Zaki memutuskan untuk pulang. Semarah-marahnya dia dengan ibunya pasti sekarang ibunya sedang cemas memikirkan keadaan dirinya sekarang, Zaki masuk ke dalam namun suasana sepi sekali. Zaki langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya, dia mandi dan mengganti pakaiannya.
Selepas itu dia sholat magrib dan mencari-cari ibunya sedang ada di mana, dia melihat tasnya dan juga kertas yang dibawa oleh dirinya untuk ditanda tangani oleh ibunya, Zaki melihat kertas itu ternyata ibunya sudah menandatangani dan memberikan 500 ribu uang di atas sana.
Zaki menyimpannya di tasnya dan melihat keberadaan ibunya sekarang ada di mana, matanya beralih pada kamar. Ternyata ibunya sedang sibuk dengan laptopnya. Karena tak mau mengganggu, dia langsung masuk ke dapur dan makan lalu setelah itu dia masuk ke dalam kamar.
Mengerjakan semua tugas-tugasnya, dan tak lupa dia sering mengisi buku note hari ini sebagai pembelajaran di hari kemudian, Zaki sering menuliskan semua isi hatinya di buku ini.
"Makasih untuk hari ini, Agatha. Dan makasih untuk Mama yang hanya memberikan respon seperti ini tanpa adanya kesakitan seperti dahulu, Zaki harap Mama bisa selalu sehat."
Zaki menutup bukunya dan mulai mengerjakan tugasnya.
***
Hari yang sangat dia nanti-nantikan adalah saat di mana dirinya ingin belajar menaiki motor, Agatha dan Aluna serta Hiskia berancang-ancang sekarang untuk membantu mengarahkan Zaki untuk berani melakukan semua hal yang menantang.
"Gue enggak bisa bantu lo di belakang, karena lo udah tau naik motor jadi lo perlu mengendalikan motor besar ini. Maju, mundur ke samping," ujar Agatha.
"Gue susah buat jelasinnya, semoga lo bisa paham maksud gue kayak gimana. Perlu kestabilan untuk ini, makanya lo harus berhati-hati apalagi pemula kayak lo gini," ujar Agatha.
Zaki mulai memajukan motor itu tanpa menyalakan mesinnya sedikit berat, karena memang namanya juga motor gede.
"Nah karena lo udah bisa mengendalikannya ya, walaupun enggak sepenuhnya. Sekarang berfokus sama pandangan, bahu, siku, jemari dan juga pinggul dan kaki lo. Ikutin gue ya." Agatha mulai memperlihatkan cara yang tepat untuk mengendarai.
"Lo enggak harus tau hari ini kok, masih banyak waktu untuk belajar." Agatha tersenyum memberikan dukungan.
"Ya gue maunya cepet-cepet kalau lo sanggup ngajarin gue banyak hal ini. Sebenarnya sih tergantung guru," ujar Zaki.
"Eh eh, sebenarnya itu tergantung anak muridnya mau belajar apa enggak, gue mah bisa ajarin lo 24 jam kalau lo mau mah," ujarnya.
Hiskia dan Aluna hanya menyimak percakapan mereka, karena Aluna tak tahu menahu soal motor dan Hiskia lebih memilih memakai motor biasa daripada motor besar seperti itu, mungkin lain kali saja. Walau di rumahnya sudah ada motor besar seperti itu, Hiskia tetap tidak mau menaikinya.
Sekali dirinya menaikinya waktu itu terjatuh, dan berakhir masuk rumah sakit, kaki hampir patah waktu itu.
"Nah untuk selanjutnya lo harus bisa mengontrol pengereman dan juga gasnya, jangan asal-asalan. Tapi kalau yang ini mah hanya butuh keseimbangan dan juga kestabilan dari postur tubuh lo ya, secara lo udah tau naik motor pasti untuk gas atau pengereman lo udah bisa."
Agatha sibuk mengajari Zaki, hingga lelaki itu perlahan bisa menaiki motor itu.
"Kalau lo jatuh, gunain lutut sengaja pengungkit dan punggung sebagai tumpuan untuk mendorong mundur motor agar bisa kembali berdiri. Dan terakhir sih pengaman, lo udah paham kan?" tanya Agatha.
Zaki mengangguk dan mulai melajukan motornya dengan kecepatan di bawah rata-rata mengelilingi lapangan tanpa rumput itu, Aluna bersorak gembira melihatnya.
Agatha bertepuk tangan, Hiskia tersenyum. "Cepet juga ya belajarnya, bagusnya kayak gini nih. Lo harus bisa yakin sama diri lo sendiri jangan mikirin orang lain yang ngehujat lo!" Agatha menepuk pelan pundak Zaki.
"Congrats bro!" Hiskia bertepuk tangan.
"Selamat ya!" Aluna memberikan ucapan.
"Karena berhubung lo udah bisa, gue kasih deh ini motor buat lo. Gue udah punya motor lainnya sih," ujar Agatha membuat Zaki melotot dan menggeleng.
"Enggak ih, gue nanti beli sendiri aja."
"Udah pasti nyokap lo enggak bakal izinin, kalau pun lo enggak mau. Minimal lo pinjam aja dulu, sampai lo mahir naik motornya. Nanti lo beli yang baru rusak gara-gara belajar, percuma!" ujar Agatha.
"Wih, emang lo punya berapa motor?" tanya Hiskia.
"Em, entar gue cek."
"a***y, banyak bener sampai mau dicek," ujar Hiskia membuat Agatha dan lainnya tertawa.
"Enggak lah, gue cuman punya beberapa doang dan itu semua kayaknya jarang gue gunain dan perlu diservis sebelum digunakan. Dan buat yang hitam ini santai aja, aman." Agatha mengusap motornya.
"Lo kalau ke sekolah naik apa sih?" tanya Zaki.
"Gue? Kalian enggak tau?" tanya Agatha balik membuat mereka menggeleng.
"Gue naik motor gini juga, cuman gue parkir sedikit jauh dari sekolah. Jadi mereka enggak tau itu motor gue apa bukan, besok-besok lo naik motor ini ya," ujar Agatha.
"Gue ragu anjir, entar gue dibilang sok-sok apa gimana. Gue tunggu Hiskia mau baru gue juga mau," ujar Zaki.
"Nunggu gue lama, gue enggak mau naik itu trauma gue," ujar Hiskia.
"Gue naik motor matic aja udah aman sampai lokasi tujuan."
"Trauma jangan dibawa sampai mati, kasian tuh Aluna pengen diboncengin sama lo," ujar Agatha menyenggol bahu Aluna.
Aluna sejak tadi hanya diam dan tersenyum, saja. Bibirnya pucat. Dan ini sering sekali terjadi, tubuhnya hampir ambruk untuk saja ada Hiskia yang menolong.
"Tuh kan capek lagi, lo harusnya duduk aja jangan berdiri terus," ujar Agatha memberikan air.
"Kayaknya sakit lo parah deh, soalnya tadi baru selesai istirahat. Capek lagi? Mending cek ke dokter aja gimana?" tanya Hiskia.
"Em, enggak usah aku kuat kok. Cuman laper aja, kita makan yuk," ajaknya.
Semuanya langsung mengangguk dan pergi ke warung makan terdekat dari sini, saat hendak makan. Sebuah klakson berbunyi, membuat mereka menoleh.
Kaca mobil terbuka. "Papa?" beo Aluna.
"Kamu naik cepet, jam segini masih kelayapan sana sini. Kamu itu cewek," ujarnya dengan bentakan membuat Aluna tersentak lalu buru-buru naik ke mobil tanpa ucapan selamat tinggal untuk temannya.
Selepas kepergian mobil itu, mereka semua langsung menatap satu sama lain. Lalu menghela napasnya pelan. "Kasian ya, gitu aja pake dibentak. Pasti tertekan banget tinggal bareng orang tuanya."
"Ya gimana lagi ya? Kita enggak bisa ngapa-ngapain sekarang mah, cuman bisa dukung dan bantu dia. Lagian kita nggak tau apa-apa soal keluarganya," ujar Agatha.
***
Pagi kembali datang, Zaki kali ini berani membawa motor ke sekolah tentunya membuat kaum hawa langsung meledak heboh dengan tingkah Zaki yang makin hari berubah drastis.
Agatha tersenyum, semua temannya senang karena Zaki berani akan hal ini.