Agatha mengajak keduanya untuk ke lapangan basket, di sini sunyi karena hanya malam saja orang pada rame di sini. Karena rata-rata anak SMA pulang sore pastinya capek dan enggak sempat ke sini. Dan memutuskan diri untuk datang malam harinya, kebiasaan banyak orang untuk berolahraga saat malam hari bukan?
"Nah pertama-tama gue tantang kalian buat masukin bola ini ke ring," ujar Agatha sambil memantul-mantulkan bola.
"Perlu kalian tahu bahwa, SMA yang rata-rata diminati para cewek-cewek adalah bidang eskul basket! Kalian harus punya skill yang bagus dan bisa memikat orang yang menonton," ujar Agatha.
Bola itu dia lemparkan kepada Hiskia, dengan cekatan pelan dia menangkapnya. "Coba ayo, sampai masuk ke ring ya." Agatha langsung menepi memberikan ruang kepada Hiskia untuk memulai aksinya.
Hiskia menghela napasnya pelan, dia mulai
mendribble bola dengan langkah pelan melompat saat sudah hampir sampai ke ring dan hasilnya zonk. Bola itu tidak masuk tapi malah melambung melewati ring.
"Coba lagi!" pinta Agatha.
Hiskia mencoba untuk kedua kali namun hasilnya tetap sama. "Hm yaudah gimana kalau lo lemparnya bebas aja kek enggak ada beban gitu," ujar Agatha lalu menghampiri Hiskia.
Mulai memberikan arahan, mulai dari posisi dan tatapan ke arah ring dan juga target dimasukkannya bola. Hingga akhirnya masuk. Hiskia tersenyum dan bertos ria dengan Agatha.
Zakiya mengambil giliran. "Gue ya." Dengan semangatnya dia mengambil bola itu dan mulai melakukan dribbel hingga melompat dan melakukan tembakan dan alhasil masuk ke dalam ring membuat keduanya melongo tidak percaya.
"Wah keberuntungan coba lagi coba," ujar Agatha merasa tidak puas.
Zaki tertawa. Lalu mengambil bola dan melakukan hal yang sama, jangan tanya kenapa dia bisa melakukan hal ini. Almarhum papanya dulu sering mengajaknya untuk bermain basket, hingga bakatnya ini tersalurkan sayangnya semuanya tidak berjalan lancar saat insiden kecelakaan sudah terjadi yang menewaskan saudari perempuan dan ayahnya.
Sedih.
"Sejak kapan? Gue kenal sama lo dari jaman SMP aja enggak tau kalau lo punya bakat main basket," ujar Hiskia tidak percaya.
Zaki tertawa dengan tawa yang halus membuat Hiskia dan Agatha kembali kecewa padahal sikap lelakinya hampir saja kembali namun lagi-lagi hancur. "Ya kebetulan aja kali ya," ujarnya sambil menggaruk-garuk tengkuknya saat melihat kedua sahabatnya menatapnya dengan tatapan malas.
"Bagus dong. Gue yakin sih semuanya bisa berubah 100% dengan apa yang kita harapkan kalau orangnya emang mau berubah," ujar Agatha dengan sedikit sindiran kepada Zaki.
Hiskia mencoba lagi, hingga dirinya ketagihan sendiri. Sedangkan Agatha dan Ramdan hanya memandangi dari tempat duduk saja. Hiskia itu salah satu anak yang sangat ambisius dan terus berusaha untuk melakukan apa yang menurutnya nyaman dilakukan.
***
Sore itu tepat jam 5 sore masing-masing dari mereka sudah pulang ke rumah. Zakiya dengan gaya andalannya untuk membahagiakan nyokapnya melakukan aksinya. "SEMANGAT!" teriaknya saat sampai di depan pintu rumah.
"ASSALAMUALAIKUM, ZAKIYA PULANG!" ujarnya dengan nada yang sedikit keras.
Ibunya yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh dan tersenyum. Zakiya datang dan memeluk ibunya. "Kamu kok pulangnya lama banget?" tanya Ratna.
"Kamu keringetan lagi, abis ngapain?" tanya Ratna melepas pelukannya.
"Em, tadi Zakiya lagi olahraga dikit, Ma. Aku juga udah chat mama cuman mama belum bales," ujar Zakiya.
"Ish, olahraga apa coba? Nanti kulit kamu gimana? Cewek bagusnya olahraga pagi, atau malem. Jangan sore deh," ujar Ratna.
"Nanti kamu hitam loh, kulit cewek itu sensitif. Mama pernah ngalamin itu sendiri loh, jangan sampai nyesel di kemudian hari kamu," ujar Ratna.
Zaki hanya menatap ibunya dengan tatapan prihatin, ada apa ya? Kenapa ibunya begitu aneh. Padahal jelas-jelas kalau dirinya ini laki-laki apakah kurang jelas di pandangan orang-orang? Aneh sekali epribadehhh!
"Yaudah maafin, sekali-kali aja kok. Yaudah Zakiya mau mandi dulu ya," ujarnya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Selepas selesai dengan rutinitasnya. Zaki kemudian mengerjakan semua tugas-tugasnya, kini dirinya tak lagi memakai wig rambut pendek seperti dora. Dia melihat wajahnya sekilas, dengan rambut slicked back jujur ini rambut Zaki lumayan tebal dan bermodelan ke belakang, sangat elegan.
Dia terus fokus ke dalam pembelajaran yang sedang dia kerjakan sambil menghapalkan beberapa rumus fisika karena kebetulan besok ulangan harian pelajaran fisika. Zaki cukup unggul dalam bidang akademik, namun kadang juga tidak tergantung dirinya dalam belajar.
Zaki menyimpan bukunya dengan rapih, mematikan lampunya dan menyalakan bagian yang redup dan menidurkan tubuhnya. Dia menjadikan tangannya sebagai bantal sambil menatap langit-langit kamar.
"Sebenarnya gue bisa, cuman terhalang."
Kapan sih semuanya bisa normal? Kenapa susah sekali untuk dirinya bersikap biasa saja untuk semua ini. Dalam pikirannya terus berkelana entah kemana yang pastinya dirinya harus bisa menahan sampai waktunya benar-benar tiba, Zaki yakin itu akan tiba.
***
Pagi yang biasa dengan senyum yang sama seperti biasanya. Zaki keluar tanpa wig dora yang sering dia kenakan, dia ingin sesekali melihat respon ibunya.
Ratna menoleh dan tersenyum. "Ini rambutnya basah makanya kayak gitu ya?" tanya Ratna.
Sungguh, Zaki merasa tidak tega apalagi melihat ibunya sepolos ini? Kenapa Ya Allah ... Zaki bingung, dan dia hanya membalas dengan anggukan sambil tersenyum saja.
"Bagus kok, cuman ya jangan sering-sering nanti orang bilang kamu cowok lagi."
Bagaikan disambar sebuah petir, entah darimana asalnya namun Zaki percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja jika dirinya biasa saja. "Iya, Ma. Ini lagian cuman sekedar basah doang kok makanya rambutnya jadi kayak gitu," ujar Zaki.
"Tapi, Ma. Kalau Zakiya sukanya rambut kayak gini emang salah ya?" tanyanya dengan hati-hati.
Ratna memberhentikan aksi makanannya. "Kenapa, kok suka modelan gini? Bagusnya itu kan panjang. Kamu enggak ada niatan buat manjangin rambut kamu apa gimana?" tanya Ratna.
Ah gila sekali, apa yang akan orang katakan. Sungguh Zaki ingin memperjelas semuanya bagiamana caranya? Ah susah sekali jika dalam keadaan mental dan fisik ibunya yang seperti ini. Siapa yang akan menjelaskan semuanya? Tentang dirinya bahwa dia ini laki-laki yang sesungguhnya bukan fake atau pun banci yang sering diucapkan oleh teman-teman sekolahnya. Kapan mereka sadar bahwa Zaki ingin sekali menjadi dirinya seperti biasa tanpa adanya sakit hati dari satu pihak atau dua pihak.
Sakit rasanya jika cuman dia saja yang harus berkorban untuk semua ini padahal, dia juga ingin sebuah pengorbanan untuk dirinya sedikit saja? Apakah benar-benar ada?
Mungkin. Dan semoga saja.
"Zakiya hanya ingin hal baru aja, Ma. Enggak lebih kok, kalau emang Mama enggak suka sama ide atau kesukaan dari Zakiya, enggak apa-apa kok." Zaki hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.
Ratna menatap anaknya dengan tatapan heran.