Senggol Labrak

1357 Words
Meskipun kami berdua datang di waktu yang bersamaan. Nyatanya mimik mukaku dan Aya sangatlah berbeda. Kami tidak telat. Bahkan kami sangat tepat waktu. Jam 8 kurang dua menit aku dan dia sudah duduk di bangku masing-masing. Ini semua karena kuis di mata kuliah yang diampu pak Bima, dosen termuda di sini tetapi juga terbanyak taktiknya agar bisa mengetahui mahasiswanya itu mengerjakan dengan jujur atau tidak saat kuis seperti sekarang. Jika terdapat dua anak dengan nilai ulangan yang sama persis apalagi mereka duduk berdampingan. Maka tamat sudah riwayat murid itu. Keduanya akan diintrogasi dengan sangat detail. Semua pertanyaan mengenai bab yang dijadikan kuis ketika itu pasti akan dilontarkan dengan versi yang lebih sulit. Kalau kata yang lain,sih, 'Pak Bima itu ganteng, tapi sayang kelakuannya buat pengen doain jelek mulu.'. “Selamat pagi semuanya. Tas ditaruh depan. Hanya ada alat tulis di atas meja. Di samping kertas jawaban diberi nomer meja masing masing. Nomer meja satu dimulai dari sella. Dua Yasmin. Tiga Rui. Empat Naomi dan seterusnya. Alurnya seperti ular ya,” Jelas pak Bima dengan sangat detail bahkan jari tangannya memberikan gesture tubuh ular yang meliuk-liuk. Umurnya yang masih muda membuat tidak heran jika beliau hafal nam-nama kami. “Hasil kuis kali ini akan saya bagikan hari ini.” Perkataan yang cukup singkat tapi mendebarkan jantung pendengar. Cepet banget bagi hasilnya. Eh tapi kenapa tiba-tiba aku jadi punya rencana untuk Yasmin ya. Sepertinya, bermain-main sedikit dengan dia tidak masalah. Aku harus menepati janji dengan Raham dong, untuk memberi sedikit pelajaran kepada pujaan hatinya yang jelek itu. *** Setelah memastikan bahwa semua jawabanku memuaskan ku serahkan selembar kertas itu pada pak Raham yang tengah sibuk dengan laptopnya. “Ini pak lembar jawaban dan lembar soalnya” “Seperti biasa ya. Kamu kalau mengerjakan itu pasti sangat cepat. Saya sampai heran. Ya sudah kamu keluar dulu.” Seorang Ruina mengerjakan kuis dengan sangat cepat bukanlah hal yang baru lagi bagi mahasiwa yang sering mendapatkan kelas denganku. Karena sudah dipersilahkan untuk meninggalkan kelas aku pun melangkah keluar. Berhubung masih ada 34 menit sebelum kelas berikutnya. Aku menggiring diri menuju ke tempat incaran warga kampus yang selalu ramai saat sudah waktunya, kantin. Pandanganku jatuh kepada lelaki jangkung dengan rambut hitam legam tengah duduk di gazebo depan kantin bersama tiga temanya. Lelaki itu adalah Bhanu. Yang artinya jika ada dia pasti ada Raham. “kesempatan yang tepat untuk PDKT.” Langsung saja melipir. “Hei Beib. Kok kamu ada di sini?” Alih-alih Raham, ini malah si kunyit asem yang jawab, “Ngapain sih lo disini. Ngerusak suasana aja. Males banget gue lihat muka murahan lo itu.” “Gue enggak ngomong sama lo. Maaf-maaf nih ya.” “Raham...” Bukan, itu bukan suara gue. Suara itu dari balik punggung kami. “Kenapa dia harus muncul sih,” batinku. Kenapa si Yasmin bin lemot itu udah selesai ngerjain kuis. Dia keluar selang beberapa menit dari aku. Terhitung cukup sering aku memilki kelas yang sama dengan Yasmin selama menjadi mahasiswa ilmu sejarah, tapi baru kali ini aku melihatnya mengerjakan kuis dengan sangat cepat. Jangan-jangan dia udah mulai nguasain matkul sejarah indonesia. Ini makin enggak bisa dibiarain. Eh, tapi itu artinya, rencana yang kupersiapkan tadi tingkat keberhasilannya 70 persen dong. “Iya ada apa Yas?.” Sialan, suara Raham terdengar sangat lembut ketika menjawab sapaan Yasmin. “Lo minggir sana. Yasmin mau duduk disini. Gue enggak ada perlu sama lo.” Double kill. Udah dicuekin, dan sekarang malah diusir. “Enggak bisa gitu dong Raham. Yang duduk duluan disini itu aku. Bukan si caper.” “Sadar diri woi. Bisa-bisanya lo ngatain Yasmin caper. Lo bahkan lebih dari caper,” Sahut salah satu dari mereka yang bernama Aji. “Aku enggak tau kalau ada Rui disini. Maaf Rui. Kalau gitu aku cari tempat duduk yang lain aja.” Alus bener tuh omongan si Yasmin. Aku jadi makin pengen nyakar wajah polosnya. “Udah-udah. Ayo Rui ikut gue. Gue traktir di kantin.” Tanpa persetujuan. Bhanu narik tanganku buat pergi dari gerombolan tadi. “Heh. ngapain nyeret gue sih. Lo tuh ngeselin banget. Jelas jelas tadi ada si Yasmin. Kenapa lo enggak seret dia aja hah? ajak pergi yang jauh sono.ngapain malah nyeret gue?” tanyaku dengan napas naik turun setelah melepaskan cengkraman tangannya. “Dia enggak mau, ya masa gue paksa?” Jelas jelas tadi dia belum menawari Yasmin untuk ke kantin sama sekali. “Lo tuh kurang peka pakek banget tau enggak sih? Lo sama temen-temen lo tuh sama-sama nyebelin. Arghhh.” Dengan berapai-api aku meninggalkan Bhanu dan bergegas menjauh dari dia. kesal menyelimuti hatiku dengan sangat rapi. “Kenapa semua temen deket Raham pada mihak Yasmin hah?. Dia pake pelet apa coba. Sampe-sampe semuanya ngerestuin dia sama Raham. Si Bhanu laknat itu juga sama aja. Bisa-bisanya dia nyeret gue supaya enggak nyakar si Yasmin. Semuanya sama aja. Gue sebel sama mereka. Pokoknya rencana yang udah gue susun tadi harus berjalan supaya Yasmin kapok,” suaraku dalam hati. Tanpa angin dan hujan tiba-tiba saja bajuku basah kuyup di bagian d**a. Disusul dengan bagian belakang tubuh yang menghantam lantai cukup keras hingga menimbulkan suara. “Asem…..berani banget lo nabrak gue hah!” Udah dongkol another level eh sekarang malah ada yang nabrak. Apes bener dah. Tanpa babibu langsung saja ku jambak rambut berkucir kuda, milik seorang perempuan yang telah membuatku basah sekaligus terjerembab dilembutnya lantai. Tidak ku pedulikan rintihannya. Biar dia rasakan akibatnya berani membuatku emosi. Sekalian ku lampiaskan semua rasa sebalku kepada dia. “Lo tuh kalau jalan pakai apa sih? Pakai mata woi. Mata lo kemana hah” “Ma-ma-maaf a-aku enggak sengaja” Rasanya sudah sangat lama aku tidak melakukan perundungan seperti ini. Seingatku terakhir kali aku membuat kericuhan, lusa deh. Itu pun aku melabraknya dengan cara biasa. Cuma tampar pipi kakan kiri. Jadi, mungkin ini kesempatanku untuk melakukan adegan berbahaya lagi. Tangan kanan yang menganggur ku gunakan untuk mencengkram dagunya tanpa peduli bahwa kuku hasil polesan salah satu salon ternama itu menggores kulitnya.. “Lo tahu siapa gue hah?” Anggukan darinya membuatku tersenyum puas. “Sekarang gue mau lo, bersihin tumpahan minuman yang ada dilantai itu pakai telapak tangan. cepet!” “Tapi itu kotor.” Mendengar penolakan keluar dari mulut itu. Tak segan ku hempaskan wajahnya kesamping dan menamparnya menggunakan tangan kanan. “Gue enggak nerima penolakkan.” Kesabaran yang kian menipis mendorong tanganku untuk mendorong kepala itu kebawah. Membuatnya mau tidak mau harus besimpuh dilantai dekat kakiku. Baru saja tangan itu menjulur hendak memegang lantai, tapi sialnya Entah datang darimana tiba-tiba aja suara dan tangan Yasmin datang sebagai penolong korbanku.“ Hai cukup. Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku mohon Rui maafkan dia. Dia tidak sengaja. Kenapa kamu tega menghukum dia seperti ini” Melihat Yasmin memelas seperti itu. Membuatku mengetatkan kerah seragamnya bahkan membuatnya tercekik oleh kerah tersebut. “lo siapa hah? berani banget ikut campur urusan gue. Lo tuh cuman cewek lemah. Enggak pantes kalau mau jadi perisai buat orang lain. Mending buat diri lo sendiri aja deh. Jangan sok jagoan” “RUI! Lepasin tangan lo sekarang!” perintah Raham dengan nada yang amat tegas. Bahkan tangannya sudah berhasil melepaskan cekikanku dari leher Yasmin. Kenapa bisa ada Raham? Padahal sedikit lagi pasti si Yasmin bakalan pingsan. “Gue udah pernah peringatin sama lo buat enggak macem-macem sama Yasmin. Tapi sekarang dengan mata kepala gue sendiri. Kelakuan lo ini terlihat sangat jelas. Dan semakin mendeskripsikan bahwa lo itu perempuan murahan tanpa tau etika sama sekali. Cih, menjijikkan.” Malu, marah, kecewa, dan sedih semua bercampur menjadi satu. Mulut pedas itu memang sering mencelaku. Tapi, tidak dihadapan banyak orang. Tanpa perlu meminta maaf serta rasa dongkol yang semakin menumpuk aku berjalan keluar dari kegaduhan yang ku buat. Di sepanjang jalan yang belum jauh dari TKP, banyak sekali aku mendengar desas-desus orang sekitar yang membicarakan, “Cantik sih tapi jahat banget.” “Buat apa cantik kalau enggak punya etika.” “Yang kayak gitu kok dijadiin ratu Cakrabrata.” “Enggak ada pantes-pantesnya kalau jadi pacarnya Raham” “Gue sih lebih dukung Raham sama Yasmin daripada sama dia” “DIEM!! KALIAN SEMUA BANYAK OMONG,” teriakku yang sontak membuat keheningan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD