Sarapan sudah matang. Irene menyajikan di meja makan. sarapan yang sedarhana, tumis kangkung, tempe goreng dan telur ceplok.
"Sarapan dah siap!" Teriak Jeni.
Juna, Gery dan Brian mendatangi meja makan yang sudah penuh dengan sayur dan lauk matang.
"Wow, kamu yang masak, Jen?" Tanya Gery.
"Tentu bukan, hehe. Irene sama Kak Sya yang masak." Jawab Jeni.
"Sembilan puluh persen Irene sih, Sasya cuma bantuin." Kata Sasya.
"Terus kamu ngapain, Jen?" Tanya Brian pada Jeni.
"Bantu doa, hahaha." Jawab Jeni sambil tertawa. Sasya dan Irene ikut tertawa mendengar jawaban Jeni.
"Maaf ya sarapannya kesiangan, yang masak masih amatir." Kata Irene.
Juna mengambil nasi dan sayur serta lauk dari meja. Dia mulai memakannya.
"Enak kok. Kamu pintar masak, Ren." Puji Juna. Pipi Irene langsung bersemu.
Mereka lalu sarapan bersama di meja makan.
"Betewe, si Riki kemana?" Tanya Brian.
"Paling juga lagi ngurusin tuan putrinya." Jawab Gery sambil memasukkan nasi ke mulutnya.
"Lagi nganterin Sheila cari baju buat ganti. Kemarin dia kan nggak bawa baju ganti. "Jawab Juna.
"Tuh kan bener." Kata Gery sinis.
"Lagian, dia kan tahu dari awal mau nginep, dia sendiri nggak persiapan, masih juga nekat ikut." Kata Brian sewot.
"Ya sudah biarin sih, dianya pengen ikut liburan. Lagian kalau nggak dianterin kasihan juga kan dia nggak bisa ganti baju." Juna menengahkan.
"Kan kasihan si Riki, jadi repot ngurusin dia." Kata Brian lagi.
"Bukannya Sheila memang pacarnya Kak Riki ya? Jadi ya memang udah tanggung jawabnya Kak Riki dong buat nemenin dia beli baju." Kata Jeni.
"Siapa? Sheila? Menurut gue sih bukan pacar ya, lebih tepatnya penguntit. Soalnya selalu ngikutin Riki kemanapun Riki pergi." Jawa Gery.
"Jadi Kak Riki nggak suka sama Kak Sheila?" Tanya Irene.
"Ya nggak lah, sebal iya. Dia tuh ganggu banget." Jawab Brian.
Irene menendang kaki Jeni yang duduk di sebelahnya. Jeni menatap Irene. Irene mengedipkan sebelah matanya. Jeni lalu tersenyum lebar. Sasya tersenyum melihat kedua adiknya itu saling bicara tanpa kata. Hanya menggunakan chemistry dan bahasa batin.
Siang menuju sore, cuaca mendung tidak ada panas. Setelah mandi Sasya, Jeni dan Irene berjalan-berjalan di sekitar villa. Mereka menghirup udara sejuk yang selama ini tidak pernah mereka rasakan saat di kota.
Irene mengusap-usap kedua lengannya.
"Dingin ya." Kata Irene.
"Kamu nggak bawa jaket?" Tanya Jeni.
"Bawa kok, tungguin Irene ya, Irene ambil jaket dulu." Kata Irene.
"Iya sana ambil dulu." Kata Sasya.
Irene lalu berlari kembali ke villa untuk mengambil jaket. Di depan pagar dia bertemu Juna yang baru saja mau menyusul mereka.
"Kamu mau kemana? Kok balik lagi?" Tanya Juna.
"Mau ambil jaket, Bang. Dingin." Jawab Irene.
Saat Irene mau masuk ke villa, Juna menahan tangan Irene.
"Pakai jaket aku aja." Kata Juna, lalu dia melepas jaketnya.
"Eh, nggak usah, Bang. Irene ambil punya Irene aja."
"Kelamaan. Uda pakai ini aja." Kata Juna lalu memakaikannya pada Irene. Irene tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Juna menunduk saat memasang resleting jaketnya. Lalu menarik ke atas agar jaketnya tetutup sempurna di tubuh Irene. Saat resleting sudah sampai leher Irene, Juna menatap Irene. Irene yang sedang menatap Juna langsung memalingkan wajahnya. Juna tersenyum.
Saat itu Irene benar-benar tidak bisa bernafas. Entah karena jaket Juna atau wajah Juna yang tepat berada di hadapannya.
Mereka lalu berjalan bersama menysul Sasya dan Jeni.
Juna dan adik-adiknya saat ini sudah berada di puncak bukit yang luas, dengan beberapa pohon rindang dan daun-daun yang membuat suasana semakin sejuk. Di ujung bukit, mereka bisa melihat pedesaan yang terletak di bawah puncak. Sangat indah. Jeni mengambil beberapa foto pemandangan disana dengan kamera ponselnya. Lalu dia meminta Sasya untuk memoto dirinya di atas bukit itu. Mereka lalu berswa foto sambil bercanda dan tertawa.
Lalu saat Sasya menoleh ke belakang, dia melihat Irene dan Juna yang sedang berdiri bersebelahan. Irene menatap takjub pemandangan di depannya. Sedangkan Juna menatap Irene tanpa berkedip. Sasya dengan cepat mengarahkan kameranya untuk memoto Irene dan Abangnya itu. Lalu dia menatap hasil foto di layar ponselnya. Sasya tersenyum melihatnya.
Jeni dan Irene berjalan bergandengan saat perjalanan kembali ke villa. Sasya dan Juna berjalan di belakang mereka.
"Kalau Abang diam aja, dia nggak akan tahu, Bang." Kata Sasya. Juna menatap Sasya bingung.
"Irene." Kata Sasya lagi.
"Kenapa dengan Irene?" Tanya Juna.
"Abang nggak usah bohong deh, Sasya tahu kok.* Kata Sasya.
"Bohong apa?"
Sasya mengambil ponsel dari sakunya, membuka galeri poto, lalu menunjukkan pada Juna.
"Kamu..." Juna terkejut.
"Hehehe, maaf Sasya ngambil poto Abang diam-diam." Kata Sasya sambil meringis.
Juna terdiam, lalu mengambil nafas panjang.
"Abang nggak mau ganggu dia. Biar dia fokus dengan kelulusannya dulu." Kata Juna pelan.
"Jadi Abang mau bilang ke dia kalau dia udah lulus?"
"Bilang apa?"
"Perasaan Abang."
Juna terdiam lagi.
"Entahlah." Jawab Juna lagi dengan lirih.
"Semangat dong, Bang. Cinta itu harus diperjuangkan." Kata Sasya sambil memijit pundak Abangnya. Tentu saja sambil berjinjit karena tubuh Juna yang menjulang tinggi.
Dalam perjalanan mereka bertemu mobil Riki yang baru saja pulang dengan Sheila. Riki menghentikan mobilnya.
"Jun, ayo bareng naik sampai villa." Ajak Riki yang teriak dari dalam mobil, karena Juna dan adik-adiknya berada di seberang jalan.
"Iya." Lalu Juna menggiring ketiga adiknya untuk menyeberang ke mobil Riki.
"Bang, Sasya jalan saja deh, masih mau menikmati udara sejuk ini." Kata Sasya.
"Yakin jalan sendiri?" Tanya Juna meyakinkan.
"Iya, lagian mobilnya juga nggak cukup kan?"
"Ya sudah kalau gitu, hati-hati ya. Langsung pulang sudah mau gelap."
"Iya, Bang."
Lalu Juna, Jeni dan Irene memasuki mobil Riki, dan Riki langsung melajukan mobilnya lagi.
Sampai di villa, Sheila masuk dengan membawa banyak tas belanjaan.
"Aku ke kamar dulu ya, sayang, mau ganti baju." Kata Sheila dengan semangat.
"Hm." Jawab Riki, lalu berjalan ke arah kolam renang, dia menemukan Gery yang sedang duduk memainkan ponselnya di bangku pinggir kolam renang, dan Brian yang sedang berenang. Riki duduk di sebelah Gery.
Juna, Jeni dan juga Irene juga ikut bergabung
"Sudah ngantar tuan putrinya?" Tanya Gery yang sudah meletakkan ponselnya di meja.
"Gitu deh." Jawab Riki seadanya.
"Oya, Rik, gue lihat ada peralatan barbekyu di samping. Bisa dipake?" Tanya Brian yang baru saja keluar dari kolam renang, dan sedang membalutkan handuk di tubuh bawahnya, menyisakan dadanya yang masih dibiarkan terbuka.
Jeni dan Irene yang melihat Brian telanjang d**a langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Pakai baju lo, Bri. Adik-adik gue masih dibawah umur." Kata Juna yang melihat Jeni dan Irene sedang salah tingkah gara-gara Brian.
Brian langsung mengambil bajunya dan memakainya.
"Bisa dipakai kok, gue baru beli. Tadi gue juga beli daging dan lain-lain, jadi nanti malam kita bisa barbekyuan." Jawab Riki.
"Asiiikk." Jeni dan Irene bersorak.
"Oya, Jeni sama Irene bisa tolong siapin bahan-bahan yang aku beli tadi, ada di dapur." Kata Riki lagi.
"Siap, Kak." Jeni dan Irene langsung beranjak ke dapur.
Sementara Gery dan Juna menyiapkan alatnya, dan Brian ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.