Pekerjaan Sampingan Baru

753 Words
AKU PASTI BISA TANPAMU Part 9 Mencoba Pekerjaan Sampingan Baru Tidak, aku tidak boleh lemah. Kehamilan ini adalah anugerah dari Allah, dan ini yang sudah kuharapkan sejak beberapa tahun yang lalu, tak akan aku menyia-nyiakan pemberian Allah ini. Dan aku pun tak akan kembali lagi pada Mas Johan, karena aku pasti bisa membesarkan anak ini tanpa dia. Kupikir, jika aku kembali padanya, aku adalah seoarang wanita yang bodoh. Jika aku kembali, pasti mereka akan menertawakanku, dan juga akan lebih menyakitiku, karena perbuatanku kemarin. Tak perlulah menyakiti diri terus -menerus, yang harus kulakukan saat ini adalah berussaha merebut kembali rumahku, sembari menentukan langkah, agar bisa sukses meski tanpa hadirnya seorang suami. "Nak, baik-baik di dalam sini, ya. Bunda janji, akan selalu menyayangi kamu, apapun yang terjadi. Kita berjuang bersama untuk hidup yang lebih baik lagi ya. Sehat-sehat kamu di sini ya, hingga nanti kita dapat berjumpa di dunia ini," ucapku sambil mengelus perut yang masih rata ini. Karena hari masih pagi, kuputuskan untuk rebahan dulu saja, sambil makan sepotong roti dan s**u yang tadi juga kubeli di minimarket bersama alat test kehamilan itu. Sarapan pagi sambil membaca novel di aplikasi menulis kesayanganku, pasti akan menjadi hal yang menyenangkan pagi ini. Apalagi jika tak ada yang mengganggu seperti saat ini. Ternyat sungguh sangat nikmat hidup sendiri itu, hehehehe. Masuk ke beranda, mataku dibuat terbelalak menyaksikan pendapatan para penulis di sana selama sebulan. Sebuah ide terlintas di pikiranku, bagaimana jika aku memcoba menulis di aplikasi itu? Siapa tahu keberuntungan berada di pihakku dan tulisanku banyak di senangi orang, kan uangnya bisaa disimpan untuk tabungan pas melahirkan nanti. Hemmm...apa salahnya mencoba, langsung saja kucoba menulis sebuah novel tentang rumah tangga, karena dari pengamatanku, para penulis yang sudah terkenal itu, cerita yang dibuat ya berhubungan dengan itu. Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku menulis sebuah novel berjudul Sabun Hotel Di Tas Kerja Suamiku. Novel itu bercerita tentang istri yang ternyata suaminya bekerja sebagai g****o diluar, dan dengan cerdiknya sang istri berusaha mengungkap itu semua. Semoga saja cerita yang kubuat bisa masuk kehati para pembaca. Segera ku ketik marathon tiga bab pertama dari ceritaku itu, dan tentu saja langsung ku terbitkan. Kutanamkan keyakinan bahwa ceritaku ini akan banyak yang menyukainya nanti, jado meskipun aku belum punya pengikut sama sekali, tetap saja aku percaya diri. Seperto ucapan bosku dulu, rejeki itu tak akan pernah tertukar, jadi selalu yakin dan berbaik sangkalah pada Allah. Selesai menerbitkan tiga bab itu, lalu kutaruh handphoneku di kasur, aku berniat mandi karena kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Gegas kumandi dan bersiap, kebetulan jarak dari kost ke tempat kerjaku hanya lima belas menit saja, jadi aku tak perlu terburu-buru nanti. Semua sudah siap, aku langsung saja berangkat dan melajukan motorku dengan kecepatan rata-rata. Ternyata enak sekali hidup seperti ini, tak ada yang melaramg, tak ada yang memerintah. Bodohnya aku kenapa tak dari dulu pergi dari p********n suami dan keluarganya itu. Biasanya saat sampai di tempat kerja, badanku sudah terasa capek dan ngantuk. Capek karena banyaknya pekerjaaan, dan ngantuk karena sebelum subuh, ibu mertuaku sudah membangunkanku untuk mulai mencuci dan mengepel rumah. Namun pagi ini, badanku terasa Fresh dan hal itu membuatku makin semangat bekerja. Di sini aku bekerja bersama dengan enam orang temanku, dua laki-laki dan empat perempuan. Pukul setengah sepuluh, kami semua telah usai membersihkan toko dan semau barang dagangan, waktunya beristirahat sebentar. Karena kebetulan belum ada pembeli yang datang. Waktu luang ini kupergunakan untuk mengecek handphoneku, melihat aplikasi menulis dan melihat reaksi para pembaca. Tadi sebelum berangkat, kusempatkan sebentar untuk promosi di beberapa grup kepenulisan di sss. Berharap akan banyak pembaca yang mau berlangganan dan mengikuti akunku. Betapa senangnya aku, saat melihat jumlah pengikutku kini sebanyak tiga ratus orang, padahal tadi pagi hanya ada tiga orang saja. Dan aku pun terkaget -kaget melihat jumlah subscriber/pelanggan ceritaku itu, sudah ada lebih dari tiga ratus. Subhanallah sungguh sangat bahagia hatiku, dan tentu saja syukur seketika aku panjatkan kepada Allah. Di tiga bab yang kutulis tadi pagi itu, ratusan komen memintaku untuk melanjutkan ceritaku ini secepatnya, hal ini membuatku sangat bersemangat sekali untuk menulis, namun sayang statusku kini adalah seorang pegawai, jadi tak boleh terus-terusan memegang handphone. Jadi baru saat istirahat nanti, aku akan menulis lagi bab berikutnya. Semoga nanti saat istirahat yang berlangganan ceritaku semakin banyak. Pembeli mulai berdatangan, karena memang toko tempat bekerjaku ini terkenal murahnya, jadi pembeli pun akan datang silih berganti hingga waktu tutup pukul tujuh nanti malam. Kukantongi kembali handphoneku, dan kini aku mulai siap melayani pelanggan, sambil memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan kembali rumahku secepatnya! Ada ide?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD